Cabai Petani Madiun Terserang Virus Gemini, Panen Anjlok hingga 80 Persen
Ringkasan Berita:
- Tanaman cabai rawit petani di Tambakmas, Madiun, terserang virus gemini yang ditularkan kutu kebul.
- Sekitar 2.800 batang cabai milik seorang petani terdampak serangan penyakit tersebut.
- Hasil panen turun dari 40-50 kilogram menjadi hanya 4-10 kilogram setiap kali petik.
- Harga cabai di tingkat tengkulak juga turun dari sekitar Rp40 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram.
Madiun (beritajatim.com) – Tanaman cabai rawit milik petani di Desa Tambakmas, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, terserang virus gemini. Penyakit yang ditularkan melalui kutu kebul tersebut membuat pertumbuhan tanaman terganggu hingga berdampak pada penurunan hasil panen secara drastis.
Salah satu petani yang terdampak adalah Simun (60). Sekitar 2.800 batang cabai rawit yang ditanamnya terserang penyakit tersebut. Tanaman menunjukkan gejala berupa daun melengkung dan keriting, kemudian menguning hingga kondisi tanaman semakin memburuk.
“Daunnya mulai keriting, melengkung, kemudian menguning. Kalau sudah seperti itu, pertumbuhan cabainya terganggu,” kata Simun, Rabu (26/8/2026).
Menurut Simun, serangan virus gemini membuat tanaman cabai tumbuh kerdil. Buah cabai juga tidak berkembang secara normal sehingga produktivitas tanaman turun cukup tajam.
Dalam kondisi normal, lahan yang ditanami sekitar 2.800 batang cabai mampu menghasilkan sekitar 40 hingga 50 kilogram cabai setiap kali petik. Namun, setelah terserang virus gemini, hasil panen Simun hanya berkisar 4 hingga 10 kilogram sekali petik.
“Biasanya sekali petik bisa 40 sampai 50 kilogram. Sekarang paling banyak sekitar 10 kilogram, bahkan pernah hanya dapat 4 kilogram,” ujarnya.
Simun mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan serangan penyakit tersebut. Salah satunya dengan menyemprotkan insektisida dan pestisida secara rutin.
Penyemprotan dilakukan sejak tanaman berusia sekitar 15 hari dengan interval lima hingga tujuh hari sekali. Namun, upaya tersebut belum mampu menghentikan serangan secara maksimal.
“Sudah rutin disemprot, mulai umur sekitar 15 hari. Lima sampai tujuh hari sekali disemprot. Tapi daun keriting masih muncul,” ungkapnya.
Serangan penyakit tersebut membuat biaya perawatan tanaman menjadi semakin berat. Petani tetap harus mengeluarkan biaya untuk pembelian obat-obatan, tenaga kerja, dan operasional, sementara hasil panen justru mengalami penurunan signifikan.
Kerugian Simun semakin besar karena harga cabai rawit di tingkat tengkulak juga ikut turun. Jika sebelumnya cabai bisa dijual sekitar Rp40 ribu per kilogram, kini harganya hanya berkisar Rp25 ribu per kilogram.
“Sekarang harganya sekitar Rp25 ribu. Dulu bisa sampai Rp40 ribu per kilogram,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, penurunan produksi dan harga jual terjadi secara bersamaan. Dari sisi produksi, hasil panen yang sebelumnya mencapai 40-50 kilogram sekali petik kini hanya 4-10 kilogram. Sementara harga jual turun sekitar Rp15 ribu per kilogram dibandingkan sebelumnya.
Meski hasil panen turun dan harga cabai melemah, Simun memilih tetap merawat tanaman yang masih bertahan hingga masa panen berakhir. Ia juga mulai mempersiapkan penanaman cabai untuk siklus berikutnya.
Simun berharap pergantian musim, terutama ketika memasuki musim penghujan, dapat membantu mengurangi serangan penyakit. Ia berharap produktivitas tanaman cabai pada musim tanam berikutnya kembali meningkat sehingga biaya produksi yang dikeluarkan petani bisa lebih sebanding dengan hasil panen. [rbr/beq]
Link informasi : Sumber