Menabung Diam-Diam di Lipatan Baju, Ibu Kantin Gowa Naik Haji

0

Makkah (beritajatim.com) – Air mata Halifah (65) meluruh tanpa permisi. Di sebuah sudut hotel di Sektor 3 Wilayah Syisyah, Makkah, perempuan asal Gowa, Sulawesi Selatan ini tak kuasa menahan gejolak yang telah ia pendam sedari remaja.

Baginya, Makkah bukan sekadar titik koordinat di peta, melainkan muara dari ribuan hari yang ia habiskan di balik kepul asap kantin sekolah. Tak ada riwayat dalam silsilah keluarganya yang pernah menginjakkan kaki di tanah para nabi.

Ayah, ibu, hingga kakek dan neneknya berpulang tanpa sempat mencium harum hajar aswad. Mungkin bukan karena tiadanya niat, namun raga dan keadaan yang tak kunjung berjodoh dengan panggilan-Nya.

Namun, Halifah berbeda. Keinginan berhaji itu berkecambah dalam dadanya sejak usia muda, muncul setiap kali ia melihat tetangganya berangkat membawa koper besar.

Ada pedih yang tak bisa ia jelaskan, ada rindu yang tak punya alamat, hingga air matanya selalu meleleh saat menyaksikan keberangkatan orang lain ke Baitullah.

“Hatiku selalu sedih, sedih dan menangis melihat tetangga berhaji. Kapan saya naik haji? Saya bukan pingin, tapi pingin sekali naik haji,” ungkap Halifah dengan suara terbata-bata saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Rabu (06/05/2026).

Impian itu sempat tersisih oleh riuh rendah kehidupan. Selama puluhan tahun, Halifah bersitungkin sebagai ibu kantin di sebuah Sekolah Dasar. Pagi-pagi sekali, ia sudah bergulat dengan makanan, minuman, hingga kopi untuk para guru.

Bahkan, ia sering membantu menyapu sekolah demi kenyamanan anak-anak, tempat di mana ia menggantungkan hidup dengan penghasilan sekitar Rp5 juta per bulan.

Di balik statusnya sebagai pedagang kecil, Halifah adalah penyangga utama keluarga. Suaminya didera sakit gondok beracun selama bertahun-tahun yang membuat berat badannya susut drastis. Sementara itu, kedua anak laki-lakinya bekerja seadanya—satu sebagai penarik ojek dan satu lagi sebagai tukang dekorasi pengantin.

Meski tak tamat SD, Halifah memiliki visi yang melampaui gelar akademis. Ia adalah pendidik paling gigih bagi enam cucunya. Dari uang jualan itu, ia membagi rata: Rp30 ribu untuk cucunya yang kuliah keperawatan, hingga Rp10 ribu untuk yang masih kecil. Baginya, kemiskinan hanya bisa dipangkas dengan sekolah yang tinggi.

Namun, di tengah segala beban yang mengapit pundaknya, Halifah menyimpan satu rahasia besar. Selama belasan tahun, ia menyisihkan sisa uang makan secara diam-diam. Bukan di bank atau kotak besi yang mencolok, melainkan di dalam lipatan-lipatan baju di lemari tuanya.

“Nabung diam-diam dalam lipatan baju, bertahun-tahun, Ji. Nabung sisa dari sisa makan, Ji,” tuturnya pelan. Ia sengaja merahasiakannya karena khawatir jika suami dan anak-anaknya tahu, tabungan itu akan terpakai untuk urusan rumah tangga yang tak pernah ada habisnya. Niatnya satu: uang itu hanya untuk Tuhan.

Satu per satu lembar rupiah itu ia kumpulkan hingga menyentuh angka Rp25 juta pada Januari 2011. Dengan membonceng pete-pete (angkutan umum), ia berangkat ke bank untuk mendaftarkan porsi haji. Saat itu, usianya masih 45 tahun, dan rahasia itu tetap terkunci rapat dalam lipatan kain hingga waktu yang tepat tiba.

Tahun ini, rahasia belasan tahun itu akhirnya dibuka. Halifah mengumpulkan seluruh keluarganya untuk menyampaikan kabar bahwa ia akan segera berangkat.

Suami dan anak-anaknya hanya bisa ternganga, lalu pecahlah tangis haru berjamaah di rumah sederhana mereka. Sebuah kejutan suci dari seorang ibu yang terlihat biasa saja, namun memiliki ketabahan seluas samudera.

Kini, di Syisyah, Halifah tak lagi menyimpan rahasia. Ia hanya menyimpan doa yang terus melangit. Baginya, setiap kerikil yang ia lalui sebagai ibu kantin, setiap butir keringat saat melayani guru dan murid, telah dibayar lunas oleh Tuhan dengan pemandangan Menara Jam Makkah yang kini berdiri tegak di depan matanya. [ian/MCH]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.