Menyusuri Citarasa Unik Brambang Asem, Jejak Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka

0

Solo (beritajatim.com) — Kota Solo tidak hanya dikenal melalui nasi liwet, selat Solo, timlo, atau tengkleng. Di balik deretan kuliner tersebut, terdapat brambang asem, makanan tradisional yang tampil sederhana tetapi memiliki cita rasa khas dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner masyarakat Surakarta yakni Brambang Asem.

Brambang asem pada dasarnya berupa pucuk daun ubi jalar yang direbus, kemudian disiram sambal khas berbahan bawang merah, cabai, gula jawa, dan asam jawa. Hidangan ini umumnya dilengkapi tempe gembus, sehingga menghadirkan perpaduan rasa pedas, manis, asam, dan gurih dalam satu sajian.

Nama brambang asem juga berkaitan langsung dengan karakter sambalnya. Dalam bahasa Jawa, brambang berarti bawang merah. Sementara asem merujuk pada penggunaan asam jawa yang memberikan rasa segar dan sedikit masam pada sambal.

Yang membuat makanan ini berbeda dari sajian sayuran lainnya adalah sambalnya. Bawang merah biasanya dibakar terlebih dahulu sebelum diolah bersama cabai, gula jawa dan asam jawa. Racikan tersebut kemudian menghasilkan sambal yang cenderung lebih encer dibandingkan sambal lotis, dengan rasa pedas, manis dan asam yang menonjol.

Pucuk daun ubi yang digunakan juga bukan sembarang bagian. Daun muda tersebut direbus hingga matang, kemudian menjadi bahan utama yang disantap bersama sambal. Tempe gembus menjadi pendamping yang tidak kalah penting. Tempe yang dibuat dari ampas tahu itu biasanya dimasak dengan cara dibacem sehingga rasa manis-gurihnya menjadi penyeimbang sambal brambang asem yang pedas dan asam.

Melansir Pusat Unggulan Iptek Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS), brambang asem memiliki kemiripan dengan pecel karena sama-sama menggunakan sayuran sebagai bahan utama. Namun, keduanya memiliki karakter bumbu yang berbeda.

Pada brambang asem, cita rasa khas justru muncul dari perpaduan bawang merah, cabai, gula aren atau gula jawa dan asam jawa. Kehadiran tempe gembus juga menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari pecel.

Sajian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa memanfaatkan bahan pangan sederhana menjadi makanan yang bercita rasa kuat. Daun ubi yang mudah ditemukan dipadukan dengan tempe gembus dan bumbu dapur sehari-hari.

Namun, keberadaan brambang asem kini tidak semudah menemukan kuliner Solo yang lebih populer. PUI Javanologi UNS menyebut makanan ini sudah relatif jarang ditemui, meskipun masih dapat ditemukan di sejumlah lokasi kuliner tradisional di Solo, termasuk kawasan Pasar Gede.

PUI Javanologi UNS juga menyebut brambang asem sebagai salah satu makanan yang mulai langka. Hidangan ini dahulu banyak dijual sebagai jajanan sederhana di pasar tradisional maupun pinggir jalan.

Meski demikian, brambang asem masih memiliki tempat di tengah perkembangan kuliner Solo. Sejumlah warung tradisional di Surakarta hingga kini tetap menawarkan menu tersebut.

Salah satunya Rujak Lotis & Brambang Asem Mbah Wongso Yu Tari di Jalan Gatot Subroto, Kemlayan, Serengan. Tempat ini dikenal antara lain dengan menu brambang asem dan rujak. Ada pula Bakmi Toprak & Brambang Asem MBAH SAR di kawasan Setabelan, Banjarsari, yang menyediakan brambang asem bersama sejumlah menu tradisional lainnya.

Brambang asem bukan makanan dengan bahan mahal atau teknik memasak rumit, melainkan sajian sederhana yang mengandalkan kualitas bahan dan keseimbangan bumbu.

Keunikan brambang asem terletak pada pengalaman rasanya. Daun ubi memberikan tekstur lembut, sambal menghadirkan sensasi pedas, manis dan asam, sedangkan tempe gembus menambahkan rasa gurih sekaligus tekstur yang berbeda.

Karakter tersebut membuat brambang asem tidak sekadar makanan pelengkap perjalanan kuliner di Solo. Hidangan ini juga menjadi bagian dari warisan pangan tradisional yang menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan sederhana menjadi sajian bercita rasa khas. [aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.