HUT ke 81, Jawa Timur Mengisi Perut Negeri

0

Tujuh dekade setelah Soekarno menyebut pangan sebagai soal hidup atau mati, Indonesia mengklaim swasembada beras. Jawa Timur berdiri di garis depan, menjadi lumbung padi terbesar yang ikut mengisi piring seisi negeri.

*Mari bicara soal nasi. Makanan pokok pengganjal perut. Menu utama yang menjadi alasan kita kembali ke meja makan tiga kali sehari. Ia begitu akrab dengan piring, sampai-sampai kita jarang menghitung berapa banyak beras yang harus ditanak untuk menyiapkan satu porsi makan.

Tenang. Tak perlu buru-buru mengambil kalkulator. Tetap duduk manis sambil lanjut membaca saja. Untuk tahu berapa beras yang kita habiskan, tak perlu menghitungnya sendiri. Mari intip hitungan Badan Pangan Nasional. Bapanas.

Lembaga pemerintah yang mengurusi pangan itu mencatat tingkat konsumsi beras kita. Pada 2024, kisarannya 92,1 kg hingga 111,58 kg per kapita per tahun. Untuk kebutuhan nasional, angkanya sekitar 26 juta ton per tahun.

Jika dihitung orang per orang, kebutuhan beras terdengar sedikit. Sekitar satu kuintal setahun per kepala. Tapi terasa lebih berat ketika membaca data beras yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nasional. Banyak banget.

Soal isi bakul itu, Soekarno pernah menumpahkan kegundahannya melalui pidato. Pada tujuh dekade silam. Tepatnya 27 April 1952. Kala itu presiden pertama Indonesia ini berada di Bogor. Jawa Barat.

Ia sedang meletakkan batu pertama gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia. Di Baranangsiang. Kampus itu kelak dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor. Kini berubah menjadi IPB University.

Soekarno berdiri di depan ahli pertanian. Di hadapan pemuda dan pemudi. Warga kampus. Ia ke tempat itu memang untuk peletakan batu pertama. Namun pidatonya bukan tentang gedung baru. Ia bicara perut rakyat. Soal persediaan makanan. Beras.

Indonesia masih seumur jagung, kala itu. Belum tujuh tahun. Beras belum cukup. Sementara mulut yang harus dikasih makan bertambah terus. Soal persediaan makanan masih jadi perkara besar.

“Persediaan makanan rakyat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati,” kata Soekarno. Pidato itu diberi judul Soal Hidup atau Mati.

Pidato ini panjang. Membahas kebutuhan beras, pertambahan penduduk, produksi, dan ketergantungan pada impor. Dihitung detail. Kebutuhan makan per kepala. Pasokan kalori tiap-tiap orang. Bibit. Pupuk. Luas lahan. Tenaga manusia. Insinyur. Sampai hewan ternak yang menjadi sumber pupuk kandang.

Penduduk saat itu 75 juta. Kebutuhan beras 6,45 juta ton. Produksi beras dalam negeri hanya 5,5 juta ton, lebih sedikit. Jumlah panenan tak bisa menutup kebutuhan. Tekor. Tahun itu saja, kata Soekarno, Indonesia harus cari beras 700 ribu ton.

“Itulah sebabnya kita tiap-tiap tahun harus membeli beras dari luar. Dari Siam, dari Saigon, dari Birma,” kata Soekarno.

Bagi Soekarno, ketahanan pangan adalah kedaulatan negara. Indonesia tidak bisa sepenuhnya merdeka apabila kebutuhan pokok rakyat masih bergantung kepada negara lain.

*
Dan mari melihat Indonesia kita hari ini. Tiga perempat abad dari pidato Soekarno itu. Setelah 74 tahun, pemimpin negeri ini kembali membawa pangan ke atas panggung.

Kali ini bukan di Bogor, melainkan di Karawang. Di pesisir utara Jawa Barat, tempat dimana ladang padi juga ditanami industri. Daerah yang jaraknya seratus kilo lebih dari kampus tempat Soekarno pidato itu.

Pada 7 Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto menghadiri panen raya di Desa Kertamukti. Apa yang diresahkan Soekarno itu juga jadi keheranan Prabowo. Bagaimana negeri yang gemah ripah loh jinawi ini harus mengisi piring rakyatnya dari pasokan luar negara selama bertahun-tahun. Impor.

Namun hari itu, Prabowo menutup keheranan dengan klaim kesuksesan. Di tengah hamparan sawah di Karawang itu, ia mengumumkan Indonesia telah mencapai swasembada pangan pada 2025.

“Dengan ini saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia,” kata Prabowo.

Dua peristiwa itu rentang 74 tahun. Soekarno bicara bagaimana Indonesia harus mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Prabowo datang dengan klaim bahwa kemampuan itu telah dicapai. Tentu klaim ini harus dibuktikan. Dilihat angkanya.

Dan mari baca catatan Badan Pusat Statistik. BPS. Pada 2025, Indonesia menghasilkan 60,21 juta ton padi dalam bentuk gabah kering giling dari 11,32 juta hektare. Setelah diolah menjadi beras, produksinya mencapai 34,69 juta ton. Angka itu bertambah 4,07 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Mari kita hitung bersama. Kita kurangi produksi beras dalam catatan BPS dengan kebutuhan sesuai data Bapanas. Produksi 34,69 juta ton. Konsumsi berkisar 26 juta ton per tahun. Itu artinya masih ada sisa produksi. Surplus. Angka itu mendukung klaim Prabowo.

Lalu siapa yang mengisi lumbung nasional? Padi tidak tumbuh pada angka. Ia hidup di sawah-sawah. Juga di ladang. Produksi datang dari sekujur negeri. Namun, ada tiga pemasok utama, tiga provinsi di Pulau Jawa. Jawa Timur. Jawa Barat. Jawa Tengah.

Pada 2025, Jawa Timur (Jatim) menghasilkan 10,44 juta ton padi. Jawa Barat (Jabar) 10,23 juta ton. Jawa Tengah (Jateng) 9,30 juta ton. Jika digiling jadi beras, produksinya masing-masing 6,03 juta ton, 5,91 juta ton, dan 5,35 juta ton.

Jika digabung, tiga provinsi di Jawa ini menghasilkan 17,29 juta ton beras. Nyaris separuh produksi beras nasional.

*
Pada 2019, Jawa Tengah berada di urutan pertama. Produksi padi Jateng mencapai 9,66 juta ton. Jatim 9,58 juta ton. Jabar 9,08 juta ton. Jika dalam bentuk beras, Jateng 5,52 juta ton. Jatim 5,50 juta ton. Jabar 5,22 juta ton. Selisih Jateng dan Jatim ketika itu hanya sekitar 20 ribu ton beras. Tipis.

Namun setahun setelah Khofifah memimpin Jatim, posisi itu berubah. Pada 2020, Jatim mengambil posisi teratas. Produksinya mencapai 9,94 juta ton padi. Jateng 9,49 juta ton. Jabar 9,02 juta ton. Sejak itu, posisi Jatim selalu di pucuk tangga penghasil padi hingga 2025.

Tetapi Jawa Barat terus mengejar. Pada 2022, Jatim menghasilkan 9,53 juta ton padi. Jabar 9,43 juta ton. Jateng 9,36 juta ton. Tahun berikutnya, Jatim 9,71 juta ton. Jabar 9,14 juta ton. Jateng 9,08 juta ton.

Di 2024, produksi ketiganya turun. Namun Jatim tetap teratas dengan 9,27 juta ton. Jateng 8,89 juta ton. Jabar 8,63 juta ton. Jabar yang sebelumnya ada di posisi dua, digeser Jateng.

Jika 2024 produksi turun, tahun berikutnya melonjak. Namun Jatim masih menjadi lumbung paling produktif. Pada 2025, produksi padi Jatim 10,44 juta ton padi. Jabar 10,23 juta ton. Jateng 9,30 juta ton. Jarak Jatim dan Jabar sekitar 212 ribu ton padi.

Dari Karawang, pemerintah mengumumkan swasembada. Dari data BPS, terlihat siapa yang menopangnya. Pasokan beras datang dari seluruh negeri, tapi tiga provinsi menjadi penyangga utama. Jatim. Jabar. Jateng.

Dan, Jatim yang pada 12 Oktober 2026 berulang tahun ke-81, selalu jadi nomor satu. Tujuh dekade setelah Soekarno menyebut pangan sebagai soal hidup atau mati, Jawa Timur terus mengisi lumbung negeri. (ted)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.