Produk Unggulan Pacitan Belum Tergarap Optimal, Hampir Separuh Kebun Kopi Rusak
Pacitan (Beritajatim.com) – Potensi kopi sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Pacitan dinilai masih belum tergarap maksimal. Dari total sekitar 2.300 hektare kebun kopi yang ada, hampir separuhnya atau sekitar 900 hektare berada dalam kondisi rusak atau tidak terawat.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Muhtar Yahya, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam upaya meningkatkan produksi kopi daerah. Berdasarkan data DKPP, sekitar 600 hektare merupakan tanaman belum menghasilkan, 700 hektare telah berproduksi, sedangkan 900 hektare lainnya mengalami kerusakan.
“Rusak karena tanaman tidak dipetik atau dibiarkan. Pohonnya terlalu tinggi sehingga menjadi tanaman tua dan akhirnya tidak produktif,” ujarnya saat kegiatan Ngopi Bareng Nandur Dulur di Pendopo Kecamatan Tulakan, ditulis jumat (31/7/2026).
Menurut Muhtar, produksi kopi Pacitan selama periode 2021–2025 rata-rata hanya mencapai sekitar 400 ton kopi kering per tahun dari 700 hektare lahan produktif. Dengan capaian tersebut, produktivitasnya hanya sekitar 5,5 kuintal per hektare per tahun, masih di bawah potensi ideal yang bisa mencapai 8 kuintal per hektare apabila tanaman dirawat secara intensif.
“Kondisi itu menunjukkan masih besarnya ruang peningkatan produksi kopi di Pacitan,” tegasnya.
Di sisi lain, peluang pasar kopi dinilai masih sangat terbuka. Kebutuhan bahan baku kopi atau green bean dari perusahaan-perusahaan besar di Jawa Timur mencapai sekitar 55 ribu ton per tahun. Sementara itu, produksi kopi Jawa Timur saat ini mencapai sekitar 80 ribu ton dari total luas perkebunan 123.700 hektare.
Muhtar menyebut Pacitan berada di peringkat ke-12 sebagai daerah penghasil kopi di Jawa Timur berdasarkan luas lahan. Namun, produktivitasnya masih tertinggal dibanding rata-rata daerah lain.
“Artinya tanaman kopi di Pacitan belum dibudidayakan dengan baik. Padahal kopi sudah menjadi produk unggulan daerah dan peluang pasarnya masih sangat lebar,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPRD Pacitan, Arif Setia Budi, menilai kopi memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menggerakkan perekonomian daerah. Pihaknya mendorong penyuluh pertanian lapangan (PPL) lebih aktif memberikan pendampingan kepada petani agar produktivitas dan kualitas kopi Pacitan terus meningkat.
“Potensi kopi di Pacitan sangat besar. Kami akan mendorong PPL lebih aktif melakukan pemberdayaan dan pendampingan kepada petani agar kopi Pacitan mampu bersaing di tingkat nasional,” tandasnya. (tri)/aje)
Link informasi : Sumber