Senyum Satu Gigi Nenek ‘Epa-Nama Internasional’ Merasa Jadi Raja 40 Hari di Makkah

0

Makkah (beritajatim.com) – Jantung Nenek Epa (82) berdegup kencang saat sekelompok petugas berseragam mengetuk pintu kamar nomor 471 di Hotel Abraj Almisk, kawasan Jarwal, Makkah.

Perempuan lanjut usia dengan satu gigi yang tersisa itu mengira akan mendapatkan kejutan besar—sebuah hadiah yang membuatnya salah tingkah hingga tekanan darahnya mendadak naik di hadapan tim kesehatan.

“Deg-degan seperti mau dapat hadiah,” kelakarnya sembari tertawa lepas, memecah suasana hangat di kamar yang dihuni lima jemaah perempuan tersebut. Tawa itu adalah penanda semangat yang tak padam, meski raga telah melewati delapan dekade perjalanan usia.

Ditemui tim Media Center Haji (MCH), Nenek Epa tampak begitu segar dengan mukena putih yang membingkai wajah cerahnya. Di usianya yang senja, ia justru menjadi anomali; menuntaskan tawaf dan sai pada umrah wajib sepenuhnya dengan berjalan kaki, tanpa bantuan kursi roda.

Lututnya yang kokoh ternyata ditempa oleh kehidupan sederhana di tanah air. Di rumah kayunya, Nenek Epa terbiasa naik-turun tangga hingga 40 kali dalam sehari. Kekuatan fisik itu ia sempurnakan dengan kekuatan spiritual yang konsisten. “Setiap jam dua saya tahajud, setiap hari,” tuturnya mantap.

Perjalanan menuju Baitullah ini adalah buah kesabaran selama 13 tahun masa penantian. Sebenarnya, panggilan itu sudah datang tahun lalu, namun ketakutan akan kesendirian membuatnya memilih menunda.

Tahun 2026 menjadi garis takdir yang ia yakini sebagai skenario terbaik Allah, terutama karena ia kini berangkat didampingi sahabat sekaligus kerabat setianya, Herawati.

Ketika pertama kali netranya menangkap kemegahan Ka’bah, pertahanan hatinya runtuh. Air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Di hadapan rumah Tuhan, ia hanya mampu mengulang satu kalimat syukur: “Ya Allah, terima kasih aku dipanggil datang ke sini.”

Di sela kesibukan ibadah, Nenek Epa merasakan sebuah kemewahan batin yang tak pernah ia bayangkan. Hidup di hotel selama musim haji membuatnya merasa berada di puncak kenyamanan pelayanan yang disediakan pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI.

“Enak, seperti raja. Raja 40 hari. Biasanya raja sehari, ini 40 hari dilayani,” ujarnya disambut gelak tawa rekan sekamarnya. Baginya, ketersediaan makanan yang cocok di lidah, petugas yang ramah, serta bimbingan ibadah yang rutin di hotel adalah oase yang membuatnya bisa fokus sepenuhnya pada Sang Pencipta.

Meski mengaku tidak mengenyam pendidikan tinggi, Nenek Epa adalah sosok yang “alim” dalam tilawah. Jika di Madinah ia berhasil menyelesaikan empat juz Al-Qur’an, di Makkah ia terus membasahi bibirnya dengan surah Yasin dan Al-Waqiah, diselingi bacaan ayat suci yang lancar.

Kunjungan Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Makkah, Erti Herlina, ke kamarnya semakin menebalkan rasa aman. Nenek Epa kini paham bahwa petugas berseragam cokelat muda adalah “pelayan” yang siap membantu kapan saja ia membutuhkan petunjuk, terutama saat ia merasa gentar dengan keramaian Masjidil Haram yang luar biasa.

“Nama saya Epa, nama internasional,” celetuknya polos saat memperkenalkan diri, yang seketika membuat riuh seisi kamar. Di balik kepolosannya, tersimpan doa yang sangat mendalam. Ia berharap jejak kakinya di aspal panas Makkah ini kelak akan diikuti oleh anak, cucu, dan seluruh keturunannya. [ian/MCH]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.