Bukan Peserta Muktamar Tapi Ikut Merasakan Berkahnya: Kisah Tukang Ojek Tambakberas Jombang
Ringkasan Berita:
- Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar, termasuk pengemudi ojek yang mendapat peningkatan pendapatan selama acara berlangsung.
- Rofiq, tukang ojek asal Megaluh Jombang, merasakan berkah Muktamar dengan penghasilan naik hingga Rp300 ribu-Rp400 ribu per hari dari layanan antar peserta dan penggembira.
- Puluhan pengemudi ojek di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum menerapkan sistem antrean untuk melayani ribuan tamu Muktamar secara tertib sekaligus membuka peluang ekonomi lokal.
Jombang (beritajatim.com) – Matahari siang itu terasa menyengat, membakar aspal di sepanjang Jalan KH Wahab Chasbullah, Jombang. Deru kendaraan bersahutan, lalu lintas padat oleh aktivitas warga dan para tamu yang hilir mudik menuju kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Jalan yang menjadi jalur penghubung Jombang dengan sejumlah daerah seperti Lamongan dan Tuban itu mendadak semakin ramai seiring berlangsungnya gelaran besar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Di antara riuh kendaraan dan deretan pedagang yang memenuhi tepian jalan, tampak seorang pria duduk santai di atas sepeda motornya. Pandangannya sesekali menyapu jalan, menunggu seseorang yang membutuhkan jasanya. Ia adalah Rofiq, seorang pengemudi ojek asal Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang.
Bagi sebagian orang, Muktamar NU adalah ruang untuk bermusyawarah dan memperkuat tali silaturahmi warga Nahdliyin. Namun bagi Rofiq dan para pengemudi ojek lainnya, momentum besar itu juga membawa harapan baru: tambahan penghasilan dari ramainya pergerakan ribuan peserta dan pengunjung yang datang ke Tambakberas.
Sejak Muktamar berlangsung, Rofiq memilih meninggalkan sejenak pekerjaan rutinnya sebagai kurir offline. Ia mencoba mengambil peluang dengan melayani antar-jemput peserta resmi muktamar maupun para penggembira yang membutuhkan transportasi cepat di tengah padatnya kawasan pesantren.
Pada Sabtu (29/8/2026), ia mangkal di sekitar Kampus Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha), lokasi yang menjadi Tower 5 untuk penginapan peserta sekaligus tempat berlangsungnya sidang komisi Muktamar. “Adanya Muktamar ini membantu teman-teman ojek untuk mengangkut dan mempercepat arus perjalanan mereka,” ujar Rofiq.
Peningkatan aktivitas selama Muktamar benar-benar terasa bagi perekonomiannya. Jika pada hari biasa ia hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu sebagai kurir offline, saat Muktamar berlangsung penghasilannya bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat.
“Kadang bisa Rp300 ribu, Rp400 ribu dalam sehari. Kalau tidak ada Muktamar ya sekitar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” tuturnya.
Dalam sehari, Rofiq mampu mengantarkan sekitar 10 hingga 15 penumpang. Jarak tempuhnya pun beragam, mulai dari perjalanan singkat hingga belasan kilometer. Tarif yang dikenakan menyesuaikan jarak, berkisar antara Rp10 ribu, Rp15 ribu, hingga Rp50 ribu.
Ada pula penumpang yang memberikan ongkos secara sukarela. Namun, bagi mereka yang ingin mengetahui biaya perjalanan, Rofiq akan menjelaskan tarif sesuai tujuan yang hendak dicapai.
Selama beberapa hari melayani tamu Muktamar, sejumlah lokasi menjadi tujuan favorit para penumpang. Di antaranya arena persidangan hingga kawasan wisata religi Tebuireng.
Meski membawa keuntungan, pekerjaan sebagai pengemudi ojek di tengah keramaian Muktamar juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya ketika penumpang belum mengetahui lokasi tujuan secara pasti. “Kadang susah-susah gampang, ada yang tidak tahu alamatnya, akhirnya kita harus mencari-cari lokasi,” katanya.
Agar pelayanan tetap berjalan tertib, Rofiq bersama para pengemudi ojek lainnya sepakat menerapkan sistem antrean. Mereka memilih berbagi kesempatan daripada berebut penumpang.
“Antreannya saya buat sistem antrean, biar tidak rebutan,” jelasnya.

Di kawasan tersebut, terdapat sekitar 50 pengemudi ojek yang tergabung dalam kelompok tersebut. Keanggotaannya pun terbuka bagi siapa saja yang ingin ikut membantu mengantar para tamu selama gelaran Muktamar berlangsung.
Bagi Rofiq, kesempatan ini bukan sekadar tentang mengejar pendapatan, tetapi juga menjadi bagian dari suasana besar yang sedang terjadi di kampung halamannya. “Ya, sedikit menambah rezeki, tambahan ekonomi,” ucapnya.
Di balik panggung besar Muktamar ke-35 NU yang dipenuhi para tokoh dan peserta dari berbagai daerah, ada kisah-kisah kecil yang ikut tumbuh. Seperti Rofiq, yang mengandalkan roda motornya untuk mengantar tamu dari satu tempat ke tempat lain.
Sebuah gambaran bahwa perhelatan besar keagamaan tidak hanya menjadi ruang bagi para peserta untuk bermusyawarah, tetapi juga menghadirkan denyut ekonomi baru bagi masyarakat sekitar yang ikut bergerak, melayani, dan merasakan berkah dari kedatangan ribuan orang ke Jombang. [suf]
Link informasi : Sumber