Dosen Ilmu Politik UB Kenalkan Paradigma Kepemimpinan Digital Baru di Forum Global Iran

0

Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Novy Setia Yunas, memaparkan terobosan konsep kepemimpinan masa depan dalam ajang akademik tingkat dunia.

Ia memperkenalkan gagasan bertajuk Digital Catalytic Leadership pada perhelatan The 30th Pre-Conference of the International Congress on Religion, Culture and Technology yang diinisiasi oleh Baqir al-Olum University, Iran.

Konferensi internasional tersebut digelar secara daring melalui sambungan Google Meet pada Rabu (30/9/2026). Dalam kesempatan itu, akademisi yang akrab disapa Yunas tersebut menguraikan makalah ilmiahnya yang berjudul “Digital Catalytic Leadership: A New Leadership Paradigm for Governing Intelligent Societies”.

Yunas, yang saat ini turut mengemban amanah sebagai Staf Ahli Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UB, menjelaskan bahwa pola kepemimpinan pada era kecerdasan buatan kini tak lagi sebatas memacu adaptasi perangkat digital di lingkup birokrasi semata. Lebih dari itu, kepemimpinan modern dituntut piawai merajut sinergi antarsektor guna menciptakan tatanan ekosistem digital yang terbuka dan berkesinambungan.

Ia menilai ekspansi Artificial Intelligence (AI) bersama Internet of Things (IoT) telah mengubah lanskap tata kelola publik menjadi semakin dinamis. Urgensi krusial masa kini terletak pada kapasitas seorang figur pemimpin dalam mengintegrasikan elemen pemerintah, akademisi, korporasi swasta, hingga komunitas warga.

“Transformasi digital bukan sekadar persoalan adopsi teknologi saja, tetapi bagaimana kepemimpinan mampu menghubungkan berbagai aktor untuk menciptakan perubahan yang berdampak,” ujar Novy Setia Yunas dalam paparannya.

Yunas melanjutkan, keterpaduan antara kepemimpinan digital dan kolaborasi katalitik menjadi kunci utama agar pemanfaatan teknologi mampu memberikan kemanfaatan publik yang nyata.

“Karena itu, saya mengusulkan Digital Catalytic Leadership sebagai paradigma yang mengintegrasikan kepemimpinan digital dengan semangat catalytic collaboration agar transformasi digital dapat menghasilkan nilai publik yang berkelanjutan,” ujarnya.

Konsep tersebut, urai Novy, berdiri kokoh di atas empat pilar fondasi. Pilar pertama mencakup Visionary Digital Leadership, disusul pilar kedua yakni Catalytic Collaboration, kemudian Adaptive Institutional Transformation, serta berpuncak pada Human-Centered Intelligent Governance.

Rangkaian pilar ini diarahkan untuk membentuk masyarakat cerdas yang senantiasa menempatkan prinsip etika, inklusivitas, dan keadilan di atas kecanggihan mesin.

Menurut Yunas, lonjakan teknologi kecerdasan buatan secara otomatis menggeser fokus manajerial pemimpin dari struktur internal menuju pengelolaan ekosistem jejaring yang jauh lebih rumit. “Pemimpin dituntut bertindak selaku katalisator guna memantik inovasi sekaligus menjamin teknologi tetap berpihak pada kesejahteraan khalayak luas,” ujarnya menutup penjelasan. (dan/kun)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.