Dinilai Figur Penyejuk dan Pemersatu, Kiai Asep Dukung Kiai Nurul Huda Rois Aam PBNU
Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) sekaligus Persatuan Guru NU (Pergunu), Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim (Kiai Asep), berharap Muktamar ke-35 NU bisa mengembalikan kejayaan NU melalui ulama yang representatif untuk disebut sebagai penyejuk, pemersatu, dan penopang keberadaan bangsa Indonesia.
“Menurut pengamatan kami, beliau adalah KH Nurul Huda Jazuli dari Ploso, Kediri. Beliau layak dipilih sebagai anggota AHWA dan ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU,” kata Kiai Asep kepada wartawan di aula JKSN, Selasa (25/8/2026) malam.
Selain itu, Kiai Asep juga meyakini bahwa pemerintah tidak akan cawe-cawe atau intervensi dalam ajang Muktamar ke-35 NU.
Putra salah satu Muassis NU, KH Abdul Chalim, ini memastikan Presiden RI Prabowo Subianto tidak akan melakukan intervensi terhadap pelaksanaan Muktamar ke-35 di Ponpes Tambakberas Jombang, 27–31 Agustus 2026.
Kiai Asep mengatakan keyakinan tersebut didasarkan pada sikap Presiden yang, menurut dia, meminta agar namanya tidak dibawa-bawa dalam proses muktamar. “Pak Prabowo mengatakan, jangan ikut-ikutkan saya, jangan membawa-bawa nama saya,” kata Kiai Asep yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah ini.
Ia menilai berbagai kabar mengenai dugaan intervensi pemerintah dalam pelaksanaan muktamar sebaiknya tidak langsung dipercaya, karena bisa saja merupakan klaim dari pihak-pihak tertentu.
Karena itu, ia berharap seluruh pihak dapat menjaga suasana tetap tenang dan memberikan ruang kepada mekanisme organisasi untuk berjalan sesuai aturan yang berlaku.
Kiai Asep juga menekankan pentingnya Muktamar ke-35 NU menjadi momentum memperkuat kembali peran NU dalam kehidupan kebangsaan. Menurut dia, NU memiliki tanggung jawab besar untuk ikut mendorong terwujudnya Indonesia yang maju, adil, dan makmur. “NU untuk maju, adil, dan makmur. Pemerintah juga untuk maju, adil, dan makmur. Pasti sinergis,” tegasnya.
Menurut dia, sinergi tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan berbagai bidang, termasuk pendidikan, keilmuan, ekonomi, kewirausahaan, serta pengembangan sumber daya manusia.
Ia berharap NU mampu melahirkan ulama dan ilmuwan yang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus akhlak, sehingga dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat dan menjadi rujukan dalam pembangunan bangsa.
Selain itu, NU dinilai perlu mendorong lahirnya pelaku usaha dan profesional yang memiliki kepedulian sosial serta mampu ikut memperluas kesejahteraan masyarakat.
Kiai Asep mengatakan kepemimpinan NU ke depan perlu mengedepankan akhlak, keilmuan, dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah organisasi. “Ulama itu yang paling penting akhlak. Ilmu pasti, tetapi akhlak,” katanya.
Ia berharap seluruh peserta muktamar mengedepankan persatuan dan kepentingan NU serta bangsa Indonesia, sehingga proses Muktamar ke-35 dapat berlangsung tertib, damai, dan menghasilkan kepemimpinan serta program yang membawa manfaat bagi masyarakat. “Yang diperjuangkan oleh NU itu adalah al-haq. Saat ini harusnya untuk Indonesia yang maju, adil, dan makmur,” pungkas Kiai Asep. (tok/kun)
Link informasi : Sumber