Akademisi Unair Airlangga Pribadi Kusman Meninggal, Deni Wicaksono: Indonesia Kehilangan Sosok Visioner
Surabaya (beritajatim.com) – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Deni Wicaksono menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya akademisi Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D. Dia menyebut kepergian tokoh pemikir politik kebangsaan tersebut menjadi kehilangan besar bagi dunia intelektual Indonesia.
“Kami menyapa kabar kepergian sahabat dengan rasa kehilangan yang sangat berat dan duka mendalam,” ujar Deni Wicaksono saat ditemui di Surabaya, Rabu (9/9/2026).
Deni memiliki kedekatan personal dan intelektual dengan almarhum sejak masa perkuliahan. Keduanya merupakan sesama alumni Universitas Airlangga dan memiliki hubungan persahabatan yang erat.
“Sebagai sahabat sekaligus teman satu almamater di Unair, saya bersaksi bahwa beliau adalah figur yang sangat konsisten memegang teguh nilai-nilai kebenaran,” kata Wakil Ketua DPRD Jawa Timur ini.
Menurut Deni, Airlangga Pribadi meninggalkan kontribusi besar melalui pemikiran dan karya akademiknya. Gagasan almarhum turut memperkaya diskursus mengenai demokrasi, politik, dan kehidupan kebangsaan di Indonesia.
“Universitas Airlangga, masyarakat Jawa Timur, hingga bangsa Indonesia hari ini betul-betul kehilangan sosok yang memiliki idealisme kokoh serta pemikiran tajam yang menembus batas,” ucap Deni.
Semasa hidup, Airlangga Pribadi mengabdi sebagai dosen Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga. Dia dikenal aktif membahas dinamika politik dan kebangsaan melalui penelitian, buku, diskusi publik, maupun tulisan analisis.
“Ketajaman analisis dan integritas akademis beliau sebagai pengajar di FISIP Unair selalu menjadi teladan bagi para mahasiswa dan peneliti muda,” tutur mantan Presiden BEM FISIP Unair ini.
Salah satu tema yang kerap dibahas Airlangga Pribadi adalah pemikiran Bung Karno dan Marhaenisme. Melalui buku Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan Ala Indonesia maupun berbagai forum diskusi, dia berupaya membaca kembali pemikiran Soekarno dalam konteks persoalan masyarakat masa kini.
Airlangga tidak menempatkan Marhaenisme sebatas kisah pertemuan Bung Karno dengan seorang petani bernama Marhaen. Dalam gagasannya, Marhaenisme dipahami sebagai teori perjuangan yang berbicara mengenai pembebasan rakyat, termasuk kelompok masyarakat yang memiliki alat produksi tetapi tetap berada dalam posisi rentan.
Pembacaan tersebut kemudian dia kaitkan dengan perubahan struktur ekonomi dan sosial pada era digital. Kelompok Marhaen modern, misalnya, dapat ditemukan pada pekerja gig, pengemudi ojek daring, pekerja lepas, hingga generasi muda yang terlihat mandiri tetapi menghadapi kerentanan dalam sistem ekonomi digital.
Deni menilai konsistensi Airlangga dalam mengembangkan pemikiran Bung Karno membuat karya-karyanya memiliki relevansi bagi generasi muda. Dia juga menyebut tulisan almarhum tidak berhenti pada kajian sejarah, tetapi berupaya menjadikan gagasan Soekarno sebagai bahan refleksi atas persoalan demokrasi dan keadilan sosial.
“Tulisan-tulisan beliau tentang Bung Karno dan ajaran Marhaenisme bukan hanya ulasan sejarah, melainkan sebuah panduan ideologis yang menyalakan kembali semangat keadilan sosial bagi generasi muda Indonesia,” pungkas Deni. [asg/kun]
Link informasi : Sumber