Wamenhaj Bongkar Akar Masalah Jemaah Terlantar Tak Dapat Tenda Mina
RINGKASAN BERITA:
- Wamenhaj Dahnil Anzar menyidak maktab Mina untuk mengaudit kesiapan fasilitas kasur and toilet menjelang puncak Masyair.
- Bertahun-tahun jemaah terlantar akibat pembiaran kapasitas tenda tanpa hitungan pasti sehingga rawan diselewengkan oknum syarikah.
- Petugas menyita paksa label pengkavlingan sepihak yang dipasang secara ilegal oleh sejumlah pengurus KBIHU di pintu tenda Mina.
- Kemenhaj RI menjamin hak tenda bagi jemaah tarwiyah pada 8 Dzulhijjah maupun jemaah reguler saat mabit lempar jumrah terplot aman.
Makkah (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Republik Indonesia sekaligus Naib Amirul Hajj, Dahnil Anzar Simanjuntak, membongkar akar masalah kronis yang menyebabkan jemaah haji Indonesia kerap terlantar and tidak mendapatkan tempat tidur di Mina pada musim-musim haji terdahulu.
Pembiaran tata kelola maktab tanpa adanya audit fisik and penghitungan pasti terhadap jumlah kasur portabel (bed) oleh otoritas masa lalu dinilai menjadi celah lebar yang rawan diselewengkan oleh pihak perusahaan mitra (syarikah) Arab Saudi.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, temuan krusial penataan ruang Masyair ini diungkapkan Wamenhaj saat menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah maktab di Mina, Sabtu (23/5/2026) petang Waktu Arab Saudi (WAS).
Langkah korektif satu komando ini sengaja digencarkan demi mengunci asas pelayanan positif and membuang jauh kecemasan pihak keluarga di tanah air, memastikan 203.320 kuota jemaah haji reguler nasional terlindungi secara adil di bawah kepungan suhu panas ekstrem Makkah yang menyentuh angka 44 derajat Celsius.
Dalam sidak tersebut, Dahnil membeberkan bahwa selama bertahun-tahun penyelenggaraan haji, pemerintah tidak pernah melakukan pengecekan rigid and penghitungan riil antara dokumen kontrak dengan fisik tenda di lapangan. Akibat kelengahan sirkulasi makro tersebut, jemaah haji mandiri and lansia kerap menjadi korban akibat ruang geraknya diserobot oleh pengkavlingan ilegal Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
“Jadi gak bisa seenaknya, wah di sini enak nih tempat di sini, kemudian datang tempelin mereka, tidak bisa begitu. Karena sudah diatur oleh Kementerian Haji dan Umrah,” tegas Dahnil Anzar di hadapan para petugas pemandu kloter.
Di lokasi tenda Mina, Dahnil mendapati tumpukan lembaran kertas label kaveling milik oknum KBIHU tertentu yang telah disita dan dicopot paksa oleh para petugas Linjam yang bersiaga di lapangan.
Guna menghentikan praktik buruk warisan pola lama tersebut, Kemenhaj RI menerapkan standardisasi era Presiden Prabowo Subianto berupa penempelan lembar kapasitas maksimal serta daftar nama jemaah secara transparan (by name) pada tiang luar tenda.
Pria yang dikenal sebagai orang dekat Kepala Negara ini juga menyisir area dalam maktab untuk menghitung secara manual rasio ketersediaan kasur busa agar sesuai dengan total manifes jemaah yang berhak masuk.
“Teman-teman petugas sudah dihitung?” tanya Dahnil kepada para petugas yang sedang berjaga di tenda Mina tersebut memastikan bed atau tempat tidur sesuai yang tertulis.
“Hari ini saya dan kawan-kawan meninjau pembersihan kaveling-kaveling yang dilakukan oleh KBIHU atau oknum-oknum tertentu. Dan kedua saya memastikan jumlah tenda sesuai dengan kebutuhan tidak ada jemaah yang tidak dapat tenda serta tempat tidur, kemudian juga mengecek fasilitas kamar mandi dan toilet,” urai Wamenhaj merinci target sterilisasi.
Ketegasan pemetaan ruang ini dirancang secara rigid untuk memfasilitasi pergerakan dua skema besar jemaah Indonesia. Bagi rombongan yang mengambil rute sunah Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah (Senin, 25 Mei 2026), Kemenhaj menjamin posisi tenda mereka telah diplot secara aman sebelum pergeseran massal wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah (Selasa, 26 Mei 2026) dibuka.
Pemetaan serupa dikunci untuk menampung seluruh jemaah yang akan kembali lagi ke Mina untuk tinggal selama beberapa hari (mabit) dalam prosesi melontar batu di Jamarat (Ula, Wustha, Aqobah) hingga tanggal 13 Dzulhijjah mendatang.
“Mereka yang akan melakukan tarwiyah juga sudah tahu tenda yang mana mereka akan tinggal sebelum wukuf dan selama lempar jumrah,” terang Dahnil. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber