Wabup Magetan Dorong Siswa SMP Bawa Tumbler dan Kotak Makan

0

Magetan (beritajatim.com) – Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dengan memulai edukasi dari lingkungan sekolah. Siswa sekolah menengah pertama (SMP) menjadi sasaran awal program tersebut, dengan penekanan pada pengurangan sampah sejak dari sumbernya, bukan sekadar penanganan sampah yang sudah menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA).

Menurut Suyatni, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut dan menumpuk sampah di TPA. Upaya pengurangan perlu dilakukan sejak sampah dihasilkan agar volume yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan dan sampah tidak berserakan di lingkungan masyarakat.

Ia menilai, salah satu tantangan utama dalam pengurangan sampah adalah membangun kesadaran bahwa setiap orang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya. Perubahan perilaku tersebut membutuhkan proses pendidikan yang berkelanjutan, sehingga tidak cukup hanya mengandalkan penyediaan fasilitas maupun aturan.

“Intinya kita ini berangkat dari masalah karena sampah itu banyak. Sampah harus dikurangi sampai ke TPA. Karena kalau di TPA tidak diolah terus sampah itu terus, tanpa ada cara mengurangi sampah, maka sulit untuk menyelesaikan atau mengurangi sekecil mungkin sampah di tingkat hilir,” ujar Suyatni.

SMP Jadi Sasaran Awal, Fokus pada Pembentukan Pola Pikir

Ia menambahkan, kebiasaan mengurangi sampah perlu ditanamkan sejak dini melalui lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sekolah dipilih sebagai titik awal karena menjadi tempat yang memungkinkan edukasi dilakukan secara terarah dan diterapkan dalam aktivitas rutin siswa.

SMP menjadi sasaran awal karena pendidikan pengurangan sampah pada jenjang sekolah dasar dinilai masih membutuhkan pendekatan yang lebih panjang. Sementara itu, pengelolaan pendidikan tingkat SMA berada dalam kewenangan pemerintah provinsi.

Suyatni menegaskan, tahap awal program ini lebih mengutamakan pengenalan dan pembentukan pola pikir siswa daripada mengejar capaian kuantitatif pengurangan sampah dalam waktu singkat.

“Di tahap ini yang utama adalah proses pembelajaran. Pengenalan, supaya semua tahu maksud dan tujuannya itu apa. Yang paling inti, siswa supaya tahu bahwa tujuannya adalah mengurangi sampah,” katanya.

Ajak Siswa Bawa Tumbler dan Kotak Makan Sendiri

Salah satu langkah yang didorong adalah membiasakan siswa membawa botol minum atau tumbler dan kotak makan sendiri. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, terutama plastik, dalam aktivitas di sekolah.

Konsep itu juga menyasar kantin sekolah. Pengelola kantin didorong untuk mengurangi penyediaan makanan dan minuman dalam kemasan sekali pakai. Siswa dapat membawa wadah sendiri ketika membeli makanan maupun minuman, sehingga sampah kemasan yang biasanya dihasilkan setiap hari bisa ditekan.

Selain mengurangi kemasan, Suyatni mengusulkan pengurangan jumlah tempat sampah di lingkungan sekolah sebagai bagian dari pendekatan edukasi. Menurut dia, ketersediaan tempat sampah di berbagai titik tidak boleh membuat warga sekolah mengabaikan upaya mengurangi sampah sejak awal.

Dalam penerapannya, siswa juga didorong membawa kembali sampah yang dihasilkan, termasuk sisa makanan atau bungkus yang masih terbawa setelah beraktivitas di sekolah. Dengan begitu, mereka belajar mengenali dan bertanggung jawab atas sampah masing-masing.

Perlu Pengaturan Jelas Agar Sampah Tak Menumpuk di Kelas

Namun, penerapan konsep tersebut membutuhkan pengaturan yang jelas agar sampah tidak justru menumpuk di kelas atau terbawa pulang tanpa penanganan yang tepat. Sampah organik, sisa makanan, dan sampah yang berpotensi didaur ulang tetap memerlukan pengelolaan sesuai jenisnya.

Selain sampah kemasan, Suyatni turut menyoroti limbah pembalut sekali pakai yang dihasilkan perempuan selama menstruasi. Ia mendorong pengenalan alternatif pembalut kain yang dapat dicuci dan digunakan kembali sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi sampah.

Menurut dia, penggunaan produk sekali pakai secara berulang dapat menghasilkan timbunan sampah dalam jumlah besar apabila dilakukan oleh banyak orang. Meski demikian, edukasi mengenai alternatif pembalut perlu disertai informasi tentang kebersihan, perawatan, dan keamanan penggunaannya agar masyarakat dapat mempertimbangkan pilihan yang sesuai.

Suyatni menilai, berbagai langkah tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan perilaku, bukan semata-mata program untuk mengejar penurunan volume sampah dalam jangka pendek.

Keberlanjutan Program Jadi Tantangan, Butuh Komitmen Bersama

Ia juga mengakui keberlanjutan program di sekolah menjadi tantangan tersendiri. Pergantian kepala sekolah dapat memengaruhi pelaksanaan kegiatan apabila tidak disertai kesadaran dan komitmen yang kuat dari pihak sekolah.

“Kesadaran kita ini harus mendidik siswa bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya. Itu intinya,” tegasnya.

Karena itu, pembentukan kebiasaan mengurangi sampah perlu melibatkan berbagai unsur di lingkungan pendidikan, mulai dari siswa, guru, kepala sekolah hingga perangkat daerah terkait. Konsistensi menjadi penting agar program tidak berhenti ketika terjadi pergantian pimpinan atau perubahan kebijakan internal sekolah.

Dalam jangka panjang, Suyatni berharap kebiasaan yang terbentuk di sekolah dapat terbawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Siswa diharapkan tidak hanya menerapkan perilaku bertanggung jawab terhadap sampah secara pribadi, tetapi juga mampu mengingatkan orang-orang di sekitarnya.

Belajar dari Jepang dan Korea, Bangun Prinsip “Sampahmu Tanggung Jawabmu”

Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat di Jepang dan Korea yang dinilainya menunjukkan pentingnya pendidikan kedisiplinan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menurut dia, kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan perlu dibangun melalui pembiasaan, bukan hanya mengandalkan banyaknya tempat sampah yang tersedia.

Suyatni menekankan, pesan yang ingin ditanamkan melalui program tersebut adalah prinsip “sampahmu tanggung jawabmu, sampahku tanggung jawabku”. Prinsip ini diharapkan menjadi dasar perubahan perilaku masyarakat Magetan dalam mengurangi sampah dari sumbernya.

Untuk tahap awal, pemerintah daerah mengutamakan edukasi dan pengenalan konsep kepada warga sekolah. Perkembangan program selanjutnya akan bergantung pada konsistensi penerapan dan keterlibatan seluruh unsur pendidikan, sebelum dampaknya terhadap pengurangan sampah dapat dinilai secara lebih terukur. [fiq/but]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.