Sadarestuwati Imbau Warga Mojokerto Tak Jual Beras Bantuan, Simpan untuk Cadangan Pangan

0

Ringkasan Berita:

  • Anggota Komisi IV DPR RI Sadarestuwati mengimbau penerima bantuan pangan di Mojokerto tidak menjual beras yang diterima dari pemerintah.
  • Beras bantuan diminta disimpan sebagai cadangan pangan keluarga untuk menghadapi kenaikan harga dan ancaman kekeringan.
  • Sadarestuwati menyebut cadangan beras Bulog masih lebih dari 4 juta ton dan dinilai mencukupi kebutuhan masyarakat kurang mampu.
  • Pemerintah juga menyiapkan pupuk dan benih padi untuk membantu petani menjaga produksi di tengah ancaman perubahan cuaca.

Mojokerto (beritajatim.com) — Anggota DPR RI Komisi IV Sadarestuwati mengimbau masyarakat penerima bantuan pangan di Mojokerto tidak menjual beras yang diterima dari pemerintah. Beras bantuan tersebut diminta disimpan dan dimanfaatkan sebagai cadangan pangan keluarga untuk menghadapi ancaman kekeringan dan ketidakpastian kondisi pangan.

“Harga beras SPHP saat ini berada di kisaran Rp12.500 per kilogram, sedangkan beras medium yang sebelumnya sekitar Rp13.500 per kilogram kini dapat mencapai Rp15.000 per kilogram. Bantuan pangan ini kami harapkan benar-benar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bukan untuk dijual,” ungkap Sadarestuwati saat penyaluran bantuan pangan di Balai Desa Dlanggu, Kamis (10/9/2026).

Perempuan yang akrab disapa Mbak Estu itu mengatakan bantuan pangan diberikan kepada masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi, khususnya mereka yang masuk dalam desil 1 hingga 4 berdasarkan data penerima bantuan.

Menurutnya, bantuan pangan tersebut menjadi penting di tengah kenaikan harga beras. Karena itu, penerima bantuan diharapkan memanfaatkan beras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyimpannya sebagai persediaan rumah tangga.

Sadarestuwati juga mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi ancaman kekeringan yang dapat memengaruhi kondisi pangan. Menurut politikus PDI Perjuangan tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Niño dapat berlangsung hingga tahun depan.

“Sehingga kami harapkan bantuan beras ini tidak dijual, tetapi tetap menjadi cadangan pangan bagi keluarga, terutama sebagai persiapan menghadapi kekeringan yang berkepanjangan. Kondisinya sangat berbahaya karena musim tanam bisa molor sampai Januari. Padahal biasanya pada Januari sudah panen raya,” katanya.

Anggota DPR RI asal Jombang itu menilai kekhawatiran terhadap ketersediaan pangan semakin beralasan apabila hujan tidak segera turun. Jika hingga Oktober mendatang belum terjadi hujan, musim tanam dikhawatirkan mundur dan dapat molor hingga Januari.

Selain faktor cuaca, sejumlah bencana alam seperti erupsi gunung juga menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap produksi pertanian. Tidak hanya padi, produksi jagung juga berpotensi terdampak apabila terjadi gagal panen.

Di tengah situasi tersebut, Sadarestuwati memastikan stok beras yang tersedia melalui Bulog masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kurang mampu. Cadangan beras Bulog disebut masih berada di atas 4 juta ton.

“Bulog masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat yang tidak mampu karena masih ada cadangan lebih dari 4 juta ton. Untuk itu, pemerintah bersama DPR RI Komisi IV terus melakukan pembahasan agar bantuan pangan dapat segera disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” tegasnya.

Selain bantuan pangan, pemerintah juga menyiapkan dukungan bagi petani berupa pupuk dan benih padi. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga produksi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan cuaca. [tin/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.