100 Tahun Gontor Ponorogo: Dari Wayang Kulit, Tabligh Akbar, hingga Reuni Ribuan Alumni

0

Ponorogo (beritajatim.com) – Satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), tidak hanya akan ditandai dengan seremoni kesyukuran.

Berbagai agenda unik dan berskala nasional telah disiapkan, untuk mengiringi peringatan 100 tahun pesantren modern terbesar di Indonesia itu.

Yakni mulai pentas wayang kulit, turnamen sepak bola, layanan kesehatan gratis, festival kaligrafi, hingga reuni akbar alumni lintas generasi.

Memasuki fase ketiga rangkaian peringatan satu abad, Pondok Gontor menghadirkan kegiatan yang menyentuh berbagai bidang kehidupan.

Tidak hanya pendidikan dan dakwah, tetapi juga olahraga, ekonomi, seni budaya, kesehatan. Selain itu, juga ada penguatan jaringan alumni yang selama puluhan tahun tersebar di berbagai daerah dan profesi.

Namun bagi pimpinan pondok, rangkaian kegiatan tersebut bukan dimaksudkan sebagai pesta perayaan usia lembaga.

Momentum satu abad justru dijadikan sarana untuk mengenang perjuangan para pendiri sekaligus memperkuat rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilalui Gontor sejak berdiri pada 1926.

“Kita seperti ini karena Allah, kita berubah seperti ini karena Allah, dan semua yang kita lakukan untuk Allah. Oleh karena itu, 100 tahun Gontor ini bukanlah perayaan, melainkan peringatan. Jika sudah ingat kepada Allah, barulah kita benar-benar bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya,” kata KH Hasan Abdullah Sahal dalam keterangannya, ditulis Jumat (5/6/2026).

Salah satu agenda yang paling menyita perhatian adalah pagelaran wayang kulit yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Juni 2026.

Pentas budaya tersebut menghadirkan dalang muda Ki Bayu Aji, putra maestro pedalangan Ki Anom Suroto. Kehadiran seni tradisional Jawa dalam momentum satu abad Gontor menjadi simbol keterbukaan pesantren dalam merawat warisan budaya bangsa.

Panggung budaya itu semakin semarak dengan penampilan pelawak Jawa Cak Komet dan Cak Yudho yang akan menghibur ribuan penonton. Kolaborasi dakwah, pendidikan, dan budaya menjadi salah satu warna menarik dalam peringatan satu abad pondok yang telah melahirkan banyak tokoh nasional tersebut.

Sebelum agenda budaya digelar, semangat kompetisi lebih dahulu hadir melalui Super Copa 100 Tahun Gontor.

Turnamen sepak bola yang berlangsung sejak akhir Mei hingga 28 Juni itu mempertemukan klub-klub dari berbagai wilayah Pulau Jawa. Ajang tersebut menjadi pembuka rangkaian kegiatan besar yang akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.

Nuansa religius akan mencapai puncaknya pada Tabligh Akbar yang digelar 8 Juni 2026. Sejumlah dai nasional dijadwalkan hadir untuk memberikan tausiyah kepada jamaah yang diperkirakan datang dari berbagai daerah.

Kegiatan tersebut akan semakin khidmat dengan penampilan grup religi El Corona yang menutup acara melalui lantunan selawat dan lagu-lagu bernuansa islami.

Tak hanya menyentuh aspek spiritual, peringatan satu abad Gontor juga menjadi ruang konsolidasi kekuatan ekonomi alumni. Melalui Forbis National Economic Summit & Expo 2026 yang berlangsung pada 20 hingga 22 Juni, para alumni dari berbagai sektor usaha akan dipertemukan dalam satu forum untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi ekonomi.

Pada periode yang sama, Gontor juga akan menjadi tempat berkumpulnya para pengasuh pesantren dari berbagai daerah melalui Sarasehan Kyai Pesantren Nasional. Forum tersebut dirancang sebagai ruang diskusi mengenai peran pesantren dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, pendidikan, dan perkembangan zaman.

Manfaat peringatan satu abad juga dirasakan langsung masyarakat sekitar melalui program Gontor Health Care pada 21 Juni. Kegiatan tersebut menghadirkan layanan kesehatan sekaligus edukasi medis yang dapat diakses warga sebagai bagian dari pengabdian sosial pondok kepada masyarakat.

Menjelang akhir Juni, perhatian akan beralih pada Darussalam All Star Show (DASS) Gontor Putra. Ajang yang hanya digelar pada momentum-momentum istimewa itu menjadi panggung kreativitas santri dan guru melalui beragam pertunjukan seni, mulai drama, musik, tari, vokal hingga berbagai kreasi lainnya.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada September dengan Festival Kaligrafi Nasional yang akan digelar pada 7 hingga 10 September 2026. Pada kesempatan tersebut, Gontor juga dijadwalkan meluncurkan Museum Gontor serta Mushaf Gontor, dua karya yang diharapkan menjadi bagian dari warisan intelektual dan sejarah perjalanan pondok.

Puncak peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor akan berlangsung pada 19 September 2026 melalui Resepsi Kesyukuran. Sehari setelahnya, ribuan alumni dari berbagai angkatan dijadwalkan kembali ke kampus tempat mereka ditempa untuk mengikuti Reuni Akbar dan Dialog Tokoh Alumni.

Pertemuan lintas generasi itu akan menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Gontor. Sebab, selama satu abad terakhir, pondok ini telah melahirkan kader umat, pendidik, ulama, birokrat, akademisi, pengusaha, hingga pemimpin bangsa yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia maupun mancanegara.(End/ted)

 

 


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.