Giling 528 Ribu Ton Tebu, PG Pradjekan Bondowoso Lampaui Target Produksi Gula 113 Persen
Bondowoso (beritajatim.com) – Pabrik Gula (PG) Pradjekan, Kabupaten Bondowoso, mencatatkan kinerja positif sepanjang musim giling 2026. Total tebu yang digiling mencapai 528.733 ton atau 110 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebesar 479.915 ton.
General Manager PG Pradjekan, Chandra S. Widjaja, mengatakan capaian tersebut meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah tebu tergiling tercatat 519.252 ton. Sementara pada 2024 sebanyak 459.269 ton.
“Jumlah tebu tergiling tahun 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini tidak lepas dari penguatan pola kemitraan dengan para petani tebu dan pelaksanaan investasi peralatan pabrik yang tepat guna,” kata Chandra, Minggu (1/11/2026).
Dari total tebu yang digiling tersebut, PG Pradjekan menghasilkan 43.249 ton gula. Jumlah itu mencapai 113 persen dari target RKAP yang ditetapkan sebesar 38.435 ton.
Meski mencatatkan hasil positif, musim giling tahun ini bukan tanpa tantangan. Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang berdampak terhadap kebakaran tanaman tebu di sejumlah wilayah Bondowoso. Kondisi tersebut turut menurunkan taksasi atau perkiraan produksi tebu.
Untuk mengantisipasi persoalan serupa, PG Pradjekan bersama petani dan pemerintah meningkatkan pengawasan keamanan lahan, terutama saat puncak musim kemarau.
Selain itu, perbaikan irigasi dan pengairan menjadi salah satu perhatian.
PG Pradjekan juga mendorong program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan melalui hilirisasi bongkar ratoon serta perluasan areal tanam seluas 1.700 hektare.
Chandra menyebut, peningkatan produktivitas lahan menjadi salah satu strategi untuk mendukung target swasembada gula nasional sebagaimana menjadi cita-cita pemerintah. Upaya tersebut dilakukan melalui penataan varietas tebu, pengaturan bulan tanam, serta pembinaan petani secara berkelanjutan.
“Target minimal produksi hablur atau gula kristal adalah delapan ton per hektare. Untuk mencapainya, diperlukan penataan varietas dan bulan tanam serta pengawasan bersama antara PG dan petani melalui program pembinaan LAKU Kebun,” jelas pria yang juga Cluster Head JATIM IV Pabrik Gula Jawa Timur itu.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan komunikasi dan hubungan harmonis antara PG, petani, serta pemerintah daerah. Sinergi ketiga pihak dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan tebu di Bondowoso.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Pradjekan, Rolis Wikarsono, menilai musim giling 2026 juga memberikan sejumlah keuntungan bagi petani. Salah satunya karena pemerintah tidak melakukan impor gula pada tahun ini sehingga harga gula relatif terjaga.
“Terima kasih kepada pemerintah yang tidak mengimpor gula tahun ini sehingga harga gula baik dan pelaksanaan lelang gula berjalan dengan baik. Pembayaran hasil penjualan gula kepada petani juga dapat dilakukan setiap minggu,” kata Rolis.
Selain harga gula, Rolis menyebut harga tetes tebu atau molase juga mengalami perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata harga tetes pada 2026 mencapai Rp1.989 per kilogram.
Dari sisi operasional, pelaksanaan tebang, muat, dan angkut (TMA) juga dinilai berjalan lebih baik. Menurutnya, seluruh tebu yang tersedia berhasil ditebang sehingga tidak ada tebu yang tertinggal di lahan.
Ke depan, APTRI berharap dukungan terhadap petani tebu terus diperkuat. Di antaranya melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), pengawalan kebun bersama PG melalui program LAKU Kebun, serta perbaikan harga gula dan tetes.
“Harapan kami, bantuan alsintan untuk petani tebu terus ditingkatkan. Harga gula dan tetes juga semakin baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani tebu,” pungkasnya. [awi/suf]
Link informasi : Sumber