Mimpi Sri Harjono Kembalikan Harga Diri Rakyat Lewat Pekerjaan Formal
Surabaya (beritajatim.com) – Gemerlap angka pertumbuhan ekonomi selama ini tak selalu berbanding lurus dengan isi dompet masyarakat. Paradigma usang ini perlahan mulai digugat karena dianggap gagal menghadirkan kesejahteraan nyata di akar rumput.
Kegelisahan itu dikupas tuntas oleh Mantan Anggota Tim Ahli Wantimpres RI, Sri Harjono, dalam bedah bukunya berjudul “Membangun Indonesia untuk Kejayaan Nusantara”. Diskusi hangat ini mengalir santai di Angkringan Banyu Milli Surabaya, Minggu (1/11/2026) malam.
Penulis kelahiran Klaten ini melihat ada yang keliru dengan arah kebijakan negara. Harjono menilai pemerintah harus segera beralih fokus pada pembangunan manusia seutuhnya ketimbang terus-menerus mengejar target produk domestik bruto.
“Pertumbuhan ekonomi itu sudah terbukti tidak membawa kesejahteraan pada rakyat Indonesia. Jadi harus diganti arahnya. Difokuskan lagi kepada pembangunan manusia seutuhnya,” ucap Harjono.
Ketua Umum Paguyuban Pembaharuan Nusantara tersebut menawarkan solusi konkret berupa penyediaan lapangan kerja formal. Negara harus hadir membuka akses jaminan sosial dan pendapatan bulanan yang pasti bagi setiap warganya.
“Kita terdidik tapi kalau tidak kerja formal kan tidak punya harga diri. Kerjanya formal itu ada kontrak, gaji rutin, serta jaminan sosial,” tambah Harjono.
Alih-alih membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk menggenjot daya beli sesaat, ia menyarankan pendekatan baru. Anggaran pemerintah sebaiknya diputar untuk membangun sektor-sektor produktif yang menyerap banyak tenaga kerja secara berkelanjutan.
“Belanja pemerintah pun diarahkan ke penciptaan konsumsi. Kan tidak produktif ini untuk jangka panjang bangsa. Jadi fokus saja anggaran ini diarahkan untuk penciptaan lapangan kerja formal,” urai lulusan UGM tersebut.
Transformasi ini tak bisa ditunda mengingat bayang-bayang krisis demografi sudah menanti di depan mata. Generasi muda akan memikul beban berat jika sebagian besar dari mereka masih terjebak dalam pusaran sektor informal.
“Kalau nanti dari orang yang bekerja ini masih informal kayak sekarang, kita mau suruh makan apa? Jadi harus ada lapangan kerja formal sehingga tercipta pekerjaan produktif,” jelas Harjono.
Jalan keluar yang ia tawarkan menyentuh berbagai lini kehidupan, termasuk modernisasi alat pertanian. Harjono memimpikan para petani desa bisa bergabung dalam koperasi produksi, mengelola lahan memakai teknologi, dan mendapat upah layak selayaknya pekerja kantoran. [ipl/but]
Link informasi : Sumber