Puncak Armuzna Tinggal Hitung Hari, Buya Kafabihi Beri Jemaah Ijazah 1.000 Shalawat Sehari
RINGKASAN BERITA:
- KH Abdullah Kafabihi memimpin Kajian Ihram bertema keutamaan Masyair Muqaddasah di Mushalla Kantor Daker Makkah.
- Jemaah menerima ijazah amalan khusus membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 1.000 kali setiap hari.
- Otoritas menekankan esensi wukuf Arafah sebagai perjalanan ruhani terdalam, bukan sekadar perpindahan logistik fisik.
- Rangkaian penguatan spiritual ini digelar pasca-Makkah Clock Tower menyala hijau menandai masuknya 1 Dzulhijjah.
Makkah (beritajatim.com) – Musyrif Diny Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, KH. Abdullah Kafabihi, memberikan ijazah amalan berupa pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 1.000 kali setiap hari kepada jemaah haji Indonesia.
Pemberian ijazah spiritual ini dimaksudkan sebagai sarana benteng batin dan penguatan mental jemaah di tengah padatnya fase krusial menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Ijazah amalan tersebut diijazahkan langsung dalam Kajian Ihram (Internalisasi Haji dan Rahasia Amaliyah Manasik) bertema “Fadhail Amaliyah Masyair Muqaddasah” yang berlangsung khidmat di Mushalla Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Senin (18/5/2026) malam.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kajian ini digelar tepat setelah puncak menara Makkah Clock Tower memancarkan pendar cahaya hijau terang yang menandai masuknya 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Masuknya bulan Dzulhijjah menjadi alarm operasional bahwa pendorongan massal 175.682 jemaah reguler yang kini memadati 152 hotel di Makkah akan dimulai serentak pada Senin, 25 Mei mendatang (8 Dzulhijjah).
Di tengah paparan suhu panas menyengat Makkah yang menyentuh angka ekstrem 44 derajat Celsius, penguatan aspek psikologis dan ruhiyah jemaah menjadi fokus penting Kemenhaj RI di samping pengamanan fasilitas fisik hotel dan katering siap santap Nusantara.
Buya Kafabihi mengingatkan para petugas dan jemaah—termasuk rombongan besar asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur (Embarkasi Surabaya/SUB)—bahwa haji sejatinya bukanlah sekadar perpindahan antar-lokasi geografis atau sekadar ketertiban ritual formal.
“Momentum Arafah adalah kesempatan terbesar bagi jemaah untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Jangan sampai waktu yang sangat mulia itu berlalu tanpa diisi dengan ibadah terbaik,” tutur Buya Kafabihi di hadapan Tim Media Center Haji.
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri tersebut menggarisbawahi bahwa wukuf di Padang Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026 (9 Dzulhijjah) merupakan episentrum tertinggi dari seluruh rangkaian rukun Islam kelima. Landasan ini mengacu teguh pada sabda Rasulullah SAW, “Al-hajju ‘Arafah” yang menegaskan bahwa substansi haji itu berada di Arafah.
Selain mengupas tuntas keistimewaan Padang Arafah, ulama kharismatik yang asal Kediri, Jawa Timur ini mengulas kedalaman nilai spiritual saat jemaah menjalani mabit di Muzdalifah dan Mina, hingga prosesi melontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqobah di tengah kepadatan rute Terowongan Muaisim.
Seluruh rangkaian prosesi di tempat-tempat mustajab tersebut hanya akan berbuah kemabruran sosial dan pribadi jika dijalani dengan keheningan hati yang hadir seutuhnya kepada Allah SWT.
“Di tempat-tempat itu, perbanyak zikir, doa, dan ibadah. Jangan hanya sibuk dengan aktivitas fisik perjalanan hajinya, tetapi hadirkan hati untuk benar-benar dekat kepada Allah,” pesannya.
Pemberian amalan pembacaan shalawat 1000 kali per hari dinilai sangat kontekstual dengan kebutuhan jemaah Gen Z hingga lansia saat ini. Tekanan fisik akibat cuaca panas ekstrem serta kelelahan berjalan kaki rawan memicu penurunan ketenangan pikiran (mass panic) di lapangan, sehingga zikir konstan menjadi jangkar penenang batin paling efektif.
Kajian yang berlangsung interaktif sejak bakda Maghrib hingga menjelang Isya tersebut diikuti secara serius oleh ratusan abdi negara. Buya Kafabihi menegaskan, goal akhir dari implementasi haji inklusif yang ramah lansia dan transparan di era Presiden Prabowo Subianto ini adalah lahirnya transformasi keadaban jemaah yang membawa perubahan karakter positif setibanya di tanah air. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber