Demi Khusyuk Wukuf, Buya Kafabihi Ingatkan Jangan Mainan HP Selama di Arafah
RINGKASAN BERITA:
- Musyrif Diny PPIH mengimbau jemaah haji mematikan ponsel mulai pukul 12.00 WAS hingga Maghrib saat hari Arafah.
- Larangan penggunaan gawai bertujuan agar jemaah fokus memanfaatkan kombinasi tempat dan waktu mustajab untuk berdoa.
- Jemaah haji dilarang keras melakukan panggilan video (video call) titipan doa yang dapat memecah kekhusyukan massa.
- Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri ini meminta jemaah mengoptimalkan momentum dengan zikir, doa, dan membaca shalawat.
Makkah (beritajatim.com) – Musyrif Diny Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia untuk menghentikan penggunaan telepon genggam (handphone) secara total mulai pukul 12.00 siang hingga waktu Maghrib Waktu Arab Saudi (WAS) saat menjalani puncak wukuf di Padang Arafah.
Larangan interaksi digital sementara ini diterapkan sebagai benteng spiritual agar jemaah dapat fokus mengoptimalkan momentum sakral tanpa terdistraksi oleh aktivitas maya.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, imbauan pembatasan gawai ini dirilis menyusul penetapan resmi 1 Zulhijjah 1447 H, di mana puncak wukuf Arafah dipastikan jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026 mendatang.
Seruan pembersihan hati dari urusan duniawi ini menjadi atensi khusus bagi 182.332 jemaah reguler yang kini telah memadati Makkah, termasuk ribuan jemaah asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang berbasis kultur pesantren.
Buya Kafabihi menegaskan bahwa esensi utama kehadiran jemaah di Padang Arafah adalah untuk berpasrah diri dan mengetuk pintu langit, bukan disibukkan dengan urusan dokumentasi digital atau komunikasi non-darurat. “Jadi ketika di Arafah nanti kita sudah menghindari dari main handphone pada waktu jam 12 siang sampai maghrib,” urai Buya Kafabihi kepada Media Center Haji di Makkah, dikutip pada Selasa (19/5/2026).
Keistimewaan Pertemuan Waktu dan Tempat Mustajab
Ulama kharismatik yang juga menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur ini memaparkan bahwa jemaah harus memahami besarnya anugerah spiritual yang sedang mereka duduki.
Di tanah air, momentum dikabulkannya doa (mustajab) umumnya hanya terikat pada dimensi waktu tertentu, seperti sepertiga malam terakhir atau waktu di antara dua khutbah Jumat.
Sebaliknya, saat hari penantian di Arafah bergulir, jemaah haji Indonesia difasilitasi oleh Allah SWT dengan perpaduan sempurna antara dimensi waktu yang paling mulia sekaligus titik geografis bumi yang paling mustajab. Keistimewaan ganda inilah yang wajib dijaga kesuciannya dari gangguan notifikasi aplikasi ponsel pintar.
“Yaumul (hari-red) Arafah itu supaya kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk doa, untuk berdzikir, atau baca sholawat,” kata Buya Kafabihi. “Kalau di Indonesia kan hanya waktu saja yang mustajab seperti seperti sepertiga malam, tapi kalau di Tanah Suci, ini ada waktu mustajab dan ada tempat mustajab yang bisa digunakan sebaik-baiknya mungkin,” sambungnya.
Rambu Hukum Fikih Terkait Panggilan Video Titipan Doa
Lebih lanjut, Buya Kafabihi menyoroti tren digitalisasi ibadah yang kerap dilakukan generasi Z dan milenial, yakni memaksakan diri melakukan panggilan video (video call) dari dalam tenda Arafah hanya untuk membacakan daftar titipan doa dari kerabat di tanah air. Aktivitas interaktif tersebut dinilai rawan merusak kekhusyukan personal maupun lingkungan sekitar akibat riuhnya suara percakapan.
Pihak Musyrif Diny menyarankan skema yang lebih maslahat dan tenang tanpa mengorbankan hajat kerabat di tanah air. Jika jemaah ingin menyambungkan keberkahan Arafah ke tanah air, disarankan ponsel sekadar diaktifkan satu arah tanpa komunikasi suara aktif dari jemaah, di mana pihak keluarga di Indonesia cukup mendengarkan dan mengamini untaian doa yang sedang dipanjatkan di Makkah.
“Kalau misal mereka hanya mengamini setiap doa yang diucapkan oleh jemaah haji Indonesia di Arafah itu tidak apa-apa,” tandas Buya Kafabihi.
Instruksi pembatasan gawai ini berjalan selaras dengan kesiapan operasional Kemenhaj RI lainnya dalam mengawal kenyamanan batin jemaah menuju Armuzna pada 25 Mei nanti. Di samping pematangan aspek bimbingan ibadah, pemerintah juga telah mengamankan rantai pasok berupa 3.082.200 paket katering makanan siap santap (ready to eat) Nusantara serta penyediaan ijazah amalan 1.000 shalawat sehari agar stamina dan ketenangan pikiran jemaah tetap terjaga utuh di tengah paparan suhu panas ekstrem Makkah yang menyentuh 44 derajat Celsius. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber