Arif Fathoni: Anak Muda Punya Naluri Progresif yang Tak Tertandingi

0

Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni menyebut generasi muda memiliki naluri progresif yang menjadi modal penting dalam mendorong kemajuan bangsa.

Menurut dia, pemikiran progresif anak muda harus didukung sistem pendidikan yang mampu mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

“Anak muda itu punya naluri yang tidak dimiliki oleh generasi seniornya. Bahasa saya progresif dalam berpikir,” kata Arif Fathoni saat diskusi Kopi Cangkruk 2026 bertajuk Sekolah Demokrasi: Pendidikan Politik dan Kepemimpinan bagi Aktivis Mahasiswa.

Kegiatan yang digelar SAPMA Pemuda Pancasila Surabaya tersebut menjadi bagian dari peringatan hari lahir ke-38 organisasi sekaligus Hari Sumpah Pemuda. Dalam diskusi itu, Fathoni mengajak generasi muda memahami peran sejarah pemuda dalam membangun konsensus kebangsaan serta kaitannya dengan tantangan Indonesia pada masa depan.

Dia mencontohkan peristiwa Sumpah Pemuda pada 1928 sebagai bukti bahwa generasi muda mampu melahirkan gagasan besar di tengah keterbatasan. Saat itu, pemuda dari berbagai suku dan agama menyepakati identitas bersama sebagai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

“Pemuda-pemudi dari berbagai suku, agama saat itu kemudian membangun konsensus besar, konsensus kebangsaan, kesepakatan bersama bahwa satu tanah air, satu bangsa, satu negara, itu tahun 1928,” ujar mantan aktivis LMND tersebut.

Politikus Golkar ini menilai keberhasilan generasi muda pada masa tersebut seharusnya menjadi inspirasi bagi anak muda saat ini. Menurut dia, keterbatasan fasilitas pendidikan pada masa lalu tidak menghalangi para pemuda untuk membangun kesepakatan yang menjadi fondasi persatuan Indonesia.

“Bayangkan tahun 1928 itu susahnya kayak apa, dengan fasilitas pendidikan yang terbatas, ternyata mereka mampu membangun konsensus besar, kesepakatan besar. Ya sekarang saat ini kita ingin melompat menjadi negara maju dalam tahun 2045,” katanya.

Dia mengingatkan, cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045 membutuhkan persiapan serius, terutama dalam memanfaatkan bonus demografi. Besarnya jumlah penduduk usia produktif, kata dia, harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar menjadi kekuatan pembangunan.

“Kita sekarang sering mendengar bonus demografi itu apa sih? Jangan sampai bonus demografi itu hanya dimaknai bahwa jumlah anak muda jauh lebih banyak dibandingkan jumlah generasi senior,” tutur Fathoni.

Menurut dia, bonus demografi justru dapat menjadi persoalan apabila pemerintah dan masyarakat tidak menyiapkan generasi muda dengan baik. Ketidaksiapan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan berpotensi membuat besarnya populasi usia produktif tidak menghasilkan kemajuan yang diharapkan.

“Artinya apa? Bonus demografi itu bisa jadi ledakan ketidakberhasilan Indonesia menyongsong 2045 kalau tidak kita persiapkan dengan baik,” katanya.

Fathoni menyebut pendidikan sebagai faktor utama untuk meningkatkan kualitas manusia sekaligus mendorong kemajuan peradaban. Dia mengingatkan bahwa tujuan bernegara, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, mencakup upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum.

“Bagaimana cara mempersiapkan? Tentu tujuan bernegara kita itu kan mencerdaskan kehidupan bangsa, menyejahterakan rakyat Indonesia. Maka pendidikan itu kunci naiknya peradaban,” ujar mantan Jurnalis ini.

Dia juga menilai sistem pendidikan perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, metode pembelajaran harus berkembang agar peserta didik memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Sekarang sudah era AI, ternyata sistem pendidikan kita masih ngajari tentang matematika 2+2 pakai kalkulator,” kata dia.

Dia berharap momentum Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa perubahan zaman harus direspons melalui pembaruan cara berpikir dan peningkatan kualitas pendidikan. Dia meyakini kesiapan bangsa dalam menghadapi perubahan akan menentukan keberhasilan Indonesia mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045.

“Inilah yang saya maksud bahwa untuk menuju Indonesia Emas 2045, bangsa Indonesia itu perlu mempersiapkan dengan baik, memperbaiki kualitas pendidikannya, mempelajari fenomena yang sedang bergerak di zaman, karena saya termasuk orang yang percaya bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri,” pungkasnya.[asg/ted]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.