Belajar dari Tragedi Sampurna: Pendekatan ‘One Health’ Mendesak untuk Deteksi Dini Risiko Kesehatan

0

Ringkasan Berita

* Tragedi kematian orangutan Kalimantan bernama Sampurna akibat kegagalan organ dan kekurangan oksigen akut pascapaparan asap karhutla di Ketapang menjadi peringatan keras bagi keselamatan ekosistem secara menyeluruh.

* Kasus ini menandai kematian pertama dari tujuh orangutan yang dievakuasi dan menggarisbawahi perlunya penerapan pendekatan One Health yang diusung oleh drh. Mirjawal, M.M. Melalui integrasi data antara kesehatan satwa, manusia, dan lingkungan, seluruh pihak dapat merespons risiko bencana karhutla lebih cepat seperti lonjakan kasus ISPA pada masyarakat serta membangun sistem surveilans terpadu guna mencegah jatuhnya korban berikutnya.

————————————————————————

Surabaya (beritajatim.com) – Kematian tragis orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Sampurna di Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi alarm keras bahwa bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya memutus rantai kehidupan satwa liar, tetapi juga mengancam kesehatan manusia.

Satwa jantan dewasa tersebut ditemukan lemas tak sadarkan diri di areal perkebunan kelapa sawit pada 30 Agustus 2026. Meski tim BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) telah bergerak cepat memberikan terapi oksigen dan cairan infus, nyawa Sampurna tak tertolong hingga akhirnya mati pada 1 September 2026.

Hasil nekropsi mengonfirmasi adanya perubahan signifikan pada organ vital, terutama paru-paru, akibat penderitaan kekurangan oksigen akut dari paparan asap pekat.

Tragedi ini mencatatkan Sampurna sebagai kematian pertama dari tujuh orangutan yang dievakuasi dalam gelombang karhutla kali ini. Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V sekaligus Calon Ketua Umum PB PDHI, drh. Mirjawal, M.M., menegaskan bahwa peristiwa ini harus dibaca sebagai peringatan dini (sentinel) bagi ancaman kesehatan lingkungan yang lebih luas.

“Paru-paru orangutan dan paru-paru manusia menghadapi asap yang sama. Ketika satwa liar mulai mengalami gangguan pernapasan berat, kita harus membacanya sebagai peringatan bahwa kondisi lingkungan juga dapat mengancam kesehatan masyarakat,” ujar Mirjawal.

Mirjawal menambahkan bahwa paparan asap karhutla yang melumpuhkan aktivitas harian warga, memaksa sekolah digelar secara daring, hingga meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada manusia menunjukkan urgensi penerapan pendekatan One Health. Menurutnya, data kualitas udara, kesehatan manusia, kondisi satwa, dan ekosistem tidak boleh lagi diolah secara terpisah.

“Ketika satwa dan manusia menunjukkan gangguan kesehatan dalam wilayah dan waktu yang sama, datanya harus dibaca secara bersama. Satwa liar tidak dapat menyampaikan bahwa udara yang mereka hirup sudah berbahaya. Kondisi tubuh dan perubahan perilaku merekalah yang berbicara,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Mirjawal mendorong penguatan sistem surveilans terpadu yang melibatkan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta masyarakat. “Kematian Sampurna harus menjadi peringatan bersama. Melindungi kesehatan satwa liar juga berarti menjaga kesehatan ekosistem dan melindungi manusia,” pungkasnya.[rea]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.