UNESA Dorong Reog Ponorogo Jadi Inspirasi Produk Kriya untuk Kemandirian Ekonomi Perempuan

0

Ponorogo (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) membawa misi baru dalam pemberdayaan masyarakat di Ponorogo. Kampus tersebut tidak sekadar memberikan pelatihan keterampilan, tetapi mendorong kekayaan budaya lokal menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui pelatihan seni kriya berbasis kearifan lokal Ponorogo. Reog menjadi salah satu sumber inspirasi yang dikenalkan dalam pengembangan produk kerajinan tersebut.

Program tersebut dikemas dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Perempuan Berbasis Keterampilan Seni Kriya sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Hidup dan Kemandirian Ekonomi Perempuan di Desa Serag, Kecamatan Pulung, Ponorogo.

Kegiatan berlangsung 28-30 Agustus 2026 dengan menggandeng Sanggar Yayasan Rumah Budaya Harmini Parni sebagai mitra. Program ini menjadi kolaborasi antara S1 Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) FBS UNESA dan S3 Pendidikan Seni FBS UNESA. Melalui kegiatan tersebut, UNESA ingin mempertemukan seni, budaya, dan peluang ekonomi di tingkat masyarakat desa.

Ketua kegiatan pengabdian kepada masyarakat UNESA, Indar Sabri, mengatakan kegiatan ini menjadi kesempatan untuk membangun kolaborasi lintas program studi. Tim dari S3 Pendidikan Seni FBS UNESA terlibat langsung dalam memberikan pendampingan kepada peserta. Materi yang diberikan tidak dilepaskan dari potensi budaya yang dimiliki Ponorogo. Salah satunya dengan mengembangkan elemen Reog menjadi inspirasi produk kerajinan yang dapat diproduksi secara rumahan.

“Jadi ini pertama kali kita berkolaborasi antara 2 program studi, antara S1 Sendratasik FBS UNESA dan S3 Pendidikan Seni FBS UNESA. Kali ini, kita lakukan Pemberdayaan Perempuan Berbasis Keterampilan Seni Kriya sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Hidup dan Kemandirian Ekonomi Perempuan di Desa Serag,” kata Indar, Sabtu (29/8/2026).

Dalam pelaksanaannya, UNESA memberikan pelatihan pembuatan gantungan kunci kekinian yang dapat dikembangkan sebagai produk home industry. Peserta diarahkan untuk tidak hanya menguasai teknik pembuatannya. Mereka juga diajak menggali identitas lokal sebagai ciri khas produk yang dihasilkan. Reog Ponorogo dan sejumlah elemennya menjadi salah satu pilihan yang dapat diolah menjadi desain kerajinan.

Selain gantungan kunci, pelatihan juga menyasar teknik batik ikat dan batik ecoprint. Namun, praktik ecoprint menghadapi kendala karena tidak semua jenis daun yang tersedia mampu menghasilkan warna sesuai harapan. Kondisi tersebut membuat tim kemudian lebih memaksimalkan pelatihan batik ikat. Hasil karya peserta selanjutnya dipamerkan dalam rangkaian kegiatan yang digelar di Desa Serag.

“Dua hari ini kami melakukan pendampingan berupa pembuatan gantungan kunci, batik ikat dan batik ecoprint sebenarnya. Hanya saja untuk batik ecoprint kita kesulitan. Ternyata di sini daun-daunnya tidak menghasilkan warna yang bagus. Sehingga dimaksimalkan pada pelatihan batik ikat. Nah, nanti hasilnya akan kita pamerkan,” katanya.

Menurut Indar, target kegiatan tersebut bukan sekadar membuat peserta mampu menghasilkan karya. UNESA ingin keterampilan yang diberikan dapat menjadi bekal untuk membangun kemandirian ekonomi. Produk kerajinan yang dihasilkan diharapkan bisa dikerjakan dari rumah dan dikembangkan secara bertahap. Dengan demikian, kegiatan pengabdian masyarakat memiliki dampak yang bisa terus berjalan setelah program selesai.

“Harapannya kami bahwa pengabdian kepada masyarakat ini, adalah sesuatu yang diberikan kepada masyarakat sebuah keterampilan dan ilmu pengetahuan. Sehingga bagaimana para perempuan-perempuan Desa Serag ini, bisa mandiri ekonomi. Harapannya yaitu di mana setelah ini mereka bisa secara mandiri memproduksi gantungan kunci kekinian dari tema-tema budaya lokal, serta batik ikat juga sebagai komoditi,” jelasnya.

Konsep yang dibawa UNESA bahkan tidak berhenti pada istilah ekonomi kreatif. Indar menyebut pihaknya tengah mendorong gagasan ekonomi budaya dengan menjadikan kearifan lokal sebagai fondasi produk yang memiliki nilai ekonomi. Dalam konteks Ponorogo, Reog dinilai memiliki ruang besar untuk dieksplorasi menjadi berbagai bentuk produk kreatif. Langkah tersebut sekaligus menjadi cara agar kekayaan budaya daerah dapat terus hadir dalam kehidupan masyarakat.

“Saat ini kita juga sedang meng-create bagaimana caranya meningkatkan ekonomi. Ekonomi budaya, bukan ekonomi kreatif lagi. Tetapi bagaimana kita meningkatkan ekonomi budaya dengan produk-produk berkreatif berbasis dari kearifan lokal. Mengeksplorasi Reog Ponorogo misalnya, dengan menghasilkan produk-produk kreatif,” ungkap Indar.

Salah satu peserta, Suryati, mengaku pelatihan tersebut memberinya pengalaman baru. Sebelumnya, dirinya belum pernah membuat batik dan baru pertama kali mengikuti kegiatan serupa. Selain batik, peserta juga mendapatkan pengalaman membuat gantungan kunci. Menurutnya, proses belajar menjadi lebih mudah setelah mengetahui teknik dasar pembuatannya. “Tidak ada kesulitan, cuma ini pertama kali, belum bisa, belum mengerti caranya,” kata Suryati.

Suryati juga mulai memiliki gagasan untuk mengembangkan keterampilan tersebut menjadi kegiatan usaha. Meski belum menentukan langkah selanjutnya, pengetahuan mengenai teknik pembuatan menjadi modal awal. Dia menilai pengalaman tersebut membuka kemungkinan untuk membuat produk secara mandiri. Terlebih, keterampilan yang diperoleh bisa terus dipraktikkan setelah kegiatan berakhir. “Bisa dikembangkan sebagai usaha rumahan,” ungkap Suryati.

Indar menegaskan, keberadaan Sanggar Yayasan Rumah Budaya Harmini Parni juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Kemitraan itu diharapkan membuat proses pemberdayaan tidak berhenti ketika tim UNESA meninggalkan lokasi. Peserta juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan yang diperoleh kepada komunitas perempuan lainnya. Dengan pola tersebut, transfer pengetahuan bisa berlangsung lebih luas di masyarakat Desa Serag.

“Melalui kegiatan ini, kami juga berterima kasih kepada sanggar Rumah Budaya Harmini Parni ini sebagai mitra kami di sini,” pungkasnya.

Kegiatan PKM tersebut melibatkan sejumlah dosen Prodi S3 Pendidikan Seni FBS UNESA. Tim terdiri atas Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd., Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn., Prof. Dr. H. Setya Yuwana, M.A., Prof. Dr. Hj. Warih Handayaningrum, M.Pd., dan Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi menjalankan peran pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan seni. Di sisi lain, kegiatan itu membuka ruang agar kekayaan budaya Ponorogo dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. (end/kun)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.