Universitas Jember Hitung Untung Rugi Bangun SPPG

0

Jember (beritajatim.com) – Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tidak begitu saja mau terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis dengan membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Unej tak mau boncos.

“Kita tentu akan menghitung itu, karena Unej ini sudah masuk BLU (Badan Layanan Umum yang intinya keuntungan kembali lagi untuk proses pendidikan. Tapi tidak boleh rugi. Kalau rugi otomatis akan menyedot dana kita,” kata Wakil Rektor IV Unuversitas Jember Bambang Kuswandi, Selasa (19/5/2026).

Bambang menyebut investasi MBG tidak kecil. “Rp 1,5 miliar sampai Rp 2 miliar untuk pembangunan dapur. Kalau kita harus beli tanah lagi, wah repot tentu. Kita harus mencari lahan-lahan kita. Ada beberapa lahan yang belum dimanfaatkan,” katanya.

“Tapi tentu perlu kajian mendalam dan saat ini kami memang sedang mengkaji misalnya Unej benar-benar membuka SPPG. Tentu kita harus bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional,” kata Bambang.

Rektorat juga akan berkonsultasi dengan Senat Universitas Jember soal kemungkinan pembangunan SPPG ini. “Jadi begitu nanti Unej menerima atau menolak, tentu sudah melalui kajian yang komprehensif,” kata Bambang..

Namun Bambang mengakui ada keinginan untuk berperan menyukseskan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis. Ini sesuai dengan permintaan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi agar perguruan tinggi berdanpak terhadap masyarakat.

Menurut Bambang, dari aspek akademis, Unej memenuhi syarat untuk membangun SPPG. “Ada Program Studi Gizii dan Program Studi Teknologi Hasil Pertanian yang sinkron dengan pemenuhan gizi,” katanya. Rektorat harus intensif berkomunikasi dengan pengelola dya program studi yang akan terlibat langsung tersebut.

Selain itu Unej berpengalaman membangun dan mengelola kantin di dalam kampus. Unej juga bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk membuka Zona Kuliner Halal Aman dan Sehat (KHAS) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Hingga saat ini Unej belum menerima surat resmi dari pemerintah pusat. Namun sekalipun disepakati untuk membangun SPPG, menurut Bambang, paling cepat baru bisa dilaksanakan pada 2027. “Dan kalau itu terbangun terbangun, Unej berkomitmen untuk zero accident,” katanya.

Bambang tak ingin MBG yang berasal dari SPPG yang dikelola Unej memantik kasus keracunan makanan. “Semuanya harus benar-benar aman,” katanya.

“Kita ingin memberikan paling tidak model yang bisa menjamin zero accident. Kampus tidak hanya mengkritisi, tapi bisa memberi contoh juga. Jadi ketika kita mengkritisi SPPG yang tidak sesuai SOP, kita harus juga bisa memberi contoh SPPG yang bisa memenuhi syarat supaya zero accident,” kata Bambang. [wir/but]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.