Gerai Belum Operasional, Transaksi KKMP Kota Probolinggo Sudah Mencapai Rp5,32 Miliar?
Probolinggo (beritajatim.com) – Gerai Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Kota Probolinggo belum beroperasi. Namun, dashboard Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa (SIMKOPDES) justru mencatat nilai transaksi 29 KKMP mencapai Rp5,32 miliar.
Angka itu memunculkan pertanyaan sederhana: jika gerainya belum berjalan, dari mana transaksi miliaran rupiah tersebut berasal dan bagaimana uang itu berputar?
Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo memastikan gerai KKMP memang belum operasional. Aktivitas usaha koperasi, menurut pemerintah, tetap berlangsung dengan mekanisme lain.
Kabid Koperasi DKUP Kota Probolinggo Yuda Hartanto mengatakan, operasional gerai masih menunggu arahan dari Kementerian Koperasi RI.
“Untuk gerai KKMP di Kota Probolinggo memang belum operasional sambil menunggu arahan dari Kemenkop RI, akan tetapi di KKMP ini sudah ada kegiatan usaha dan sudah melaksanakan RAT,” kata Yuda saat dikonfirmasi.
Di sinilah letak persoalannya. Gerai belum berjalan, tetapi kegiatan usaha sudah menghasilkan transaksi dalam skala miliaran rupiah.
Yuda menjelaskan, angka Rp5,32 miliar yang muncul di SIMKOPDES bukanlah laba yang dikantongi koperasi. Data tersebut merupakan nilai omzet atau total perputaran transaksi secara umum.
“Nilai transaksi secara umum. Hanya sekadar data secara umum bukan detail. Itu dilihat dari omzet, bukan laba bersih,” ujarnya.
Artinya, angka Rp5,32 miliar tidak bisa serta-merta dibaca sebagai keuntungan 29 KKMP. Nilai tersebut merupakan akumulasi transaksi yang tercatat dalam sistem.
Masalahnya, dashboard tersebut belum menunjukkan secara rinci bagaimana Rp5,32 miliar itu terbentuk.
Berapa yang berasal dari masing-masing KKMP? Berapa dari beras SPHP? Berapa dari Minyakita? Berapa pula yang berasal dari kerja sama dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG)?
Gambaran mengenai mekanisme transaksi itu justru muncul dari salah satu KKMP.
Ketua KKMP Jrebeng Kulon, Choirul Umam, mengungkapkan koperasinya sudah melakukan aktivitas transaksi sejak Juli 2025. Artinya, aktivitas usaha berlangsung sebelum gerai fisik KKMP digunakan.
“Transaksi dimulai sekitar Juli tahun kemarin (2025). Dapat stimulan dari Koperasi PNS buat beli beras SPHP. Dikasih pinjaman Rp3,6 juta,” ungkap Umam.
Modal tersebut kemudian diputar untuk membeli beras SPHP. Beras tidak harus menunggu gerai selesai untuk bisa diperdagangkan. Barang disimpan oleh pengurus dan kemudian dijual kepada anggota.
“Kalau sampai sekarang SPHP masih jual beli kita,” katanya.
Pola ini memperlihatkan bahwa aktivitas KKMP tidak identik dengan aktivitas di gerai. Transaksi bisa berlangsung melalui pengurus, anggota, maupun kerja sama usaha, sementara gerai fisik belum digunakan.
Namun, beras SPHP bukan satu-satunya mesin transaksi.
Ada pula kerja sama dengan dapur MBG yang menurut Umam ikut menciptakan perputaran uang cukup besar. Transaksinya berlangsung berulang, mengikuti kebutuhan masing-masing dapur.
“Dengan adanya kerja sama itu, otomatis setiap minggu itu paling tidak ada sekitar perputaran uang sekitar Rp120 sampai Rp125 juta per minggu tergantung dapur yang punya porsi berapa,” jelasnya.
Jika transaksi berlangsung rutin, nilainya tentu dapat terakumulasi menjadi besar dalam pencatatan omzet.
Di sisi lain, KKMP juga membeli beras SPHP dari Bulog untuk kemudian dijual kembali kepada anggota. Aktivitas perdagangan inilah yang menjadi salah satu sumber transaksi yang tercatat.
Dengan demikian, Rp5,32 miliar bukanlah uang yang berada di satu tempat, apalagi uang tunai yang terkumpul dalam gerai KKMP.
Angka tersebut merupakan akumulasi perputaran transaksi berbagai kegiatan usaha koperasi.
Tetapi justru karena itulah, angka Rp5,32 miliar membutuhkan rincian lebih jauh.
Sebab, data agregat hanya menunjukkan besarnya omzet. Data itu belum menjawab struktur transaksi di baliknya: siapa yang bertransaksi, komoditas apa yang paling besar menyumbang omzet, berapa modal yang berputar, berapa margin yang diperoleh, dan akhirnya berapa laba yang benar-benar masuk ke masing-masing KKMP.
Apalagi, secara fisik gerai KKMP belum beroperasi.
Kondisi tersebut membuat pertanyaan tentang sumber Rp5,32 miliar menjadi penting untuk dibuka secara transparan. Bukan untuk mempersoalkan keberadaan transaksi, melainkan untuk memastikan publik dapat memahami bagaimana koperasi yang gerainya belum berjalan sudah mencatat omzet miliaran rupiah.
Untuk sementara, jawaban dari lapangan menunjukkan bahwa transaksi itu bergerak melalui sejumlah jalur: perdagangan beras SPHP, penjualan Minyakita, serta kerja sama dengan dapur MBG.
Namun, tanpa rincian per KKMP dan per jenis usaha, Rp5,32 miliar masih sebatas angka agregat di dashboard SIMKOPDES.
Angka besar itu sudah terlihat.
Kini yang belum terlihat adalah peta lengkap uangnya: dari mana masuk, ke mana berputar, berapa biaya yang keluar, dan berapa yang benar-benar menjadi hasil usaha 29 KKMP Kota Probolinggo. (rap/aje)
Link informasi : Sumber