Sampai Kapan Ketergantungan Terhadap Pemain Naturalisasi

0

Selamat, akhirnya Tim Nasional (Timnas) Indonesia tampil sebagai kampiun FIFA ASEAN Cup 2026 dengan mengalahkan Thailand melalui drama adu penalti yang mendebarkan. Indonesia pantas begitu sulit mengalahkan Thailand di beberapa pertemuan sebelumnya karena tim berjuluk Gajah Perang itu memang memiliki mental bertanding yang luar biasa. Betapa tidak, bermain 10 orang selama kurang lebih 40 menit dan bermain di hadapan suporter lawan mampu mengimbangi Indonesia, bahkan sempat unggul 2-1 sebelum berakhir dengan kekalahan 4-6.

Indonesia juga tidak kalah bagusnya, terutama dari sisi permainan. Tampil dengan full pemain naturalisasi, tim asuhan John Herdman menguasai jalannya pertandingan di sepanjang permainan. Kerja sama pemain antarlini berjalan penuh skema dengan mengandalkan permainan umpan-umpan vertikal yang sering merepotkan Thailand.

Bisa jadi kenyataan itu menjadi salah satu alasan pelatih asal Inggris itu tidak memakai pemain lokal sebagai starting XI pada beberapa kali pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026. Pemain naturalisasi menurutnya secara kualitas lebih bagus dari pemain lokal. Faktanya memang demikian, pemain naturalisasi dalam pandangan penulis memiliki kelebihan dalam visi bermain dan kualitas teknik, khususnya dalam hal passing. Mereka juga tidak mudah panik ketika dalam kondisi tertekan dan mudah mengatasinya melalui permainan yang terorganisasi.

Bila dibandingkan dengan pelatih sebelumnya, Shin Tae-Yong dan Patrick Kluiert, penggunaan pemain naturalisasi dalam starting XI lebih dominan di era John Herdman. Kehadiran pemain naturalisasi memang lebih bisa mendongkrak prestasi Indonesia di kancah dunia. Desember 2019 rangking Timnas berada pada 173 dan di bulan Desember 2024 menjadi 125. Di rentang 2023-2025, Indonesia menjadi satu dari sembilan negara yang mengirimkan empat level Timnasnya ke putaran final Piala Asia, U-17, U-20, U-23, dan senior. Lolosnya Timnas Senior ke putaran 3 kualifikasi Piala Dunia 2026 juga merupakan fakta yang tak terbantahkan. Jay Idzes dan kawan-kawan mampu bersaing dengan negara-negara yang sudah menjadi peserta Piala Dunia sebelumnya. Sukses menahan Saudi Arabia 1-1 (away) dan menang 2-0 (home) pada laga Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026, kemudian menahan Bahrain 2-2 (away) dan menang 1-0 (away) dan bermain imbang dengan Australia 0-0 (home) dan kalah 1-5 (away) semakin menguatkan keberhasilan program naturalisasi.

Peningkatan kualitas performa Timnas menyebabkan masyarakat begitu antusias datang ke stadion untuk menyaksikan setiap pertandingan. Dilaporkan bahwa jumlah penonton yang hadir langsung ke stadion Gelora Bung Karno saat final Indonesia melawan Thailand sebanyak 67.000. Ini sebuah sukses besar dari sisi pengelolaan bisnis pertandingan. Belum lagi dari sisi pendapatan hak siar dan penjualan merchandise yang berbau Timnas.

Kebijakan Naturalisasi

Regulasi FIFA tidak melarang adanya naturalisasi. Ini terbukti bahwa banyak negara juga melakukan hal yang sama dengan Indonesia. Alasan Erick Thohir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum PSSI, program naturalisasi dimaksudkan untuk peningkatan prestasi Timnas. Dua target yang diharapkan Indonesia bisa masuk 100 peringkat FIFA dan memiliki 154 pemain nasional yang eligible.

Pro dan kontra terhadap kebijakan merupakan sebuah dinamika. Ini tergambar dari hasil survei Lembaga Indikator Politik Indonesia terhadap 1.200 responden dari seluruh wilayah Indonesia. Hasilnya, sebanyak 71,5 persen responden setuju dengan kebijakan naturalisasi pemain. “Ada 71,5 persen warga nasional yang setuju terhadap kebijakan naturalisasi, tetapi ada 13,5 persen yang kurang setuju atau tidak setuju,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi di Jakarta (5/10/2024).

Kendati demikian, program naturalisasi harus diselaraskan dengan pembinaan internal sepak bola nasional. Ketergantungan kepada pemain naturalisasi harus direduksi secara bertahap agar kesempatan pemain lokal untuk bermain di Timnas lebih banyak. Banyak pihak dari kalangan pembina sepak bola yang merasa miris karena hilangnya beberapa pemain potensial Indonesia seperti Pratama Arhan, Sadil Ramdani, Asnawi Mangkualam, Witan Sulaiman dan yang lainnya karena kalah bersaing dengan pemain naturalisasi. Kondisi ini dirasakan oleh mereka karena para pembina tersebut memiliki ikatan emosional dengan proses pembinaan pemain. “Untuk apa kita melakukan pembinaan mulai dari level grassroots dan capek-capek mengikuti berbagai kompetisi, tapi produk dari semua itu tertutup oleh pemain naturalisasi ketika di level Timnas,” kira-kira begitu keluh kesah mereka.

Jerman dan Jepang sepertinya patut dijadikan contoh. Keduanya bukan negara yang anti naturalisasi, mereka juga seperti Indonesia, namun tidak masif. Mereka sadar bahwa ketika prestasi sepak bolanya terpuruk di pentas internasional, langkah pertama yang diperbaiki adalah segala aspek yang berkaitan dengan youth development-nya. Di Jepang anak-anak usia 12 tahun ke bawah sudah mendapatkan sentuhan pelatih yang berlisensi A, sementara di Indonesia kebanyakan anak seusia tersebut mayoritas masih ditangani pelatih lisensi C dan D, bahkan pelatih tidak berlisensi.

Tata kelola pemain usia muda juga masih sebatas musiman. Tim profesional Indonesia yang diamanahi pembinaan usia muda tidak semuanya menjalankan. Mereka sibuk melakukan seleksi pemain dari Sekolah Sepak Bola (SSB) dan menjelang kompetisi Elite Pro Academy (EPA) dilaksanakan, setelah selesai timnya dibubarkan tanpa pembinaan berkelanjutan. Begitu juga dengan Piala Soeratin, pelaksanaannya sebatas menggugurkan kewajiban. Itulah realitas pembinaan sepak bola Indonesia, wajar kalau sampai saat ini ketergantungan kepada pemain naturalisasi begitu besar. [*]

Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.