Ramai Tren Masak Kimpul di TikTok, Mungkinkah Geser Posisi Nasi?
Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena memasak umbi kimpul mendadak ramai diperbincangkan publik setelah sebuah akun TikTok secara rutin menjadikannya menu harian. Tanaman dari keluarga talas ini ternyata menyimpan potensi gizi tinggi.
Pakar Gizi Universitas Airlangga (Unair), Lailatul Muniroh merespons tren yang berkembang di masyarakat tersebut. Ia melihat kimpul sebagai alternatif sumber karbohidrat selain beras maupun singkong.
“Sebenarnya, potensi kimpul cukup besar sebagai sumber karbo alternatif. Namun, kimpul hanya lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti beras atau nasi,” kata Lailatul, Sabtu (15/8/2026).
Lailatul menjelaskan kendala terbesar ada pada pola pikir masyarakat Indonesia. Kebiasaan makan yang sangat bergantung pada nasi membuat posisi beras sulit tergeser seutuhnya.
“Bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki pemikiran ‘Kalau belum makan nasi, berarti belum makan’, kimpul belum bisa menjadi pengganti sepenuhnya,” ujar dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair tersebut.
Meski begitu, umbi lokal ini sangat fleksibel untuk diolah. Masyarakat tidak hanya bisa merebus atau mengukusnya untuk dikonsumsi langsung, tetapi juga mengubahnya menjadi tepung.
“Kimpul bisa dijadikan tepung. Tepung inilah yang menjadi olahan paling potensial karena dapat mensubstitusi terigu dan digunakan untuk berbagai macam bahan seperti biskuit hingga kue bolu,” jelasnya.
Tepung kimpul membuka banyak peluang baru untuk olahan makanan sehat. Bahan ini bisa dikembangkan menjadi camilan seperti keripik hingga makanan pendamping anak.
“Saat kimpul sedang tren, hal ini menjadi alarm baik karena masyarakat mulai penasaran dan mencoba. Apalagi bahan ini sangat mudah didapatkan dan diolah,” papar Lailatul.
Tren di media sosial ini perlu dimanfaatkan secara berlanjut. Tantangan ke depannya adalah mengubah kebiasaan masyarakat dari hanya sekedar penasaran menjadi konsumsi rutin harian.
“Kuncinya dengan mengubah viralitas menjadi kebiasaan. Peran pemerintah penting untuk menjamin produksi, distribusi, harga, dan memasukkan pangan lokal ini dalam program nasional,” tegas Lailatul.
Kolaborasi lintas sektor menjadi solusi paling masuk akal. Akademisi bertugas menyediakan riset gizi, sementara pelaku usaha fokus menciptakan produk berbahan kimpul yang pas di lidah konsumen. [ipl/ian]
Link informasi : Sumber