Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla dengan Strategi Memutus Kepala Api
Jakarta (beritajatim.com) – Pemerintah memperkuat strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memutus kepala api menggunakan alat berat serta membangun sumur bor. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus mencegah penyebaran api yang lebih luas di lokasi terdampak.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan, pendekatan tersebut dilakukan dengan menyasar titik utama pergerakan api. Pemerintah kini lebih memfokuskan pada pemutusan akses api daripada sekadar mengejar kobaran yang terus merambat.
“Sekarang kita coba memutus kepala apinya. Kepala apinya yang kita putus dengan kecepatan, menggunakan alat berat supaya menghindari mudarat yang lebih besar lagi. Ini akan tambah nanti ada mungkin 4-5 ekskavator lagi untuk menyekat apinya,” ujar Raja Juli, Rabu (14/10).
Selain pengerahan alat berat, pemerintah merencanakan pembangunan sekitar 30 sumur bor di titik-titik rawan. Fasilitas ini akan ditempatkan dengan jarak sekitar 50 meter di sepanjang kepala api guna menjamin ketersediaan air saat pemadaman berlangsung.
Upaya pengendalian karhutla juga dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca secara rutin. Menurut Raja Juli, penyemaian garam ke awan potensial terus dilakukan untuk melembapkan wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.
“Apakah itu dari kabupaten yang ada karhutla atau tidak, tetap kita semai untuk melakukan pelembapan,” tuturnya.
Kemuduan, pengerahan helikopter untuk waterbombing pun tetap dilakukan menyesuaikan kondisi jarak pandang di lapangan. Penanganan di lapangan kini melibatkan sinergi dari pemerintah daerah, TNI, Polri, serta Manggala Agni Kementerian Kehutanan. Seluruh tim gabungan terus berupaya mengendalikan titik api meski menghadapi medan yang sangat berat.
Raja Juli juga menyampaikan empati kepada masyarakat yang terdampak asap karhutla selama tiga bulan terakhir. Ia menegaskan pemerintah terbuka terhadap segala bentuk evaluasi maupun kritik masyarakat sebagai bahan perbaikan.
“Kritik itu adalah vitamin, obat untuk memotivasi kami untuk bekerja lebih keras. Kami sangat berempati dan oleh karena itu sekaligus ini memotivasi kami untuk bekerja dengan lebih sungguh-sungguh,” ujarnya. [hen/ian]
Link informasi : Sumber