ICONIS ke-10 UIN Madura Telusuri Warisan Intelektual Ulama Nusantara untuk Peradaban Berkelanjutan
Pamekasan (beritajatim.com) – The 10th International Conference on Islamic Studies (ICONIS) 2026 yang digagas Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Rabu (9/9/2026). Kembali menjadi forum akademik yang mempertemukan akademisi, peneliti dan guru besar lintas negara guna membahas kontribusi pemikiran Islam terhadap perkembangan peradaban.
Kegiatan yang digelar di Auditorium Perguruan Tinggi dengan tagline Astahelix Taneyan Lanjhang, Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan, Pamekasan, kembali mengkaji warisan intelektual ulama Nusantara sebagai sumber pengetahuan dalam menghadapi tantangan peradaban global, yakni Syekh Yusuf Al-Makassari.
The 10th ICONIS 2026 mengusung tema ‘Tracing the Intellectual Legacy of Nusantara Ulama for Sustainable Civilization and Global Wisdom’, sekaligus menempatkan warisan intelektual ulama Nusantara sebagai salah satu sumber penting untuk ditelusuri, dikaji ulang, dan dikontekstualisasikan dengan berbagai persoalan kontemporer.
Konferensi tersebut menghadirkan tiga pemateri utama dengan latar belakang akademik dan pengalaman internasional. Masing-masing M Faried F Saenong (Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia), Suliman Hassan Suliman Elwarfali (Alrefak University, Libya), serta Mohd Roslan bin Mohd Nor (University of Malaya, Malaysia).
Kehadiran ketiga pemateri tersebut sekaligus memperluas perspektif dalam pembahasan hubungan antara tradisi intelektual Islam Nusantara dengan dinamika keilmuan dan tantangan peradaban global. Forum tersebut sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan lintas negara dan lintas disiplin.
Terlebih pembahasan tersebut tidak hanya diarahkan pada aspek historis khazanah keislaman Nusantara, tetapi juga pada relevansi terhadap pembangunan peradaban berkelanjutan, pendidikan, transformasi sosial, moderasi, ekonomi, budaya, serta perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global.
“ICONIS ini sudah berjalan selama 10 tahun dan sekarang memasuki penyelenggaraan yang ke-10. Kegiatan ini setiap tahun mendatangkan narasumber dari berbagai negara, termasuk para peserta yang tidak hanya berasal dari Indonesia,” kata Rektor UIN Madura, Saiful Hadi, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, ICONIS 2026 memiliki momentum tersendiri karena bertepatan dengan peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari. Momentum tersebut akhirnya dikemas dalam tema yang menghubungkan pemikiran ulama Nusantara dengan pembangunan peradaban berkelanjutan dan kebijaksanaan global.
“Melalui tema ini, pesan yang ingin kami sampaikan bahwa pemikiran ulama Nusantara tidak hanya relevan untuk dikenang dalam konteks sejarah, tetapi juga memiliki kontribusi nyata dalam kehidupan bangsa dan peradaban masa kini,” ungkapnya.
Selain itu, perjuangan para ulama dalam beragama konteks sangat perlu terus dihidupkan kembali. “Artinya pemikiran ulama Nusantara tidak hanya layak dikenang, tetapi juga perlu dihidupkan kembali. Sebab nilai-nilai perjuangan mereka tentang kemanusiaan, keadilan, lingkungan, dan perdamaian masih sangat relevan untuk kehidupan kita saat ini,” tegasnya.
Antusiasme akademisi terhadap konferensi tersebut terlihat dari jumlah naskah yang masuk ke meja panitia, tercatat sebanyak 260 artikel dari berbagai peneliti dan akademisi masuk dalam rangkaian penyelenggaraan ICONIS 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 124 artikel dipilih untuk dipresentasikan, mulai dari Indonesia, Malaysia, Pakisyan, dan Oman.
Keberagaman tersebut menunjukkan semakin luasnya jaringan akademik yang terlibat dalam ICONIS 2026, sekaligus memperlihatkan kajian Islam khususnya warisan intelektual ulama Nusantara, memiliki relevansi dalam percakapan ilmiah lintas negara. Terlebih keberagaman latar belakang peserta menjadikan pembahasan tidak hanya bertumpu pada perspektif satu keilmuan, tetapi mencakup beragam isu yang berkembang dalam masyarakat dan dunia akademik kontemporer.
Sementara pelaksanaan ICONIS 2026 dikemas dengan skema hybrid, sehingga peserta dapat mengikuti rangkaian konferensi secara langsung maupun daring. Tercatat ada 9 ruang presentasi disediakan secara offline, sementara 4 ruang lainnya online. Bahkan salah satu ruang presentasi juga secara khusus diperuntukkan bagi para Guru Besar.
ICONIS ke-10 memperlihatkan warisan intelektual ulama Nusantara memiliki ruang untuk terus dibaca dalam konteks perubahan sosial dan tantangan global, penelusuran terhadap tradisi intelektual menjadi penting karena pembangunan peradaban berkelanjutan tidak hanya membutuhkan inovasi dan perkembangan teknologi, tapi juga membutuhkan fondasi pengetahuan, nilai, etika, serta kebijaksanaan yang mampu mengarahkan pada perkembangan masyarakat.
“Melalui konferensi akademisi dari berbagai negara dan disiplin ilmu, ICONIS 2026 berupaya mempertemukan khazanah Islam Nusantara dengan persoalan-persoalan kontemporer. Berbagai dialog diharapkan menghasilkan perspektif baru yang tidak hanya berakar pada tradisi keilmuan Islam, tetapi juga mampu berkontribusi dalam percakapan global,” jelas Saiful Hadi.
Dengan tema yang diusung, ICONIS ke-10 sekaligus menegaskan kembali pentingnya menjadikan warisan intelektual ulama Nusantara sebagai sumber inspirasi untuk membangun peradaban yang berkelanjutan dan terbuka terhadap kearifan global.
“Dengan demikian, konferensi ini pada akhirnya bukan sekadar forum presentasi artikel, melainkan menjadi ruang untuk menghubungkan khazanah Islam, tradisi intelektual Nusantara, dan kebijaksanaan global dalam merumuskan perspektif keilmuan bagi masa depan peradaban,” pungkasnya. [pin/ian]
Link informasi : Sumber