Jemur di Rooftop Dilarang, PPIH Makkah Siapkan Fasilitas Alternatif di Hotel
RINGKASAN BERITA:
PPIH Daker Makkah menyiapkan area khusus cuci dan jemur pakaian sebagai solusi larangan akses rooftop hotel.
Otoritas Arab Saudi melarang aktivitas di atap hotel karena alasan keamanan jemaah dan regulasi keselamatan gedung.
Fasilitas baru di lantai servis atau area khusus akan dilengkapi drainase pembuangan air dan ditargetkan rampung dalam 1-3 hari.
Hotel wajib menyediakan fasilitas mesin cuci, air minum, dan lift yang memadai sesuai kontrak layanan akomodasi.
Makkah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Makkah resmi menyiapkan area khusus mencuci dan menjemur pakaian bagi jemaah haji Indonesia guna merespons aturan otoritas Arab Saudi yang melarang penggunaan atap (rooftop) hotel.
Langkah mitigasi ini diambil untuk menjamin kenyamanan harian jemaah sekaligus mematuhi standar keselamatan gedung yang telah ditetapkan pemerintah setempat.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, aduan mengenai larangan menjemur di rooftop sempat muncul dari jemaah di beberapa hotel.
PPIH langsung bergerak melakukan koordinasi dengan pihak syarikah (perusahaan penyedia layanan) dan pengelola hotel untuk menyediakan lokasi pengganti yang lebih representatif dan aman.
Kepala Seksi Layanan Akomodasi PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Suryo Panilih, menjelaskan bahwa untuk hotel yang memiliki area jemur di rooftop, aktivitas tersebut dipindahkan ke titik baru yang telah disepakati.
“Kami sudah berkoordinasi dengan syarikah dan juga dengan pihak hotel untuk mencarikan solusi tempat mengganti tempat mencuci dan menjemur pakaian jemaah haji,” ujar Suryo di Makkah, Jumat (8/5/2026).
Optimalisasi Lantai Servis dan Sistem Drainase
Sebagai solusi teknis, pihak hotel kini mempertimbangkan penggunaan lantai servis (Lantai S) atau lantai tertentu (Lantai R) sebagai area mencuci dan menjemur.
Lokasi ini dinilai lebih aman dan tidak melanggar regulasi otoritas setempat dibandingkan area atap terbuka yang dianggap membahayakan keselamatan jemaah.
Suryo menyebutkan, fasilitas baru ini tidak sekadar menyediakan ruang kosong, melainkan akan dilengkapi dengan sistem drainase pembuangan air cucian agar lantai hotel tetap kering dan bersih. Namun, pengerjaan fasilitas tambahan ini memerlukan waktu transisi guna memastikan seluruh instalasi siap digunakan.
“Ini akan memerlukan waktu yang tidak sebentar mungkin 1 atau 2 hari atau bahkan mungkin bisa sekitar 3 harian tapi semua sudah kita pantau dan kita akan awasi terus progres pengerjaannya secepat mungkin karena Jemaah kita setiap hari cuci,” tegasnya.
Kepatuhan Kontrak Layanan Akomodasi
Secara keseluruhan, layanan akomodasi di Makkah bagi jemaah gelombang pertama yang kini mulai memadati kota suci dilaporkan berjalan stabil.
PPIH menekankan bahwa penyediaan fasilitas penunjang seperti mesin cuci, lift yang berfungsi baik, hingga ketersediaan air minum di setiap lantai adalah kewajiban yang tertuang dalam kontrak kerja sama.
Mengenai alasan pelarangan akses rooftop, Suryo menegaskan bahwa kebijakan tersebut murni berlandaskan aturan keamanan nasional Arab Saudi.
“Menurut info dari Otoritas Saudi karena dapat membahayakan jemaah dan juga melanggar aturan yang ada di Arab Saudi khususnya di Makkah,” pungkasnya.
Pihak PPIH akan terus melakukan pengawasan ketat terhadap progres pengerjaan area jemur tersebut. Mengingat cuaca di Makkah saat ini mencapai suhu ekstrem 38 hingga 41 derajat Celsius, kebutuhan jemaah untuk menjaga kebersihan pakaian menjadi krusial guna menghindari penyakit kulit dan menjaga kenyamanan selama menunggu fase puncak haji di Armuzna. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber