Pemkab Pamekasan Dorong Pesantren Jadi Pelopor Kesehatan Masyarakat
Pamekasan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, mendorong pondok pesantren di wilayah setempat agar dapat menjadi pelopor peningkatan kesehatan masyarakat. Langkah tersebut dilakukan karena pesantren dinilai memiliki posisi strategis dan tersebar hampir di seluruh wilayah Pamekasan.
“Pesantren merupakan komunitas strategis yang memiliki potensi besar untuk menjadi percontohan dalam penerapan pola hidup sehat di tengah masyarakat. Karena itu, kini kami mulai memilih pesantren sebagai sasaran program terkait pendidikan hidup sehat pada masyarakat,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, dr Saifuddin, Rabu (30/9/2026).
Mengacu pada data Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pamekasan, terdapat sebanyak 426 pondok pesantren yang tersebar di 178 desa dan 11 kelurahan pada 13 kecamatan di Pamekasan. Sehingga keberadaan pesantren dinilai dapat menjadi modal penting dalam memperluas edukasi kesehatan.
Terlebih para santri yang menempuh pendidikan di pesantren umumnya berasal dari wilayah sekitar, meskipun sebagian lainnya berasal dari luar Pamekasan. “Bagi kami, potensi yang ada di lembaga pesantren ini sangat baik apabila dimanfaatkan untuk kepentingan baik, termasuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat,” ungkapnya.
Karena ifu, pesantren diyakini sebagai salah satu mitra strategis dalam program peningkatan kualitas hidup sehat masyarakat. Salah satu bentuk kegiatannya dilakukan melalui aksi bergizi yang menyasar para santri, di antara lain telah digelar di Pondok Pesantren Nurul Muttaqin, Kecamatan Proppo, Pamekasan.
“Kegiatan ini sebenarnya bukan program baru, akan tetapi sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS yang selama ini telah kami lakukan. Hanya saja, sasarannya kami perluas,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, para santri mendapatkan edukasi mengenai pola hidup sehat, konsumsi makanan bergizi, pentingnya olahraga, serta upaya pencegahan stunting dan berbagai gangguan kesehatan.
Menurutnya, edukasi kesehatan kepada santri diharapkan tidak berhenti di lingkungan pesantren. Para santri diharapkan dapat membawa pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti program tersebut ketika kembali ke lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Semua tentang kesehatan kami ajarkan kepada mereka, dengan tujuan agar setelah mereka selesai belajar di pesantren dan kembali ke masyarakat bisa menularkan ilmunya kepada masyarakat,” tegasnya.
Tidak hanya itu, pihaknya menilai menilai keterlibatan pesantren dapat memperluas jangkauan edukasi kesehatan hingga ke tingkat masyarakat. “Kami yakin para santri memiliki peluang menjadi agen perubahan karena mereka berinteraksi dengan masyarakat, baik selama berada di lingkungan tempat tinggal maupun setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren,” imbuhnya.
Melalui pendekatan tersebut, pihaknya berharap pengetahuan mengenai perilaku hidup sehat dapat semakin luas diterapkan masyarakat. “Tidak kalah penting, kerja sama dengan pesantren ini juga dapat memperkuat upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan, terutama untuk mencegah stunting, penyakit, serta berbagai gangguan kesehatan lainnya,” pungkasnya. [pin/but]
Link informasi : Sumber