Sawah Petani di Bojonegoro Mulai Kekeringan, Sebagian Memilih Dibiarkan Bero
Bojonegoro (beritajatim.com) – Dampak yang terjadi saat musim kemarau di Kabupaten Bojonegoro mulai merambah lahan persawahan. Sejumlah petani mengeluhkan tanaman mereka rusak karena kesulitan mendapat aliran irigasi pertanian.
Seperti yang diungkapkan Rebo (66) petani asal RT 15 RW 4 Desa Karangdinoyo Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro. Walhasil, sawah yang kering tersebut oleh petani banyak yang dibiarkan bero atau tidak ditanami tanaman pertanian.
“Saat ini banyak persawahan dibiarkan bero (tidak ditanami) akibat kekeringan,” ujar Rebo saat curhat kepada Bhabinkamtibmas Desa Karangdinoyo Aipda Yudi, Sabtu (21/9/2024).
Walaupun persawahan di Desa Karangdinoyo mengalami kekeringan, namun kebutuhan air bersih untuk rumah tangga masing tercukupi dari sumur-sumur. “Untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga, masih tercukupi,” imbuh Rebo.
Sementara Aipda Yudi yang mendengarkan keluhan warganya mengatakan kebutuhan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari bisa diusulkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro dengan mengirimkan surat melalui Pemerintah Desa. “Jika sudah kekeringan, nanti melalui Pemerintah Desa segera bersurat ke BPBD untuk meminta bantuan air bersih,” ucap Aipda Yudi.
Sementara, dari data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, per Juli hingga 15 Agustus, lahan sawah yang mengalami kekeringan seluas 98 hektare. Tersebar di Kecamatan Ngambon seluas 32 hektare, Kecamatan Kapas 60 hektare, dan Kecamatan Balen seluas 6 hektare.
Sedangkan dampak kemarau pada warga yang kesulitan mendapat air bersih sekarang tersebar di 72 desa di 22 kecamatan. Sedangkna hasil assessment yang dilakukan BPBD Bojonegoro, potensi wilayah yang terdampak kekeringan pada tahun ini sebanyak 104 desa tersebar di 24 kecamatan. [lus/kun]
Link informasi : Sumber