Di Balik Pakaian Murah, Jejak Gelap Mikroplastik Mengancam Lingkungan Indonesia
Ringkasan Berita:
- Eco-Cinema dan Talkshow Ekologi di Probolinggo menyoroti dampak serius industri fast fashion terhadap lingkungan.
- Penelitian Ecoton mengungkap 98 persen sungai di Indonesia telah terkontaminasi mikroplastik, mayoritas berasal dari serat tekstil sintetis.
- Kolaborasi pemerintah, komunitas, dan industri dinilai penting untuk menekan sampah dari sumber dan mendorong perubahan pola konsumsi.
Probolinggo (beritajatim.com) – Di balik pakaian murah yang mudah dibeli dan cepat berganti, tersimpan jejak gelap yang kian mengancam lingkungan Indonesia. Industri fesyen yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir terbukti menyumbang persoalan serius berupa meningkatnya sampah tekstil dan penyebaran mikroplastik yang kini ditemukan hampir di seluruh ekosistem perairan.
Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam kegiatan Eco-Cinema dan Talkshow Ekologi yang diselenggarakan oleh Jenggala (Jejaring Jaga Alam) di Kabupaten Probolinggo, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang dihadiri sekitar 70 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga masyarakat umum ini diawali dengan pemutaran film dokumenter ‘Menolak Punah’ karya jurnalis Dandhy Laksono dan Aji Yahuti.
Film tersebut menyingkap dampak industri fast fashion, mulai dari konsumsi pakaian yang terus meningkat, tumpukan sampah tekstil yang kian besar, hingga ancaman mikroplastik yang kini ditemukan di berbagai perairan Indonesia.
Usai pemutaran film, diskusi dilanjutkan dalam talkshow yang menghadirkan Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo Yusdi Afandi, Manajer Kampanye dan Edukasi Ecoton Alaika Rahmatullah, serta Manajer Key Account Ignatius Ian Avianto.
Yusdi Afandi menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki kebijakan untuk menekan timbulan sampah dari sumbernya melalui Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.
Menurutnya, regulasi tersebut menekankan tanggung jawab produsen terhadap sampah yang dihasilkan, baik dari produk maupun kemasan. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan pengurangan sampah tetap membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. Diperlukan keterlibatan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya,” ujar Yusdi.
Sementara itu, Alaika Rahmatullah memaparkan ancaman mikroplastik yang banyak berasal dari limbah tekstil berbahan sintetis. Serat dari pakaian yang terlepas saat pencucian disebutnya ikut terbawa ke saluran air hingga bermuara ke laut.
Ia mengutip hasil penelitian Ecoton melalui program Ekspedisi Sungai Nusantara tahun 2022 yang menunjukkan tingkat pencemaran mikroplastik di berbagai sungai di Indonesia.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa 98 persen sungai di Indonesia telah terkontaminasi mikroplastik. Dari seluruh partikel mikroplastik yang ditemukan, 58 persen diantaranya merupakan mikroplastik jenis fiber atau serat. Yang mengerikan mikroplastik saat ini juga ditemukan di tubuh manusia, bahkan masuk darah, dan otak” kata Alaika.
Serat atau fiber tersebut berasal dari bahan tekstil sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik yang sulit terurai dan dapat bertahan lama di lingkungan perairan.
Menurutnya, dominasi mikroplastik jenis fiber menunjukkan kuatnya pengaruh industri tekstil dan pola konsumsi masyarakat terhadap pakaian berbahan sintetis dalam mencemari lingkungan.
“Mikroplastik ini dapat dimakan oleh plankton, ikan, kerang, dan akhirnya juga akan di makan manusia. Artinya mikroplastik telah masuk ke dalam sistem rantai makanan. Ini sangat berbahaya, dan itu bisa memicu kanker, penurunan kesuburan, gangguan sistem hormon, hingga akhirnya semua makhluk hidup diancam kematian dan kepunahan massal di masa depan nanti,” ujarnya.
Ia juga menyoroti persoalan sampah impor yang masih menjadi tantangan tambahan dalam pengelolaan sampah nasional di Indonesia.
Karena itu, Alaika menekankan pentingnya perubahan perilaku konsumsi masyarakat, termasuk mengurangi plastik sekali pakai dan menghindari budaya fast fashion.
“Kita harus mulai mengurangi sampah sejak dari rumah. Kurangi penggunaan plastik, gunakan barang lebih lama, dan hindari membeli pakaian hanya karena mengikuti tren sesaat,” katanya.
Dari sisi industri, Ignatius Ian Avianto menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. Menurutnya, perusahaan memiliki peran strategis dalam membangun budaya pengurangan sampah di lingkungan kerja.
“Kalau di industri, aspek pengawasan terhadap industri ini sangat penting. Ketaatan terhadap pengelolaan lingkungan sangat tergantung dari bagaimana industri ini diawasi. Industri bisa lebih mudah untuk mengatur pekerjanya dalam pengurangan sampah di lingkungan perusahaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan juga perlu memiliki kebijakan internal pengurangan sampah serta menjalankan tanggung jawab sosial secara berkelanjutan.
“Perusahaan juga berperan dalam tanggung jawab sosial. Dan itu harus berkelanjutan. Kami juga selalu mendukung komunitas atau penggerak yang memiliki inisiatif di bidang lingkungan,” katanya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi lingkungan yang terus dilakukan oleh Jenggala, komunitas yang salah satunya didirikan oleh Ning Umi Hani’ah Fahmi AHZ, Wakil Ketua PKK Kabupaten Kabupaten Probolinggo, yang aktif dalam kampanye pelestarian lingkungan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Selain edukasi publik, Jenggala juga mengembangkan gerakan pengelolaan sampah organik melalui budidaya Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah sisa makanan rumah tangga agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.
Gerakan ini menjadi salah satu solusi konkret untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya sekaligus mendorong kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Menutup diskusi, Ignatius Ian Avianto kembali mengingatkan pentingnya kesadaran manusia terhadap alam.
“Manusia hidup sejatinya membutuhkan alam dan segala isinya di bumi. Bukan alam atau bumi yang membutuhkan manusia. Jadi jangan semena-mena dan harus tahu diri,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penutup reflektif dalam kegiatan Eco-Cinema dan Talkshow Ekologi yang mempertemukan masyarakat, pemerintah, komunitas, dan industri dalam satu ruang dialog. Di tengah meningkatnya ancaman sampah tekstil dan mikroplastik, perubahan pola konsumsi dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. [suf]
Link informasi : Sumber