Dari Jualan Es Lilin, Muhammad Hasim Meniti Karir Sebagai Pengacara dan Pengusaha
Ringkasan Berita:
- Muhammad Hasim mulai berjualan es lilin sejak kelas 3 SD meski sempat ditentang ibunya karena berasal dari keluarga kiai.
- Pengalaman berdagang sejak kecil membentuk ketekunan dan naluri bisnis yang kemudian membawanya menjadi pengusaha.
- Hasim mulai berkarier sebagai advokat sekitar 2015–2016 dan menangani perkara di berbagai daerah di Indonesia.
- Kini ia menjalankan sejumlah usaha di Ponorogo sekaligus mendorong pemerintahan daerah membuka lembaran baru.
Ponorogo (beritajatim.com) – Perjalanan Muhammad Hasim menuju dunia profesional tidak dimulai dari ruang kantor maupun meja pengacara. Pria yang akrab disapa Hasim itu justru mengawali pengalaman mencari uang sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dengan berjualan es lilin.
Pengalaman sederhana tersebut menjadi salah satu fondasi yang membentuk cara pandangnya dalam menjalani kehidupan. Bagi Hasim, berbagai persoalan yang ditemui sejak kecil justru menempa seseorang menjadi lebih kuat, baik secara mental maupun fisik.
Hasim lahir dari keluarga yang dekat dengan lingkungan pendidikan agama. Ayahnya, Mbah Kyai Imam Mahmudi, merupakan tokoh agama yang dikenal masyarakat di kawasan Desa Bajang, Kecamatan Mlarak, Ponorogo. Sang ayah pernah mengajar di sejumlah lembaga pendidikan agama.
Pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya tidak hanya mengenai ilmu agama. Hasim juga mendapatkan pelajaran tentang hidup sederhana, sabar, tekun, serta menghargai siapa pun.
Nilai tersebut mulai diuji ketika Hasim duduk di kelas 3 SD. Saat itu ia mulai berusaha mencari penghasilan sendiri dengan berjualan es lilin. Keinginannya berdagang sempat ditolak oleh sang ibu karena keluarga mereka dikenal sebagai keluarga kiai.
Ada anggapan bahwa anak kiai kurang lazim jika berjualan keliling. Namun, sang ayah justru memberikan dukungan. Hasim masih mengingat pesan ayahnya yang membuatnya berani tetap menjalani aktivitas tersebut.
“Sing penting ora maling, sing penting ora nyolong ya lakoni ae,” kenang Hasim terkait pesan ayahnya, Senin (31/8/2026).
Pengalaman berdagang kemudian terus berlanjut dalam perjalanan masa kecilnya. Ketika tinggal di Papua, Hasim juga pernah mencoba menjual berbagai barang, mulai dari es hingga ikat pinggang.
Dunia usaha perlahan menjadi bagian dari kehidupannya. Setelah menikah dengan Estin, perempuan asal Lampung, Hasim kemudian tinggal di Lampung dan lebih banyak mencurahkan perhatian untuk mengembangkan usaha. Ia bahkan dipercaya sebuah perusahaan untuk menduduki posisi direktur.
Selama berada di Lampung, Hasim cukup lama berkecimpung di dunia usaha. Pengalaman tersebut semakin mengasah naluri bisnis yang menurutnya telah tumbuh sejak kecil.
Sekitar 2012–2013, Hasim memutuskan kembali ke Ponorogo untuk menemani sang ayah. Kepulangannya menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidupnya.
Hasim mengaku berada di sisi Mbah Kyai Imam Mahmudi ketika sang ayah mengembuskan napas terakhir. Sebelum meninggal, sang ayah meninggalkan pesan yang hingga kini terus dipegangnya.
“Le, dadi wong ki sing sabar, sing tekun. Dadi wong ki kudu jujur,” tutur Hasim menirukan pesan sang ayah.
Pesan tersebut kemudian menjadi prinsip yang dibawa Hasim ketika mulai menekuni profesi sebagai pengacara. Baginya, setiap persoalan hukum harus dihadapi dengan kesabaran, ketekunan, kejujuran, serta analisa yang matang.
Hasim mulai menjalani profesi sebagai advokat sekitar 2015–2016. Ia tidak hanya menangani perkara di Ponorogo, tetapi juga memperluas jaringan hingga berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Hasim, seorang pengacara perlu berani memperluas jaringan untuk mendapatkan pengalaman sekaligus menangani perkara dengan skala yang lebih besar. Dalam perjalanan profesinya, ia pernah menangani perkara di Lampung, Kalimantan, hingga Makassar.
Hasim juga mengaku pernah terlibat dalam pendampingan sejumlah perkara yang berkaitan dengan perusahaan besar dan tokoh tertentu. Pengalaman lintas daerah tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan kariernya sebagai advokat.
Salah satu perkara yang pernah dikawalnya adalah kontestasi Pilkada Ponorogo yang melibatkan Sugiri Sancoko. Hasim menyebut pendampingan dilakukan sejak proses sengketa di Mahkamah Konstitusi hingga persoalan hukum yang kemudian menjerat Sugiri Sancoko dalam proses penyidikan dan putusan.
“Dari mulai perkara di MK sampai terakhir itu, kita mengawal,” ungkapnya.
Menjadi pengacara ternyata tidak membuat Hasim meninggalkan dunia usaha. Naluri bisnis yang terbentuk sejak kecil tetap dijalankannya berdampingan dengan profesi sebagai advokat.
Saat ini, Hasim menjalankan sejumlah usaha di Ponorogo. Di antaranya perusahaan es kristal, SPBU, serta perusahaan air minum dalam kemasan dengan merek Air Fresh.
Di tengah kesibukan sebagai pengacara dan pengusaha, keluarga tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Bersama sang istri, Estin, Hasim telah dikaruniai empat orang anak.
Nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil, terutama kesederhanaan, kesabaran, ketekunan, dan kejujuran, masih berusaha dipertahankannya hingga sekarang.
Pengalaman panjang dalam dunia usaha dan hukum kemudian membuat Hasim memiliki pandangan tersendiri terhadap kondisi Ponorogo. Ia menilai Bumi Reog perlu segera membuka lembaran baru setelah berbagai persoalan yang sempat terjadi.
Menurut Hasim, roda pemerintahan dan pembangunan tidak boleh terus dibayangi rasa takut. Pejabat publik juga perlu lebih terbuka kepada masyarakat.
“Kalau bisa kita buka lembaran baru,” katanya.
Keterbukaan, menurut Hasim, menjadi salah satu kunci agar pembangunan tidak berjalan tersendat. Masyarakat memiliki hak mendapatkan informasi dan pelayanan yang baik dari pemerintah. Karena itu, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat harus terus dibangun.
Hasim juga menyampaikan dukungannya terhadap kepemimpinan Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita. Ia berharap pemerintahan mampu merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa membangun sekat.
Bagi Hasim, seorang kepala daerah harus mampu menjadi pemimpin bagi semua kelompok masyarakat Ponorogo.
“Menjadi ibu satu, ibu kita semua masyarakat Ponorogo,” ungkapnya.
Sebagai orang yang berkecimpung di bidang hukum, Hasim menyatakan siap memberikan masukan jika dibutuhkan pemerintah. Ia menilai setiap kebijakan perlu didasarkan pada aturan dan analisa hukum yang matang agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Menurutnya, pendampingan dan masukan hukum dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah kesalahan dalam pengambilan keputusan.
“Semampu kami akan kami beri saran-saran dengan analisa kontekstual yang tajam,” tegasnya.
Hasim berharap setiap kebijakan pemerintah benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa seorang pemimpin pasti akan menghadapi kritik dan perbedaan pandangan. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan dan demokrasi.
“Kami siap bantu Bu Lisdyarita untuk Ponorogo yang lebih hebat, maju dan lebih mantap,” pungkasnya. [end/beq]
Link informasi : Sumber