Kyokushinkai Surabaya, Membentuk Mental Baja dan Melawan Bullying Lewat Karate
Ringkasan Berita:
- PMK Kyokushinkai Karate-Do Indonesia mengedepankan pembinaan fisik, mental, disiplin, dan pengendalian diri.
- Sejumlah karateka mengaku latihan membantu meningkatkan kepercayaan diri, mengelola emosi, dan menghadapi pengalaman bullying.
- Dukungan keluarga dan pembinaan berjenjang menjadi bagian penting dalam regenerasi atlet Kyokushinkai di Surabaya.
- Selain berlatih dan berkompetisi, para karateka didorong mengembangkan empati melalui kegiatan sosial kemasyarakatan.
Surabaya (beritajatim.com) – Suara hentakan kaki dan pukulan terdengar bergemuruh dari dalam arena latihan. Tubuh para karateka bergerak dinamis mengikuti aba-aba sensei atau guru. Latihan berlangsung dengan intensitas tinggi, tetapi bukan sekadar untuk menempa fisik dan kemampuan bertarung.
Di balik sistem latihan yang dikenal dengan full body contact, Pembinaan Mental Karate (PMK) Kyokushinkai Karate-Do Indonesia membawa misi yang lebih luas, yakni membentuk mental tangguh, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, sekaligus karakter luhur para karateka.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam pembinaan Kyokushinkai di Surabaya. Salah satu basis latihan yang aktif membina atlet dan regenerasi berada di Dojo Graha Family, selain pusat latihan yang berlangsung di GOR Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Bagi para pembina, karate bukan hanya tentang kemampuan mengalahkan lawan di arena. Latihan juga menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk mengenali kemampuan diri, belajar menghadapi tekanan, serta membangun rasa percaya diri. Nilai-nilai itu dinilai relevan di tengah persoalan perundungan atau bullying yang masih menjadi perhatian orang tua dan lingkungan sekolah.
Fisik Kuat Harus Diimbangi Mental Tangguh
Shihan Hartanto Chandra, salah satu instruktur senior PMK Kyokushinkai Karate-Do Indonesia, mengungkapkan bahwa latihan fisik merupakan fondasi utama untuk membentuk seorang karateka. Namun, kekuatan fisik harus berjalan beriringan dengan ketangguhan mental agar para atlet mampu menghadapi tantangan, termasuk saat mengikuti kompetisi dan kejuaraan.
“Selain fisik, pembinaan mental para atlet sangat diperlukan agar terbangun mentalitas yang tangguh, terutama saat menghadapi kompetisi dan kejuaraan,” ujarnya.
Menurut Hartanto, keberhasilan pembinaan juga membutuhkan sinergi dan dukungan orang tua. Para orang tua perlu memahami bahwa metode latihan yang terlihat keras bukan bertujuan mengajarkan kekerasan. Sebaliknya, kedisiplinan dalam latihan diarahkan untuk membentuk karakter, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri.
“Memang diperlukan kedisiplinan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat keras atau kasar. Padahal, tujuannya murni untuk kedisiplinan. Itu yang jauh lebih utama,” tegasnya.
Dalam proses pembinaan, para karateka dilatih mengikuti aturan, menghormati instruktur, dan memahami batas kemampuan masing-masing. Ketangguhan tidak hanya diukur dari seberapa kuat seseorang menghadapi benturan fisik, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan emosi dan bersikap ketika menghadapi situasi sulit.
Bukan Sekadar Bisa Bertarung
Kyokushinkai memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan sejumlah aliran karate lainnya. Sistem latihannya mengedepankan full body contact, dengan pembinaan fisik dan teknik yang dilakukan secara terstruktur serta bertahap. Persiapan tersebut diperlukan agar karateka dapat menjalani latihan sesuai tingkat kemampuan dan kesiapan fisiknya.
Sensei Lukman Hadi, pelatih dan pembina senior Kyokushinkai Surabaya yang telah bergabung sejak awal dekade 1970-an, menjelaskan bahwa fisik, stamina, dan teknik merupakan pilar utama latihan. Ia pernah membina sejumlah cabang sebelum melanjutkan pembinaan di Surabaya.
Namun, seluruh unsur latihan tersebut, menurut Lukman, bermuara pada pembentukan mental dan kepatuhan terhadap nilai-nilai positif.
“Fisik, stamina, dan teknik itu utama. Filosofi full body contact digunakan untuk pembentukan mental, kedisiplinan, dan kepatuhan,” kata Lukman.
Ia menambahkan, penguatan otot dan penguasaan teknik dilakukan secara bertahap. Bahkan, tradisi berteriak di dalam dojo atau tempat latihan bukan sekadar menunjukkan keberanian, melainkan juga menjadi bagian dari latihan pernapasan dan penguatan inti tubuh.
“Setelah fisik dan kepercayaan diri terbentuk, baru kemudian berkembang ke teknik. Itu yang kita fokuskan terlebih dahulu,” ujarnya.
Pendekatan bertahap tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan agar karateka tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga memahami disiplin dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Berawal dari Pengalaman Mengatasi Bullying
Bagi sebagian anak muda, keputusan bergabung dengan Kyokushinkai berawal dari pengalaman pribadi di lingkungan sosial, termasuk pengalaman menghadapi perundungan di sekolah.
Rinjani Aurellia, karateka berusia 15 tahun asal SMP Negeri 10 Surabaya, mengaku mulai mengikuti karate karena ingin membangun kepercayaan diri setelah mengalami pengalaman sosial yang kurang menyenangkan. Setelah berlatih selama empat hingga lima tahun, ia merasakan perubahan dalam cara menghadapi situasi sehari-hari.
“Saya ingin meningkatkan kepercayaan diri. Setelah ikut karate, perubahannya cukup drastis; saya lebih bisa mengontrol emosi dan berkomunikasi dengan baik, baik dengan teman sebaya maupun lawan jenis,” tutur Rinjani.
Bagi Rinjani, manfaat karate tidak berhenti pada kemampuan menghadapi lawan di arena. Ia juga merasakan perubahan dalam mengelola emosi dan berinteraksi dengan orang lain. Pengalaman tersebut membuatnya melihat latihan sebagai sarana membangun ketenangan dan kepercayaan diri.
Pengalaman serupa dirasakan Rianna Forto, salah seorang warga karate PMK Kyokushinkai Surabaya. Menurut dia, latihan karate memberinya rasa percaya diri untuk beraktivitas secara mandiri.
“Karate sangat penting, terutama di zaman sekarang ketika kejahatan semakin banyak. Ikut karate membuat kita lebih percaya diri dan bisa melindungi diri,” katanya.
Selain mempelajari teknik bela diri, Rianna merasakan manfaat berupa kebugaran tubuh dan kedisiplinan, termasuk dalam menghormati orang yang lebih tua serta pelatih. Setelah empat bulan berlatih, ia mengaku lebih tenang ketika harus beraktivitas hingga malam hari.
Pengalaman para karateka tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan bela diri dapat menjadi salah satu sarana untuk membangun kepercayaan diri. Meski demikian, kemampuan bela diri tetap perlu diimbangi dengan pengendalian diri dan pemahaman bahwa penyelesaian persoalan tidak harus dilakukan melalui konfrontasi fisik.
Peran Keluarga: Dari Satu Anak Menular ke Saudara
Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam pembinaan Kyokushinkai. Salah seorang orang tua, Desi, bahkan mengikutsertakan ketiga anaknya—satu perempuan dan dua laki-laki dengan rentang usia dari anak-anak hingga remaja—dalam latihan karate.
Keputusan tersebut berawal dari pengalaman anak pertamanya yang pernah mengalami perundungan dan nyaris menjadi korban pelecehan. Pengalaman itu membuat Desi berpikir bahwa anak-anak perlu memiliki keberanian, rasa percaya diri, dan kemampuan menjaga diri ketika menghadapi situasi yang tidak aman.
“Saya bilang, enggak 24 jam mami akan stay buat kamu. Anak perempuan juga harus fight,” tuturnya.
Dari anak pertama, kedua adiknya kemudian ikut berlatih. Desi menyebut ketiga anaknya sama-sama memiliki pengalaman perundungan di sekolah. Setelah mengikuti karate, ia melihat perubahan dalam kepercayaan diri, kedisiplinan, pengendalian emosi, serta keberanian mereka untuk menjaga diri dan membantu teman.
Bahkan, dua di antara anak-anaknya telah mengikuti berbagai kompetisi, termasuk kejuaraan nasional.
Bagi keluarga, latihan karate tidak hanya berkaitan dengan kemampuan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membekali anak menghadapi situasi sosial yang menantang. Dukungan orang tua turut membantu anak menjalani latihan secara konsisten dan mengembangkan kemampuan sesuai tahapan pembinaan.
Surabaya Jadi Salah Satu Basis Penting Kyokushinkai
Pembinaan yang berlangsung secara konsisten menjadikan Surabaya salah satu basis penting Kyokushinkai di Jawa Timur, dengan jumlah anggota yang tergolong besar.
Sensei Arief Sugiarto, pembina Dojo Kupang Jaya, menjelaskan bahwa pembinaan menggunakan kurikulum terpusat untuk memetakan bakat dan minat atlet. Para karateka diarahkan untuk mengembangkan kemampuan pada nomor kumite atau pertarungan maupun kata, yakni rangkaian gerakan atau jurus yang memiliki pola dan teknik tertentu.
Menurut Arief, minat terhadap kedua nomor tersebut terpantau seimbang. Antusiasme masyarakat untuk mengikuti latihan juga terus meningkat, seiring perhatian orang tua terhadap persoalan perundungan dan pentingnya membangun kepercayaan diri anak.
Pemetaan bakat melalui kurikulum pembinaan menjadi salah satu cara untuk mengarahkan karateka sesuai potensi masing-masing. Dengan demikian, pembinaan tidak hanya berorientasi pada prestasi kompetisi, tetapi juga pada perkembangan kemampuan dan karakter para peserta latihan.
Menanamkan Empati Lewat Kegiatan Sosial
Pembentukan karakter dalam PMK Kyokushinkai tidak berhenti di dalam dojo. Nilai kedisiplinan, rasa hormat, dan kepedulian terhadap sesama juga diwujudkan melalui kegiatan sosial kemasyarakatan.
Salah satunya melalui kegiatan bakti sosial ke YPAC Surabaya. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menanamkan empati dan rasa hormat kepada sesama, termasuk kepada penyandang disabilitas. Pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kondisi fisik dan stamina para peserta.
Kegiatan sosial tersebut memperluas makna latihan karate, yang tidak hanya mengajarkan ketangguhan menghadapi tantangan, tetapi juga mendorong karateka memahami kondisi orang lain dan berkontribusi di lingkungan masyarakat.
Dalam pembinaan karakter, keberanian dan kekuatan fisik diharapkan berjalan bersama sikap menghormati orang lain. Dengan begitu, nilai yang dipelajari selama latihan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejarah Panjang Kyokushinkai Indonesia Sejak 1967
Pembinaan PMK Kyokushinkai Karate-Do Indonesia memiliki sejarah panjang yang dirintis oleh mendiang Hanshi Nardi T. Nirwanto, S.A. Ia dikenal sebagai pionir Kyokushin di Indonesia yang berguru langsung kepada Grand Master Masutatsu Oyama di Tokyo.
Embrio perguruan ini lahir di Kota Batu, Malang, pada 1967 dengan nama awal Go No Sen. Seiring perkembangannya, perguruan tersebut kemudian berkembang menjadi Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia.
Warisan pembinaan itu diteruskan melalui latihan, pendidikan karakter, serta regenerasi karateka. Keberlanjutan organisasi tidak hanya bergantung pada pencapaian atlet di arena kompetisi, tetapi juga pada upaya menanamkan nilai-nilai yang menjadi dasar filosofi Kyokushinkai kepada generasi berikutnya.
Shihan Hartanto Chandra menegaskan bahwa pembinaan prestasi dan regenerasi harus berjalan beriringan. Tujuannya untuk melahirkan generasi yang memiliki keberanian, disiplin, sportivitas, rasa hormat, serta kemampuan mengendalikan diri.
Dalam filosofi Kyokushinkai, kekuatan sejati bukan semata-mata ditunjukkan melalui kemampuan mengalahkan lawan, melainkan juga melalui kemampuan menaklukkan diri sendiri dan menghadapi tantangan kehidupan dengan karakter yang kuat. [way/beq]
Link informasi : Sumber