Pembahasan Isu Kontemporer di Ajang 3rd International Conference on Qur’an and Sunnah Studies

0

Malaysia (beritajatim.com)- Hari kedua pelaksanaan 3rd International Conference on Qur’an and Sunnah Studies berlangsung di Nasyrul Qur’an yang berlokasi di Komplek Putrajaya, Malaysia kemarin. Nasyrul Qur’an merupakan yayasan yang bergerak di bidang pencetakan, pengajaran, distribusi Al-Quran yang telah tersebar ke 30 negara.

Pada hari kedua ini dibahas sejumlah persoalan terkait isu-isu kontempores dari sisi Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam kesempatan ini KH. Ahmad Jamil, Ph.D, Pimpinan Daarul Qur’an sekaligus dosen Fakultas Ushuluddin Institut Daarul Qur’an (IDAQU) Jakarta, ditajuk sebagai keynot speaker dan menyampaikan peranan ulama Indonesia dalam pengajaran Al-Qur’an yang diakui oleh dunia Internasional.

Selain dihadiri oleh civitas Kampus IIUM Malaysia, tamun undangan dan para peserta, hari kedua pelaksanaan konferensi ini juga dihadiri oleh Senator Dr. Zulkiflli Hasan, Deputy Minister at Prmie Minister’s Office (Religious Affair) atau Wakil Menteri Agama Malaysia yang sekaligus menutup kegiatan.

3rd International Conference on Qur’an and Sunnah Studies merupakan kegiatan bergengsi yang digelar oleh IIUM dan dihadiri sejumlah akademisi dan undangan dari berbagai kampus dunia. Sejumlah isu kontemporer seperti kesehatan mental, metode tafsir Al-Qur’an, kehidupan politik dan sosial diangkat dalam konferensi ini yang diharapkan akan menghasilkan sejumlah rekomendasi yang akan dijadikan bahan rujukan dan penerapan bagi kehidupan umat yang lebih baik.

Ahmad Jamil membuka pemaparannya dengan menjelaskan tentang Indonesia baik dari sisi geografis, sosial keagamaan yang beragam juga sejarah pesantren yang menjadi institusi pendidikan tertua di Indonesia juga perkembangan pengajaran Al-Qur’an di Indonesia yang kini telah banyak metode untuk memudahkan proses belajar mengajar Al-Qur’an ini.

“Indonesia ini sangat luas dengan sejarah yang panjang. Inkulivitas dalam kegiatan sosial keagamaan yang ditandai dengan kerukunan dari pemeluk-pemeluk agama di Indonesia yang dari situ melahirkan metode pengajaran Al-Qur’an yang juga beragam tapi mudah diterima oleh masyarakat Indonesia” ujar Ahmad Jamil.

Setelah mengulas Indonesia dan perkembangan pesantren dan pembelajaran Al-Qur’an, Ahmad Jamil mengisahkan peran ulama Indonesia dalam dunia literasi global dengan bayak varian keilmuan dan salah satunya dalam bidang qiroat.

“Banyak karya-karya ulama Indonesia yang dijadikan rujukan oleh banyak institusi pendidikan Islam di berbagai dunia. Dari mulai bidang tasawuf, fikih, akhlak dan lainnya. Ini menandakan Indonesia mempunyai peran penting dari sisi perkembangan atau transformasi pendidika Islam”

Dalam bisa Qiraat misalnya kitab Faid al-Barakat fi Sab’ al-Qiraat karya KH Arwani Amin, ulama besar asal Kudus yang juga pendiri Ponpes Yanbuul Quran. Kita ini merupakan buah dari belajar KH Arwani ke Kiai Muanwir, ulama besar asal Krapyak Yogyakarta, dalam bidang Qiraat. Catatan-cataan saat belajar kemudian disusun menjadi sebuah kitab dari bidang qiraat yang kualitasnya sangat dihormat oleh para pakar Al-Qur’an di seluruh dunia.

“Juga soal metode pembelajaran Al-Qur’an yang begitu pesat berkembang, yang memudahkan peserta didik untuk belajar Al-Qur’an dan kami di Daarul Qur’an juga mengembangkan metode membaca ini yang kami namakan Kaidah Daqu sekaligus juga mengkampanyekan metode menghafal One Day One Ayat untuk masyarakat muslim dan ini menjadi gerakan menghafal yang masif di Indonesia” ujar Ahmad JamiKemudian Ahmad Jamil juga menjelaskan terkait urgensi pelestarian ijazah sanad Qur’an, hadis dan keilmuan dalam islam. sebab menurut beberapa ulama, diantaranya Ibnu Mubarok yang berkata

“Sanad itu adalah bagian dari agama, seandainya tidak ada sanad maka siapa saja akan bicara seenaknya”

Pada bagian akhir Ahmad Jamil menjelaskan sedikit tentang Daarul Qur’an dengan historinya dan sejumlah program yang telah dilahirkan.

Diapresiasi Pemerintah

Konferensi internasional ini pun diapresiasi oleh pemerintah Malaysia. Senator Dr. Zulkiflli Hasan, Wakil Menteri Agama, yang hadir sekaligus menutup kegiatan ini menyatakan apa yang didengarnya dari laporan yang disajikan panitia ini sangat baik dan semoga bisa menguatkan dakwah islam di dunia. Ia berharap apa yang telah disajikan dari kegiatan ini akan bisa diterapkan sekaligus diaplikasikan dalam dunia islam.

Sebelum menutup acara juga dikenalkan beberapa buku terbaru terbitan IIUM dan salah satunya buku berjudul Ma’aayir manhil ijazah al Qur’aniyah wa mada tathbiqiha fi ma’ahidil Qur’an al Karim, ‘Indunisiya’ unmudzajan yang merupakan hasil dari disertasi Ahmad Jamil saat menyelesaikan gelar doktoral di IIUM.

Kitab ini menjelaskan tentang standarisasi pemberikan ijazan sanad Al-Qur’an dan sejauh mana penerapannya di Pesantren/lembaga pengajaran Al-Qur’an di Indonesia.

Setelah penutupan para tamu undangan dibawa keliling komplek Nasyrul Qur’an dan melihat sejumlah kegiatan termasuk proses pencetakan Al-Qur’an di pabrikanya yang sangat besar. [aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.