Rois Syuriah Kab Batu Bara: KH Miftachul Akhyar Obor Tradisi di Abad Kedua NU

0

Ringkasan Berita:

  • Rois Syuriah PCNU Kabupaten Batu Bara M. Ridwan Butar-Butar berharap KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU.
  • KH Miftachul Akhyar dinilai memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman untuk menjaga arah perjuangan NU.
  • Rekam jejaknya mencakup pengalaman menjaga otoritas Syuriyah dan komitmen menghindari rangkap jabatan.
  • Dukungan tersebut muncul di tengah Muktamar ke-35 NU yang menjadi muktamar pertama Nahdlatul Ulama di abad kedua.

Jombang (beritajatim.com) – Di tengah dinamika pemilihan Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dukungan untuk KH Miftachul Akhyar kembali mengemuka. Rois Syuriah PCNU Kabupaten Batu Bara M. Ridwan Butar-Butar berharap KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin Syuriyah PBNU.

Menurut Ridwan, KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan Nahdlatul Ulama, terutama ketika organisasi memasuki abad keduanya.

“Harapan kami KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU. Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU,” harapnya.

Ridwan menilai kepemimpinan di tingkat PBNU bukan hanya membutuhkan kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga figur yang mampu menjaga persatuan dan marwah NU.

“Kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi. Kami melihat KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas tersebut,” tegasnya.

KH Miftachul Akhyar dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Perjalanan keilmuannya telah dibangun sejak usia delapan tahun di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebelum kemudian menimba ilmu di Pesantren Rejoso Darul Ulum, Sidogiri, Al-Islah Soditan Lasem, hingga majelis Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.

Rekam jejaknya dalam menjaga amanah organisasi juga menjadi salah satu alasan dukungan tersebut. Pada 2022, KH Miftachul Akhyar memilih mundur dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk fokus berkhidmah dan menghindari rangkap jabatan.

Dalam dinamika internal NU, ia juga dikenal menegaskan otoritas Syuriyah ketika organisasi menghadapi persoalan kepemimpinan. Sikap tersebut mendapat dukungan 36 pengurus wilayah dan menjadi bagian dari proses yang kemudian membawa Muktamar dipercepat.

Menjelang Muktamar ke-35, KH Miftachul Akhyar juga mengambil peran dalam menjaga suasana kebersamaan warga NU. Ia memimpin istighosah yang diikuti ribuan nahdliyin sebagai bagian dari rangkaian menuju forum tertinggi organisasi tersebut.

Dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, KH Miftachul Akhyar kembali membawa tradisi Syuriyah melalui Khutbah Iftitah berbahasa Arab.

Dalam khutbah itu, ia menyampaikan tiga kegembiraan, yakni kelahiran Nabi Muhammad SAW, 81 tahun kemerdekaan Indonesia, serta terselenggaranya Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, pesantren yang memiliki kaitan sejarah dengan muassis NU KH Abdul Wahab Hasbullah. Ia juga mengingatkan bahwa fitnah merupakan bercampurnya kebenaran dan kebatilan.

Dukungan terhadap KH Miftachul Akhyar juga tidak terlepas dari konteks Muktamar ke-35 sebagai muktamar pertama NU di abad kedua. Forum yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 tersebut menjadi momentum penting bagi nahdliyin untuk menentukan arah organisasi sekaligus memilih kepemimpinan baru.

Ridwan berharap pilihan terhadap Rais Aam nantinya mempertimbangkan kapasitas keulamaan, integritas, serta kemampuan menjaga marwah dan khittah NU. Bagi dia, KH Miftachul Akhyar merupakan salah satu figur yang memiliki modal tersebut untuk membawa tradisi NU tetap menyala di abad kedua.

Pengabdian KH Miftachul Akhyar juga mendapat pengakuan negara. Pada 2025, ia menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden. [tok/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.