Politika Sastra Antar Guru Besar Universitas Jember Terima Anugerah Mastera
Jember (beritajatim.com) – Akhmad Taufiq, guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (UNEJ), di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memperoleh anugerah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) ke-10 untuk Kategori Karya Nonfiksi.
Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia itu diganjar penghargaan berkat bukunya yang berjudul Politika Sastra: Ruang Diskursif Ideologi dan Imajinasi Politik Kebangsaan. Plakat penghargaan diserahkan di Surabaya, Rabu (7/10/2026).
Politika Sastra diusulkan melalui Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur untuk mengikuti seleksi tingkat nasional oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebelum diajukan ke tingkat Asia Tenggara. Taufiq mengaku tidak menyangka bukunya akan terpilih dan bersanding dengan deretan nama besar sastra Indonesia yang pernah menerima penghargaan tersebut, seperti Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, hingga Taufiq Ismail.
Buku itu diawali oleh seminar tentang politika sastra yang diselenggarakan bersama Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) pada 2020 saat Taufiq menjadi moderator. Gagasan tersebut kemudian dikonstruksi menjadi naskah pada 2023 hingga diterbitkan Intrans Publishing pada 2024.
Melalui Politika Sastra, Taufiq ingin menunjukkan bahwa sastra tidak hanya berbicara tentang estetika bahasa. “Padahal, ketika kita bicara sastra tidak melulu soal estetika, tetapi ada muatan yang esensial, substantif, dan strategis, salah satunya muatan politik. Ketika kita bicara politik, maka kita juga membicarakan soal ideologi,” katanya, sebagamana dilansir Humas Unej, Jumat (9/10/2026).
Buku tersebut mengandung muatan politik dan ideologi yang dapat dibaca untuk memahami perkembangan pemikiran tentang kebangsaan. Salah satu yang dibahas adalah bagaimana nasionalisme dikonseptualisasikan dan diperdebatkan oleh para pendiri bangsa maupun sastrawan dari masa ke masa.
Taufiq mengaku punya keinginan untuk membahas keseluruhan cakupan politik sastra. Namun, ia akhirnya memusatkan buku tersebut pada muatan politik dalam teks sastra agar pembahasannya lebih terarah. “Bagian yang belum dibahas justru menjadi ruang yang bisa dikembangkan oleh penulis lain. Kalau itu sebuah riset, masih ada gap yang bisa dikembangkan,” katanya.
Penganugerahan Mastera ke-10 sebelumnya telah digelar di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 22 September 2026. Pada kesempatan tersebut, penerimaan penghargaan bagi pemenang dari Indonesia secara simbolis diwakili oleh Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah. Penyerahan fisik plakat dan sertifikat di Surabaya menjadi momen pengukuhan resmi raihan prestasi internasional tersebut.
“Penghargaan ini tidak semata-mata bernilai bagi saya pribadi, tetapi juga berdampak lebih luas bagi tempat saya mengabdi maupun komunitas. Dengan begini, denyut dan gairah bersastra tidak hanya di Jember, tetapi juga di kawasan timur Jawa,” kata Taufiq. [wir/ian]
Link informasi : Sumber