Untag Surabaya Kurangi 8.400 Sampah Plastik Lewat Tumbler Day PKKMB 2026
Surabaya (beritajatim.com) – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mencatat pengurangan 8.400 sampah plastik selama masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026.
Penurunan sampah plastik ini merupakan hasil dari penerapan aturan wajib membawa botol minum pribadi atau tumbler bagi mahasiswa baru.
“Kami menyemarakkan Tumbler Day dengan meminta semua mahasiswa baru membawa tumbler. Hasilnya kita sudah mengurangi 8.400 sampah plastik,” kata Ketua Pelaksana PKKMB Untag, Yusrida Muflihah, Sabtu (29/8/2026).
Panitia juga merancang materi pembekalan agar mahasiswa memiliki wawasan lingkungan dan pendidikan internasional. Mereka mendatangkan aktivis lingkungan Melati Wijsen serta tokoh muda berprestasi Xaviera Putri.
“Xaviera memaparkan kesehariannya berkuliah di luar negeri, meraih beasiswa, dan prestasi. Ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk menggali potensi diri,” ucap Yusrida.
Di samping itu, Untag Surabaya juga menjadikan program non-akademik sebagai sarana pembentukan karakter. Kampus Merah Putih ini sengaja menyiapkan puluhan wadah organisasi agar mahasiswa terlatih menghadapi persaingan dunia kerja.
“Pendidikan karakter itu terbentuk melalui kegiatan non-akademik. Mahasiswa harus berani mencoba, bertanya, dan berpikir kritis selama menempuh studi,” ujar Rektor Untag Surabaya, Harjo Seputro.
Selain aturan organisasi, Harjo membeberkan kunci sukses kampusnya mempertahankan tren positif jumlah pendaftar setiap tahunnya. Di tahun akademik 2026 ini, Untag Surabaya menerima 3.160 mahasiswa baru.
Ia menyebut, pelayanan optimal menjadi senjata andalan di tengah persaingan perguruan tinggi swasta.
“Dari survei kami, pelayanan adalah kebutuhan pokok. Mahasiswa aktif maupun lulusan merasa puas sehingga mereka merekomendasikan kampus ini kepada keluarga dan teman-temannya,” ungkap Harjo.
Sistem perkuliahan di Untag Surabaya juga beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Kampus ini menerapkan kombinasi antara kelas berbasis digital dan metode konvensional menggunakan papan tulis.
“Era digital kita butuhkan karena tantangan masa depan. Namun, cara konvensional tetap berjalan khusus untuk mendalami ilmu dasar seperti matematika,” tandas Harjo. [ipl/ted]
Link informasi : Sumber