SIKOMHATI.ID Ajarkan Siswa SMA Negeri 2 Playen Gunungkidul DIY Kelola Emosi dan Cegah Bullying
Gunungkidul (beritajatim.com) – Sebanyak 98 siswa SMA Negeri 2 Playen, Gunungkidul, DIY mengikuti implementasi dan sosialisasi SIKOMHATI.ID, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini tidak hanya mengenalkan teknologi literasi digital, tetapi juga mengajak siswa memahami diri, mengelola emosi, membangun empati, serta mencegah bullying dan cyberbullying.
Kegiatan yang berlangsung di Aula SMA Negeri 2 Playen tersebut merupakan bagian dari kolaborasi penelitian dan pengembangan SIKOMHATI.ID antara UPN “Veteran” Yogyakarta, Balai Tekkomdik DIY, dan SMA Negeri 2 Playen.
Dari 98 peserta, sebanyak 34 siswa berasal dari kelas X, 33 siswa kelas XI, dan 31 siswa kelas XII. Mereka mengikuti pemaparan materi, diskusi, hingga simulasi penggunaan prototipe SIKOMHATI.ID.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami pentingnya mengendalikan pikiran, perasaan, perkataan, dan tindakan. Kepala SMA Negeri 2 Playen Muh. Taufiq Salyono menekankan bahwa pengetahuan yang diperoleh siswa harus dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut dikaitkan dengan filosofi Yogyakarta “jalmo kang utomo”, yakni menjadi manusia yang memiliki keutamaan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Sementara itu, Suryanto dari Balai Pendidikan Menengah Gunungkidul mengingatkan bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Masa remaja merupakan fase penuh perubahan sehingga kemampuan mengenali diri dan menghadapi persoalan secara positif menjadi bekal penting.
Komet Sudarsono, Pengawas Pembina SMA Gunungkidul, juga mengaitkan Komunikasi Hati dengan pendidikan karakter dan budaya Yogyakarta. Nilai “mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi” dan “memayu hayuning bawana” dinilai relevan untuk membangun sikap saling menghargai dan tidak saling menjatuhkan.
Materi utama disampaikan Prof. Dr. Puji Lestari, S.IP., M.Si., penggagas Teori Komunikasi Hati sekaligus pencipta prototipe SIKOMHATI.ID.
Melalui tema “Cegah Bullying dan Cyberbullying dengan Komunikasi Hati: Menguatkan Potensi Diri & Ketangguhan Mental Remaja di Era Digital”, siswa diajak lebih berhati-hati ketika berkomunikasi di media digital.
Prof. Puji mengingatkan bahwa kecepatan seseorang menulis komentar atau mengunggah sesuatu sering kali tidak diikuti kepekaan terhadap perasaan orang lain. Candaan atau komentar yang dianggap biasa bisa saja menyakiti orang lain.
Teori Komunikasi Hati yang diperkenalkan dalam kegiatan ini mencakup empat unsur, yakni olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian hati.
Olah pikir mendorong siswa melihat persoalan secara rasional. Olah rasa membantu mereka mengenali dan mengendalikan emosi. Empati mengajak siswa memahami perasaan orang lain, sedangkan kedamaian hati diharapkan membuat seseorang mampu menghadapi tekanan dan tidak bertindak impulsif.
Siswa juga diajak menerapkan prinsip sederhana sebelum berinteraksi di ruang digital: berpikir sebelum bereaksi, mengenali emosi sebelum bertindak, dan bertanya “Bagaimana rasanya menjadi dia?”
Selain itu, diperkenalkan konsep “Tahu, Tanggap, dan Tangguh”. Siswa perlu tahu membedakan candaan dengan tindakan yang menyakiti, tanggap ketika melihat bullying, serta tangguh menghadapi komentar negatif dan tekanan lingkungan.
Kegiatan semakin menarik ketika siswa diberi kesempatan bercerita dan berdiskusi. Sejumlah siswa mengungkapkan pengalaman terkait bullying, mulai dari ejekan, pemberian nama panggilan, hingga komentar tentang kondisi fisik dan keluarga.
Diskusi tersebut membuat siswa menyadari bahwa candaan yang dianggap biasa oleh seseorang belum tentu dirasakan sama oleh orang lain.
Siswa juga diajak melakukan refleksi. Mereka tidak hanya ditanya apakah pernah menjadi korban, tetapi juga diajak berpikir apakah pernah menyakiti orang lain tanpa menyadarinya.
Salah seorang siswa kelas XII A, Revalia, menilai kegiatan tersebut menarik karena tidak hanya berisi materi satu arah. Ia juga tertarik dengan fitur konsultasi SIKOMHATI.ID yang dinilai dapat menjadi ruang alternatif bagi siswa untuk menyampaikan persoalan secara lebih nyaman.
Setelah mendapatkan materi, siswa mengikuti simulasi penggunaan prototipe SIKOMHATI.ID bersama tim Balai Tekkomdik DIY.
Dalam simulasi tersebut, siswa membuat akun, mengisi identitas, memilih SMA Negeri 2 Playen, kemudian mengikuti pre-test selama sekitar 15 menit.
Siswa kemudian diarahkan mengikuti aktivitas literasi melalui sistem yang dirancang berlangsung selama lima minggu dengan frekuensi empat kali dalam satu minggu.
Dengan pola tersebut, SIKOMHATI.ID tidak hanya menjadi media pembelajaran dalam satu kali kegiatan. Sistem ini dirancang sebagai bagian dari proses literasi dan refleksi siswa secara berkelanjutan.
Dari pihak sekolah, Guru BK SMA Negeri 2 Playen, Anissa, menyambut positif penerapan SIKOMHATI.ID. Menurutnya, sistem tersebut dapat membantu guru memanfaatkan teknologi dalam proses edukasi sekaligus memantau aktivitas siswa.
Guru dapat mengetahui siswa yang sudah maupun belum menyelesaikan aktivitas tanpa harus melakukan pengecekan secara manual.
Sistem tersebut juga dinilai fleksibel bagi siswa, termasuk mereka yang memiliki aktivitas tambahan seperti latihan olahraga. Aktivitas literasi dapat dilakukan sesuai jadwal tanpa harus terpaku pada jam tertentu.
Menurut Anissa, bullying di sekolah pernah ditemukan dalam bentuk ejekan, nama panggilan, sorakan ketika siswa tampil di depan kelas, hingga sindiran melalui media sosial.
Kondisi itu menunjukkan bahwa bullying tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang terlihat jelas. Karena itu, kemampuan memahami perasaan orang lain menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman
SIKOMHATI.ID menjadi bagian dari kolaborasi antara akademisi, teknologi pendidikan, sekolah, dan siswa. UPN “Veteran” Yogyakarta berperan dalam pengembangan konsep dan penelitian, Balai Tekkomdik DIY mendukung aspek teknologi pendidikan, sedangkan sekolah menjadi ruang penerapan program.
Program tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kecakapan menggunakan teknologi. SIKOMHATI.ID juga membawa pesan agar generasi muda memiliki empati, ketangguhan mental, serta kemampuan menjaga sikap dalam berkomunikasi.
Nilai-nilai Keistimewaan Yogyakarta seperti “jalmo kang utomo”, pengasahan budi, penghargaan terhadap perbedaan, dan “memayu hayuning bawana” diterjemahkan ke dalam perilaku sederhana: berpikir sebelum bereaksi, mengelola emosi, menjaga perkataan, serta memahami perasaan orang lain.
Di tengah kehidupan digital yang membuat seseorang dapat berkomentar hanya dengan satu sentuhan, SIKOMHATI.ID mengingatkan bahwa di balik setiap layar tetap ada manusia yang memiliki perasaan.
Karena itu, menjadi generasi yang cerdas digital bukan hanya soal mampu menggunakan teknologi. Lebih dari itu, generasi muda perlu memiliki empati, ketangguhan mental, kesadaran budaya, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi. [aje]
Link informasi : Sumber