DPRD Surabaya Minta Proyek Drainase Tak Hanya Kejar Target, Pastikan Banjir Berkurang
Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi C DPRD Surabaya Juliana Eva Wati meminta Pemkot Surabaya memastikan percepatan proyek drainase dan rumah pompa berdampak langsung terhadap pengurangan banjir. Dia juga meminta penyelesaian lebih dari 100 titik proyek infrastruktur tersebut tidak hanya berorientasi pada target waktu, tetapi terintegrasi dalam satu sistem pengendalian banjir.
“Yang kami harapkan bukan hanya proyek selesai sesuai target, tetapi setelah selesai warga benar-benar merasakan dampaknya. Jangan sampai saluran sudah dibangun, rumah pompa sudah ada, tetapi masih muncul titik banjir karena konektivitas sistemnya belum optimal,” kata Juliana, Rabu (26/8/2026).
Juliana mengatakan pembangunan saluran, box culvert, dan rumah pompa harus diikuti evaluasi secara berkala setelah proyek selesai. Evaluasi tersebut diperlukan untuk melihat apakah pembangunan benar-benar mengurangi genangan atau justru memindahkan titik banjir ke kawasan lain.
“Setelah pembangunan selesai, wajib ada evaluasi berkala terhadap hasil pembangunan drainase. Kalau kemudian terjadi pemindahan genangan dari satu titik ke titik lain, itu harus menjadi catatan khusus bagi DSDABM untuk segera dievaluasi dan dicari solusinya,” ujarnya.
Menurut dia, Pemkot perlu memiliki data yang jelas mengenai kondisi banjir sebelum dan sesudah pembangunan. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah kapasitas saluran, rumah pompa maupun konektivitas antarjaringan sudah bekerja sesuai perencanaan.
“Jangan sampai kita hanya melihat proyeknya selesai secara fisik. Yang paling penting adalah fungsi infrastrukturnya, apakah genangan berkurang, air lebih cepat surut, atau justru muncul persoalan baru di tempat lain,” katanya.
Juliana juga memahami pengerjaan infrastruktur di banyak ruas jalan dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Namun, kondisi tersebut harus diimbangi dengan pengaturan proyek yang baik, keselamatan pengguna jalan, serta komunikasi kepada warga terdampak.
“Kalau pembangunan memang harus dilakukan sekarang, masyarakat tentu perlu diberi pemahaman. Tetapi kontraktor dan pelaksana juga harus memastikan pekerjaan dilakukan secara tertib, aman, dan tidak meninggalkan persoalan baru setelah proyek selesai,” katanya.
Juliana berharap pembangunan drainase Surabaya diarahkan pada sistem yang mampu menghadapi perubahan pola cuaca dan perkembangan kota. Evaluasi berkala, menurut dia, menjadi bagian penting agar setiap anggaran yang dikeluarkan menghasilkan infrastruktur yang benar-benar berfungsi bagi warga.
“Surabaya harus membangun sistem drainase yang visioner. Jangan hanya berpikir bagaimana mengatasi hujan tahun ini, tetapi bagaimana infrastruktur yang dibangun sekarang mampu menghadapi perkembangan kota dan perubahan pola cuaca ke depan,” pungkas Juliana.[asg/aje]
Link informasi : Sumber