Di Bawah Kilatan Pedang Pora, Sebuah Amanah Berpindah

0

Ringkasan Berita:

  • AKBP Yanto Mulyanto resmi menjabat Kapolres Jombang menggantikan AKBP Ardi Kurniawan. Prosesi pisah sambut berlangsung di Mapolres Jombang pada Kamis (1/10/2026).
  • AKBP Ardi Kurniawan menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf kepada seluruh keluarga besar Polres Jombang. Ia berharap soliditas dan pelayanan kepada masyarakat terus ditingkatkan.
  • Tradisi Pedang Pora menjadi bagian dari penyambutan AKBP Yanto Mulyanto sekaligus penanda berakhirnya masa kepemimpinan AKBP Ardi Kurniawan di Polres Jombang.

Jombang (beritajatim.com) – Pagi itu, Kamis, 1 Oktober 2026, suasana di halaman Mapolres Jombang terasa berbeda. Sebuah karpet merah membentang dari gerbang masuk.

Di kedua sisinya, personel Polres Jombang berdiri dalam barisan yang rapi. Seragam dinas lengkap melekat di tubuh mereka. Selempang merah bertuliskan Polres Jombang melintang di bagian depan, menambah kesan khidmat pada prosesi yang berlangsung.

Di tangan para personel itu, pedang terhunus dan diarahkan ke depan. Pedang demi pedang membentuk sebuah lorong. Sebuah pagar kehormatan yang tidak sekadar menjadi bagian dari upacara, tetapi juga menjadi simbol bahwa sebuah perjalanan kepemimpinan telah sampai di persimpangan.

Tradisi itu bernama Pedang Pora. Di bawah bentangan pedang itulah, tongkat komando Kapolres Jombang berpindah tangan. Dari AKBP Ardi Kurniawan kepada AKBP Yanto Mulyanto. Di sisi lain halaman, sosok yang ditunggu akhirnya tiba.

AKBP Yanto Mulyanto datang bersama sang istri. Langkah mereka disambut AKBP Ardi Kurniawan beserta istri. Sebuah rangkaian bunga dikalungkan kepada Kapolres Jombang yang baru. Tidak banyak kata yang diperlukan.

Sebuah pelukan, jabat tangan, bunga, dan tatapan mata seolah telah cukup untuk menggambarkan bahwa ada sesuatu yang sedang berakhir sekaligus sesuatu yang baru saja dimulai. AKBP Yanto kemudian berjalan menuju lorong Pedang Pora.

Karpet merah membentang di hadapannya. Pedang-pedang para personel masih membentuk pagar kehormatan. Namun ketika langkahnya mendekat, pedang-pedang itu diangkat. Ia melangkah perlahan, tetapi pasti.

Di sampingnya, sang istri berjalan mendampingi. Rangkaian bunga melati melingkar di lehernya. Aroma melati berpadu dengan suasana khidmat, seolah menjadi penanda bahwa amanah baru telah resmi berada di pundaknya.

Hari itu bukan sekadar seremoni. Di balik seragam, pedang, karpet merah, dan rangkaian bunga, terdapat perjalanan panjang seorang pejabat yang harus meninggalkan tempat tugasnya sekaligus seorang pejabat baru yang harus memulai pengabdiannya.

Dua Puluh Satu Bulan yang Berakhir

Foto BeritaJatim.com
AKBP Ardi Kurniawan beserta istri naik becak meninggalkan Mapolres Jombang

Sebelum AKBP Yanto menerima tongkat komando, AKBP Ardi Kurniawan telah lebih dahulu menjalankan amanah sebagai Kapolres Jombang selama kurang lebih 21 bulan. Kini waktunya berpamitan.

Dalam rangkaian pisah sambut, suasana haru terasa ketika AKBP Ardi menyampaikan pesan kepada seluruh keluarga besar Polres Jombang. Ia tidak hanya berbicara tentang jabatan. Ia berbicara tentang kebersamaan.

Tentang dedikasi, kinerja, loyalitas, dan kerja sama yang telah mengiringinya selama memimpin.
“Alhamdulillah, berkat kerja keras dan kebersamaan kita semua, situasi kamtibmas di wilayah hukum Polres Jombang dapat terus terjaga dalam keadaan aman dan kondusif,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi semacam catatan penutup dari perjalanan pengabdiannya di Jombang. Menurutnya, berbagai capaian yang berhasil diraih bukanlah hasil kerja seorang diri. Ada personel yang bekerja di lapangan, ada keluarga yang memberikan dukungan, dan ada Bhayangkari yang senantiasa mendampingi para anggota dalam menjalankan tugas.

Karena itu, di hadapan keluarga besar Polres Jombang, AKBP Ardi juga menyampaikan permohonan maaf. Ia menyadari bahwa selama menjalankan amanah, tentu ada kata yang mungkin kurang berkenan, tindakan yang mungkin tidak sempurna, atau keputusan yang mungkin meninggalkan kesan berbeda bagi setiap orang.

“Saya juga manusia biasa yang tentunya tidak luput dari kekurangan. Untuk itu, saya memohon maaf yang setulus-tulusnya kepada seluruh keluarga besar Polres Jombang,” tuturnya.

Perpisahan, rupanya, tidak selalu tentang meninggalkan. Kadang, perpisahan adalah tentang menitipkan harapan. Kepada seluruh personel, AKBP Ardi berpesan agar tetap menjalankan tugas secara profesional dan menjadi polisi yang hadir serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia berharap dedikasi, kinerja, dan loyalitas yang selama ini telah diberikan tidak berhenti bersamanya. Semua itu harus terus dilanjutkan di bawah kepemimpinan Kapolres Jombang yang baru.

“Saya berharap seluruh keluarga besar Polres Jombang dapat memberikan dukungan sepenuh hati dan bekerja bersama-sama untuk menjaga keamanan serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.

Kemudian, sampailah ia pada bagian yang paling personal. AKBP Ardi mengaku bangga pernah menjadi bagian dari keluarga besar Polres Jombang.

Selama berada di kota ini, ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai seorang Kapolres. Ia juga menjadi bagian dari sebuah keluarga besar yang memberinya kebersamaan, dukungan, dan kebaikan.

“Saya bangga pernah menjadi bagian dari keluarga besar Polres Jombang. Terima kasih atas segala kebersamaan, dukungan, dan kebaikan yang telah diberikan kepada saya dan keluarga selama berada di Jombang. Semoga segala kebaikan Bapak-Ibu semua mendapatkan balasan terbaik dari Allah,” ujarnya.

Barangkali, pada saat itulah perpisahan terasa paling nyata. Bukan ketika seorang pejabat meninggalkan kantor. Melainkan ketika ia mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berjalan bersamanya.

Amanah yang Kini Berpindah

Setelah pesan perpisahan itu, perhatian beralih kepada sosok yang akan meneruskan perjalanan.
AKBP Yanto Mulyanto memperkenalkan dirinya kepada seluruh jajaran Polres Jombang.

Perwira lulusan Akademi Kepolisian tahun 2008 itu datang membawa satu kesadaran: jabatan yang diterimanya bukan sekadar posisi, melainkan amanah untuk meneruskan estafet kepemimpinan. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada AKBP Ardi Kurniawan.

“Tentu telah banyak capaian dan kinerja yang telah dilaksanakan oleh beliau selama memimpin Polres Jombang. Untuk itu, kami menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bang Ardi Kurniawan yang telah menjaga situasi kamtibmas di wilayah hukum Polres Jombang sehingga tetap aman dan kondusif,” kata AKBP Yanto.

Tidak ada garis pemisah antara pemimpin lama dan pemimpin baru. Yang ada adalah estafet. Apa yang telah dikerjakan sebelumnya menjadi pijakan untuk melangkah ke depan. Karena itu, AKBP Yanto meminta dukungan dan kerja sama seluruh personel Polres Jombang.

Ia mengajak seluruh jajaran bekerja dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Tujuannya sederhana, tetapi tidak ringan: menciptakan wilayah yang aman dan kondusif serta menghadirkan rasa nyaman bagi masyarakat.

“Saya mohon dukungan dan kerja sama dari seluruh rekan-rekan. Mari kita sama-sama bekerja dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan wilayah hukum Polres Jombang yang semakin aman dan kondusif, memberikan rasa nyaman kepada masyarakat,” ujarnya.

Baginya, kepemimpinan bukan tentang membandingkan satu masa dengan masa lainnya. Bukan pula tentang siapa yang datang dan siapa yang pergi. “Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama bekerja, saling mendukung, dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” katanya.

Kalimat itu menjadi pesan sekaligus ajakan. Bahwa setelah prosesi berakhir, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai.

Dari Jombang, Sebuah Doa Ditinggalkan

Foto BeritaJatim.com
KH Nur Hadi atau Mbah Bolong mmembacakan doa

Sebelum benar-benar memulai lembaran tugasnya di Jombang, AKBP Yanto juga menyampaikan doa dan harapan kepada AKBP Ardi Kurniawan. Ia meminta doa restu kepada pendahulunya dan seluruh keluarga besar Polres Jombang agar dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Sementara kepada AKBP Ardi, ia mendoakan agar di tempat penugasan yang baru senantiasa diberikan kesuksesan, kesehatan, keselamatan, dan kelancaran dalam menjalankan tugas.

Ia juga berharap AKBP Ardi segera mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Komisaris Besar Polisi. Doa itu menjadi penanda bahwa pergantian jabatan tidak harus menghapus hubungan yang telah terbangun.

Ada penghormatan yang tetap tinggal. Ada kenangan yang tidak ikut pergi. Ada harapan yang diteruskan dari satu tangan ke tangan berikutnya.

Ketika Pedang-Pedang Kembali Terangkat

Rangkaian pisah sambut kemudian memasuki bagian penutup. Laporan Kesatuan dan Apel Welcome and Farewell Parade digelar dengan diikuti jajaran personel Polres Jombang.

Sebelumnya, pergantian kepemimpinan tersebut telah resmi berlangsung melalui serah terima jabatan yang dipimpin Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto di Mapolda Jatim, Selasa, 29 September 2026.

Dua hari kemudian, suasana pergantian itu menemukan bentuknya di halaman Mapolres Jombang. Pedang Pora kembali menjadi penutup. Para personel berdiri dalam barisan. Pedang diangkat sebagai simbol penghormatan dalam momentum pergantian kepemimpinan.

Sesaat, lorong pedang itu menjadi saksi. Seorang pemimpin meninggalkan tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya. Seorang pemimpin lain datang membawa amanah baru.

Karpet merah perlahan kembali lengang. Barisan personel tetap berdiri dalam ketertiban. Prosesi pun selesai. Namun sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar selesai hari itu.

Sebab bagi AKBP Ardi Kurniawan, Jombang akan menjadi bagian dari perjalanan yang pernah ia jalani. Bagi AKBP Yanto Mulyanto, Jombang justru menjadi halaman baru yang harus ditulis.

Dan bagi seluruh keluarga besar Polres Jombang, pedang-pedang yang terangkat hari itu seakan mengingatkan satu hal: jabatan boleh berpindah, tetapi pengabdian kepada masyarakat harus terus berjalan. [suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.