Manfaatkan Limbah, Mahasiswa UB Malang Ciptakan WHEACOAT Pelapis Alami Buah di Kota Batu

0

Malang (beritajatim.com) – Sekelompok mahasiswa Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Brawijaya (UB) berhasil menciptakan WHEACOAT. Produk ini adalah pelapis pangan alami (edible coating) berbasis kitosan yang memanfaatkan residu fraksi lemak dari cairan whey segar sisa pengolahan keju mozzarella.

Limbah cair whey dari proses produksi keju kerap menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan hidup apabila langsung dibuang tanpa pengolahan, mengingat tingginya kandungan bahan organik dan volumenya yang melimpah. Kendati demikian, cairan sisa tersebut rupanya masih menyimpan komponen lemak susu bernilai guna tinggi.

​Melihat celah tersebut, pelaksana program PMM sekaligus mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB, Nazwa Aulia, berinisiatif memisahkan fraksi lemak memakai unit separasi khusus yang dipasang terintegrasi pada instalasi pembuangan whey segar di area manufaktur.

​”Saya melihat potensi fraksi lemak ini karena dapat dimanfaatkan sebagai agen hidrofobik yang menahan penguapan air dari permukaan bahan pangan,” ujar Nazwa, Sabtu (29/8/2026).

​Pada racikan WHEACOAT, senyawa kitosan bertin Edit tanggal dan jam dak selaku bahan dasar pembentuk lapisan pelindung, sementara molekul lemak whey berperan menekan laju penguapan kadar air secara optimal. Fraksi lemak yang telah dipisahkan lewat metode pemanasan dipadukan ke dalam larutan kitosan dan akuades, kemudian ditambahkan asam asetat encer serta surfaktan Tween 80 demi memastikan homogenitas campuran.

​Cairan pelindung alami ini dikemas praktis dalam botol semprot agar mudah disemprotkan tipis-tipis hingga membentuk lapisan kering pelindung pada komoditas pascapanen..​Uji coba efektivitas pelapis dilakukan terhadap komoditas kentang selama masa simpan 14 hari dengan mengomparasikan formula kontrol tanpa lemak dan tiga variasi konsentrasi lemak whey (0,5 persen, 1 persen, serta 1,5 persen).

“Hasil eksperimen menunjukkan bahwa varian konsentrasi 1,5 persen mampu menekan susut bobot hingga menyentuh angka 1,81 persen, lebih unggul dibandingkan perlakuan kontrol yang susut 1,96 persen,” kata Nazwa menambahkan.

​Inovasi aplikatif ini secara resmi diserahkan kepada pengurus Koperasi Margo Makmur Mandiri di kawasan Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada momentum penutupan program PMM, Minggu (17/8/2026).

​Terobosan ramah lingkungan ini disambut antusias oleh kalangan pelaku usaha lokal. Staf Administrasi Koperasi Margo Makmur Mandiri, Takul, menilai produk tersebut memiliki keunggulan keamanan pangan yang jauh lebih baik dibandingkan pelapis konvensional.

​”Jadi ini bisa menggantikan pelapis lilin yang biasanya dipakai pada buah ya? Bedanya yang ini aman kalau ikut termakan,” tutur Takul mengapresiasi.

​Sebagai informasi, program pengabdian masyarakat yang didampingi langsung oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Dr.nat.techn. Elok Waziiroh, S.TP., M.Si. tersebut juga membekali mitra dengan poster edukatif panduan aplikasi produk guna menunjang keberlanjutan pemanfaatan teknologi di tingkat lokal. (dan/ted)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.