Atasi Kemacetan Panjang Pelabuhan Ketapang, BHS Berikan Solusi Pemangkasan Waktu Bongkar Muat
Banyuwangi (beritajatim.com) – Kemacetan yang terjadi di lintas Pelabuhan Ketapang masih berlanjut hingga Senin (28/9/2026). Terpantau hingga sore, antrean masih mengular panjang hingga kurang lebih 11 kilometer.
Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), saat melakukan peninjauan ke Pelabuhan Ketapang mengaku prihatin akibat kejadian yang terus berulang tersebut.
Melihat antrean, dia mengaku tentunya dampak yang terjadi dirasakan oleh seluruh masyarakat pengguna jasa penyeberangan lintas Pelabuhan Ketapang.
“Saya pertama tentu sangat prihatin ya, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang ingin menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk atau sebaliknya, terjadi kemacetan ini,” ujar BHS di Pelabuhan Ketapang, Senin.
Sebagai langkah cepat, Politisi Gerindra ini menggelar rapat koordinasi bersama pimpinan dan anggota DPRD Banyuwangi, ASDP Ketapang, KSOP, BPTD, kepolisian, hingga perwakilan asosiasi pengusaha pelayaran sehingga menemukan solusi.
Seperti fokus utama dari pertemuan tersebut adalah merumuskan kesepakatan bersama untuk meningkatkan kapasitas angkutan tanpa harus menunggu proses perbaikan infrastruktur selesai seluruhnya.
Selain itu, poin krusial yang disepakati adalah pemangkasan waktu durasi bongkar muat (wet docking) kapal penyeberangan, baik jenis LCM maupun kapal Motor Penumpang (KMP).
Diakui waktu bongkar muat yang sebelumnya memakan durasi hingga 35 menit per kapal. Sedangkan, saat ini solusi baru yang disepakati yakni dipercepat menjadi hanya 15 menit saja.
“Dengan cara mempercepat atau memotong waktu bongkar muat, yang tadinya 35 menit ini bisa di-reduce lagi sampai 15 menit. Berarti apa? Ada penambahan kapasitas angkut sebesar lebih dari 50 persen dalam satu hari,” ujarnya.
BHS mengaku, penambahan kapasitas angkut dinilai mampu menutupi penurunan kapasitas operasional sebesar 20 persen yang saat ini dipicu oleh peningkatan perbaikan dermaga ponton oleh ASDP menjadi dermaga berkapasitas 50 ton (MB).
Pihaknya meyakinkan bahwa durasi 15 menit tersebut sangat rasional karena dirinya sudah pernah melakukan uji coba simulasi secara langsung pada kapal miliknya.
“Saya sudah coba sendiri, di kapal saya yang paling besar panjangnya 70 meter, itu hanya 9 menit bongkar sama muat. Sekarang ini diberi waktu 15 menit, jadi ini sudah saya aplikasikan,” jelasnya.
Selain memangkas durasi operasional kapal, BHS juga mendorong optimalisasi fasilitas fisik di dermaga plengsengan Pelabuhan Gilimanuk agar kapasitas sandar bertambah.
“Dermaga yang ada di plengsengan saat ini kan hanya untuk 3 kapal. Itu kalau dipanjangkan floor-nya atau lantainya, kapal itu bisa 4 kapal langsung. Berarti ada penambahan satu pasang dermaga lagi,” kata dia.
BHS juga menyoroti pengaktifan Dermaga Bulusan serta meminta ASDP segera merespons kebutuhan fender dolphin di lokasi tersebut.
“Saya optimistis jika seluruh solusi teknis dan percepatan administrasi SPB ini dijalankan dengan konsisten, kemacetan di Lintas akan terurai dan siap menghadapi lonjakan arus libur Nataru 3 bulan mendatang,” jelasnya.
General Manager (GM) ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menambahkan terkait kesiapannya untuk menjalankan skema percepatan waktu bongkar muat kapal demi mengurai kemacetan panjang di Lintas Ketapang-Gilimanuk.
Dengan diterapkannya pemangkasan waktu bongkar muat menjadi 15 menit, ASDP optimistis dapat memaksimalkan kapasitas tampung dan menguras antrean kendaraan di luar area pelabuhan secara bertahap.
“Saya pikir paling efektif memang mempercepat waktu, dari tadi diminta sama Pak Bambang, Pak sama DPR, sama Bapak Dewan, dari 35 ke 15 menit. Ini harus kami terapkan,” tandas Media. [kun]
Link informasi : Sumber