Layanan Konsumsi Madinah Raih Nilai Plus, Itjen Kemenhaj Puji Cita Rasa Nusantara
RINGKASAN BERITA:
- Inspektur Wilayah II Itjen Kemenhaj mengapresiasi tinggi kualitas layanan konsumsi dan akomodasi di Madinah.
- Pemanfaatan bumbu asli Nusantara dan produk UMKM menjadi faktor utama tingginya indeks kepuasan jemaah.
- Pergeseran 13 kloter jemaah dari Madinah ke Makkah pada Jumat (8/5/2026) berjalan lancar dengan sinergi petugas.
- Hotel jemaah di wilayah Markaziyah dinilai sangat strategis karena berada di area Ring Road dekat Masjid Nabawi.
Madinah (beritajatim.com) – Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, Ade Muhtar, memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas layanan konsumsi dan akomodasi jemaah haji Indonesia di Madinah yang dinilai telah memenuhi standar ekspektasi. Berdasarkan peninjauan langsung, layanan katering dengan cita rasa Nusantara menjadi poin dengan nilai kepuasan tertinggi karena mampu menghadirkan suasana rumah bagi jemaah di tengah suhu ekstrem Arab Saudi.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, apresiasi ini diberikan saat tim Itjen meninjau Sektor 1 Daerah Kerja (Daker) Madinah pada Jumat (8/5/2026) sore waktu setempat.
Di tengah tantangan cuaca yang mencapai 38 hingga 41 derajat Celsius, kepuasan jemaah terhadap asupan nutrisi dan kenyamanan hotel menjadi modal penting sebelum mereka menjalani fase puncak haji.
“Alhamdulillah kita menemukan bahwa pelaksanaan yang selama ini disampaikan bagus, memang kita sama-sama saksikan telah berjalan dengan baik,” ujar Ade Muhtar.
Ia menambahkan bahwa meskipun pelayanan secara keseluruhan sudah baik, pihaknya tetap melakukan evaluasi mendalam guna mencari titik kesempurnaan layanan menjelang fase Armuzna.
Keberhasilan Bumbu Nusantara dan Peran UMKM
Nilai plus tertinggi dalam operasional tahun ini jatuh pada bidang konsumsi. Kebijakan Kemenhaj untuk memberdayakan UMKM nasional serta penggunaan bumbu dan pasta asli Indonesia terbukti efektif menjaga selera makan jemaah. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah agar ekosistem ekonomi haji memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha di tanah air.
“Konsumsi dengan adanya kita memberdayakan terutama UMKM kemudian penyedia bumbu dari tanah air, mereka merasakan cita rasa menu nusantara, merasa di rumahnya sendiri. Tidak kekurangan, mereka merasa puas,” tegas Ade Muhtar.
Hal senada sebelumnya diungkapkan Dirjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji, Prof Jaenal Effendi, yang menyebut animo jemaah sangat luar biasa karena kebahagiaan psikologis yang muncul dari rasa makanan yang familiar.
Kelancaran Pergeseran Jemaah ke Makkah
Selain konsumsi, Itjen Kemenhaj menyoroti proses pergeseran jemaah dari Madinah ke Makkah. Pada hari ini, Sektor 1 berhasil menggeser 13 kloter secara bertahap.
Mengingat padatnya jadwal pemberangkatan, sinergi antara petugas PPIH dan tenaga pendukung (umal) menjadi kunci keberhasilan mobilisasi koper dan jemaah ke dalam bus.
Ade mengapresiasi kesiapan petugas yang tetap sigap meski beban kerja meningkat pasca-berakhirnya arus kedatangan Gelombang I di Madinah. Komitmen pelayanan ini diharapkan terus terjaga hingga seluruh jemaah Gelombang I tuntas bergeser ke Makkah pada pertengahan Mei mendatang.
Kepuasan layanan juga disuarakan langsung oleh para jemaah. Lila Kholilah, jemaah asal Indramayu, mengaku sangat puas dengan kebersihan kamar dan kualitas makanan.
Selain itu, lokasi hotel yang berada di area Markaziyah atau Ring Road sangat memudahkan jemaah untuk beribadah ke Masjid Nabawi karena jaraknya yang sangat dekat.
Senada dengan Lila, Renah (54), jemaah asal Lombok Tengah, memuji kondisi akomodasi yang sangat nyaman. “Alhamdulillah pelayanan hotel luar biasa mantap. Kondisinya juga bagus dan nyaman sehingga harapannya dengan kenyamanan ini kami semua bisa sehat-sehat selama di sini,” ungkapnya.
Bagi jemaah asal Jawa Timur, khususnya kloter-kloter SUB yang kini mulai memadati Makkah dan Madinah, kepastian layanan konsumsi dengan bumbu Nusantara ini menjadi jaminan penting untuk menjaga stamina.
Hingga saat ini, total jemaah wafat tercatat sebanyak 16 orang, di mana mayoritas disebabkan oleh faktor kesehatan jantung dan paru-paru yang diperberat oleh cuaca ekstrem. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber