Beton Jalan Blabakan-Randualas Retak, Kontraktor Berdalih Cuaca Panas

0

Madiun (beritajatim.com) – Keretakan beton dalam proyek rekonstruksi jalan Blabakan-Randualas, Kabupaten Madiun, menjadi sorotan DPRD Komisi D. Pihak kontraktor CV Wijaya Sakti menyebut cuaca panas hingga 43 derajat Celsius menjadi salah satu kendala dalam pengerjaan beton tersebut.

Penjelasan itu disampaikan Fendi, perwakilan pelaksana sekaligus penanggung jawab pekerjaan, saat mendampingi sidak DPRD Komisi D bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Madiun, Kamis (22/10/2026).

Menurut Fendi, suhu tinggi membuat beton lebih cepat mengering sehingga berpotensi memicu keretakan akibat penyusutan. Pihaknya mengaku telah menerapkan sejumlah metode perawatan untuk mengantisipasi persoalan tersebut.

“Kalau retak itu bisa karena penyusutan atau pengeringannya cepat, apalagi kena panas. Kemarin suhu sampai 43 derajat,” ujarnya.

Fendi mengklaim pelaksana telah menggunakan plastik dan geotekstil untuk memperlambat penguapan air. Penyiraman beton juga dilakukan minimal lima kali sehari, mulai pagi hingga malam.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan keretakan yang ditemukan di lapangan. Terlebih, Fendi mengakui pihaknya sempat mempelajari metode perawatan beton yang tepat saat pekerjaan mulai dilaksanakan.

“Kami sudah pakai plastik, di atasnya geotekstil. Ini kami siram air sehari minimal lima kali,” katanya.

Pihak kontraktor juga mengaku sempat merencanakan pengerjaan pada malam hari untuk menghindari paparan panas matahari. Namun, kondisi lokasi yang berada di tengah hutan dan keterbatasan penerangan disebut menjadi kendala.

Alasan cuaca dan kondisi lapangan tersebut tentu perlu diuji melalui evaluasi teknis. Sebab, kontraktor tetap bertanggung jawab memastikan pekerjaan sesuai spesifikasi dan standar mutu yang dipersyaratkan dalam kontrak.

Apalagi, proyek rekonstruksi jalan tersebut memiliki nilai penawaran sekitar Rp 1,7 miliar. Kualitas hasil pekerjaan menjadi hal yang tidak bisa ditawar, mengingat anggaran yang digunakan bersumber dari uang publik.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Madiun Boby Saktia Putra Lubis mengaku telah berkoordinasi dengan kontraktor dan konsultan pengawas setelah menerima laporan mengenai persoalan di lapangan sekitar sepekan sebelumnya.

Boby menyebut pada tahap awal pengerjaan sempat terjadi ketidaksesuaian antara kondisi di lapangan dan redimix atau beton siap pakai yang dikirimkan.

“Pada prinsipnya ini masih dalam proses pelaksanaan. Namun, nanti di akhir kita tetap menerima dengan hasil yang baik,” ujarnya.

Temuan keretakan tersebut menjadi catatan bagi kontraktor maupun Dinas PUPR. Evaluasi diperlukan untuk memastikan penyebab keretakan sekaligus menentukan langkah perbaikan yang harus dilakukan agar kualitas konstruksi sesuai spesifikasi teknis.

Jangan sampai proyek yang seharusnya menghasilkan jalan berkualitas justru menyisakan persoalan mutu setelah dikerjakan. (rbr/ian)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.