Makam Bung Karno Blitar Buka 24 Jam, Kantong Pengemudi Becak Makin Tebal
Blitar (beritajatim.com) – Kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar membuka akses kawasan Makam Bung Karno (MBK) selama 24 jam non-stop mulai membuahkan hasil manis. Kebijakan yang diresmikan pertengahan Agustus 2026 lalu ini tidak hanya meramaikan aktivitas wisata religi malam hari, tetapi juga mendongkrak pendapatan para pengemudi becak wisata di Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP).
Ketua Paguyuban Becak Wisata, Beni Sugito, menyatakan respons para anggotanya sangat positif terhadap skema anyar ini. Menurutnya, operasional MBK tanpa batas waktu memberikan fleksibilitas jam kerja sekaligus membuka keran rezeki yang lebih lebar bagi pengayuh becak.
“Tanggapan teman-teman sangat positif. Sambil menunggu rombongan peziarah yang datang malam hari, teman-teman bisa nyangkruk ngopi di PIPP. Jadi peluang dapat penumpang jauh lebih terbuka dibanding sebelumnya,” ujar Beni saat ditemui di kawasan PIPP Blitar pada Kamis (3/9/2026).
Beni menjelaskan, latar belakang anggota paguyuban cukup beragam, mulai dari usia muda hingga lanjut usia. Kehadiran akses 24 jam ini dinilai menjadi angin segar, khususnya bagi pengemudi muda yang memiliki mata pencaharian lain pada pagi hingga siang hari.
“Banyak anggota yang muda-muda itu siangnya punya pekerjaan lain. Begitu malam MBK tetap buka, mereka bisa sambilan narik becak. Hasilnya lumayan sekali buat tambah-tambah kebutuhan harian,” terangnya.
Ia menambahkan, potensi peziarah malam sebenarnya sudah terlihat sejak dulu. Namun, intensitasnya terbatas karena wisatawan luar daerah khawatir tertahan jam operasional. Dengan berlakunya status 24 jam, arus peziarah dari luar kota diprediksi akan terus melonjak.
Dampak ekonomi ini dirasakan langsung oleh Yunan Aditya, salah satu pengemudi becak wisata. Ia mengaku mengantongi kenaikan pendapatan harian yang cukup signifikan sejak kebijakan tersebut bergulir.
Jika sebelumnya Yunan rata-rata hanya membawa pulang uang Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari, kini omzet harian yang diraupnya bisa mencapai Rp150.000.
“Akhir-akhir ini kalau malam ramai. Saya bisa dapat Rp100.000 sampai Rp150.000 sehari. Lumayan sekali buat beli bensin dan uang ngopi,” puji Yunan.
Kendati menyambut baik peningkatan pendapatan tersebut, para pengemudi becak wisata menyisipkan sejumlah masukan konstruktif kepada Pemkot Blitar demi menjamin kenyamanan dan ketertiban pengunjung.
Yunan berharap Pemkot Blitar dapat memfasilitasi program studi banding ke daerah lain yang telah sukses mengelola destinasi wisata 24 jam. Langkah ini penting agar para pengemudi becak memiliki wawasan pengelolaan alur penumpang yang rapi.
“Kami ingin diajak studi banding ke tempat wisata daerah lain yang buka 24 jam. Supaya kami paham cara menata antrean agar tidak umpel-umpelan (berdesakan) saat pengunjung membludak di malam hari,” ungkap Yunan.
Sementara itu, Beni menyoroti masalah infrastruktur pendukung, terutama penerangan jalan di titik kumpul dan antrean becak PIPP menuju Makam Bung Karno.
“Kami mohon pemerintah menambah lampu penerangan di bawah halte tempat antrean becak. Saat ini kondisinya minim penerangan dan agak gelap. Kami khawatir kalau pas ramai justru memicu hal-hal yang tidak kondusif,” pungkas Beni. (owi/aje)
Link informasi : Sumber