Api di Bawah Sekam: Ketika Jaminan Stabilitas Bertemu Momentum Sejarah
Permukaan selalu tampak tenang sebelum badai besar menghantam. Dalam tradisi retorika kekuasaan, frasa “aman dan terkendali” hampir selalu menjadi mantra wajib yang dilafalkan para penanggung jawab keamanan negara.
Hari ini, konferensi pers para pejabat tinggi keamanan yang menjamin stabilitas sosial di tengah gelombang unjuk rasa memunculkan déjà vu historis yang kuat. Jika kita menengok kembali lembaran sejarah menjelang 21 Mei 1998, Jenderal Wiranto selaku Panglima ABRI pernah mendeklarasikan hal serupa pada 15 Mei 1998, menyusul pengerahan pasukan secara besar-besaran untuk meredam amuk massa pasca-Tragedi Trisakti.
Namun, sejarah terbukti bergerak di luar kalkulasi tabel staf: hanya dalam hitungan hari, eskalasi politik melonjak drastis, benteng kekuasaan runtuh, dan gelombang kemarahan rakyat menuntut reformasi total secara tak terbendung.
Fenomena ini menegaskan bahwa dinamika politik makro tidak pernah berjalan secara linear. Di balik ketenangan permukaan, selalu ada labirin hidden factors (faktor-faktor tersembunyi) serta kejutan berlapis, baik dari intrik internal lingkaran kekuasaan maupun tekanan eksternal global, yang bekerja secara senyap. Kekuasaan sering kali terkecoh oleh kalkulasi matematis keamanan, padahal struktur sosial sedang mengalami retakan hebat akibat akumulasi penderitaan yang panjang.
Ketika kita membaca anatomi krisis dan perubahan orientasi politik secara jernih, tampak jelas bagaimana ilusi stabilitas kerap menipu para pengambil kebijakan. Jaminan keamanan formal oleh aparat sering kali hanya berfungsi sebagai penenang psikologis pasar dan publik semata, sementara arus bawah ketidakpuasan struktural terus berakumulasi tanpa pernah benar-benar diselesaikan. Ketika titik didih itu tercapai, eskalasi politik melonjak dengan kecepatan yang melampaui daya antisipasi para elite, mengubah lanskap kekuasaan dalam hitungan hari.
Runtuhnya sebuah rezim pada akhirnya bukanlah produk dari satu peristiwa tunggal, melainkan buah dari interaksi rumit antara retaknya loyalitas internal, perebutan pengaruh, dan terjangan geopolitik global.
Oleh karena itu, jangan pernah sekali-kali menganggap remeh kekuatan rakyat (people power). Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa ketika penderitaan struktural akibat penindasan ekonomi berpadu dengan momentum sejarah dan daya rusak kepentingan kapitalisme global, ia bermutasi menjadi kekuatan maha dahsyat yang mampu merobohkan kemandekan politik apa pun.
Pelajaran terbesar dari masa lalu adalah bahwa mengandalkan pendekatan koersif dan retorika “aman” tanpa menjawab substansi keadilan sosial dan keadaban publik merupakan sebuah bentuk kepongahan historis. Kekuasaan yang abai terhadap jeritan rakyat di tengah himpitan krisis global pada akhirnya hanya sedang menunggu waktu, ketika bara sekam seketika tersulut menjadi kobaran perubahan yang tak lagi bisa dipadamkan.
“Ketenangan di permukaan bukanlah ukuran sejati dari kedamaian rakyat, melainkan ujian bagi para penguasa untuk mendengar sebelum badai sejarah meruntuhkan segala kepongahan.” (*)
Penulis adalah Pengamat Sosial dan Politik.
Link informasi : Sumber