Rahasia SPPG Badean 2 Bondowoso Sajikan Menu Mewah dengan Anggaran MBG Rp10-12 Ribu
Bondowoso, (beritajatim.com) – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Bondowoso Badean 2 kerap menjadi sorotan. Pasalnya, para siswa beberapa kali menikmati lauk daging sapi, ayam, filet lele hingga telur, meski anggaran yang dialokasikan hanya sekitar Rp10.000-Rp12.000 per ompreng.
Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, mengungkapkan kunci utama menghadirkan menu bergizi tersebut bukan terletak pada besarnya anggaran, melainkan pada manajemen menu dan pengelolaan bahan pangan yang tepat.
Menurutnya, penyajian protein hewani telah diatur dalam siklus menu. Ayam dan telur disajikan sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan, filet lele satu kali dalam dua pekan, sedangkan daging sapi sekitar satu kali dalam sebulan.
“Pengaturan jenis lauk, sayur, dan buah sangat penting untuk memaksimalkan anggaran. Untuk porsi kecil anggaran bahan makanan sekitar Rp8.000, sedangkan porsi besar sekitar Rp10.000,” katanya, Kamis (30/7/2026).
Ia menjelaskan, setiap menu disusun agar tetap memenuhi kebutuhan gizi tanpa melampaui batas biaya. Pemilihan jenis lauk, sayuran, dan buah dilakukan secara cermat sehingga kandungan protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral tetap terpenuhi.
SPPG juga memanfaatkan bahan pangan yang sedang musim. Saat stok di pasaran melimpah, harga bahan menjadi lebih murah sehingga dapat menghemat biaya produksi.
“Kami membuat menu berdasarkan bahan pangan yang sedang musim sehingga stok melimpah dan harganya lebih terjangkau,” ujarnya.
Yulia mengatakan, pemilihan lauk protein hewani juga mempertimbangkan kandungan gizi dan harga. Selama nilai gizinya memenuhi standar, pihaknya akan memilih bahan yang lebih ekonomis agar anggaran tetap terkendali.
Peran ahli gizi, lanjut dia, sangat menentukan dalam penyusunan siklus menu. Variasi menu dirancang agar siswa tidak bosan, termasuk menghindari penyajian menu yang sama secara berturut-turut.
Selain itu, penggunaan bahan pangan lokal turut menjadi strategi efisiensi. Sayuran yang digunakan setiap hari dibeli langsung dari petani Bondowoso sehingga kualitas tetap segar sekaligus membantu menekan biaya.
Menanggapi anggapan bahwa anggaran Rp10.000-Rp12.000 tidak cukup untuk menyediakan makanan bergizi, Yulia menegaskan hal tersebut dapat diwujudkan dengan perencanaan yang matang.
“Anggaran itu cukup karena kami telah memikirkan manajemen yang tepat dan tetap memprioritaskan pemenuhan gizi,” tegasnya.
Untuk menjaga cita rasa, SPPG menerapkan standar resep dalam setiap proses memasak sehingga kualitas makanan tetap konsisten meski diproduksi dalam jumlah ribuan porsi.
Di sisi lain, tantangan terbesar yang dihadapi adalah fluktuasi harga bahan pangan. Ketika harga naik, SPPG melakukan modifikasi resep dan substitusi bahan tanpa mengurangi kualitas gizi yang harus diterima siswa.
Pengawasan mutu bahan baku juga dilakukan secara ketat. Seluruh bahan yang datang diperiksa terlebih dahulu di ruang penerimaan. Apabila kualitas tidak memenuhi standar, bahan tersebut langsung dikembalikan kepada pemasok.
“Kalau bahan baku tidak sesuai standar, kami kembalikan ke supplier,” katanya.
Dari berbagai menu yang telah disajikan, chicken katsu dan ayam crispy menjadi menu favorit para siswa karena mudah dimakan dan memiliki cita rasa yang sederhana.
Yulia berharap masyarakat dapat memahami bahwa penyediaan MBG bukan sekadar membagikan makanan. Di balik setiap ompreng terdapat proses panjang mulai dari penyusunan menu, pengadaan bahan baku, pemeriksaan kualitas, hingga pengolahan yang mengutamakan standar gizi dan keamanan pangan.
“Kami berharap masyarakat bisa lebih memahami bahwa penyediaan MBG bukan sekadar makan, tetapi ada proses panjang di balik penyediaan makanan yang bergizi, aman, dan tetap efisien,” pungkasnya. (awi/aje)
Link informasi : Sumber