Warga Ngawi Gali Dasar Sungai Demi Air Bersih, Sumur Mengering Sejak Sebulan

0

Ngawi (beritajatim.com) – Krisis air bersih mulai melanda sejumlah warga Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, seiring musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Sumur-sumur warga mengering sehingga lebih dari 10 kepala keluarga (KK) terpaksa menggali lubang di dasar sungai untuk mendapatkan air bagi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut terjadi pada Jumat (31/7/2026). Warga mengaku telah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama sekitar satu bulan terakhir. Berkurangnya ketersediaan air membuat warga harus mencari sumber alternatif, termasuk memanfaatkan lubang-lubang yang mereka gali di dasar sungai.

Air dari lubang dasar sungai tersebut kemudian dibawa pulang untuk disaring terlebih dahulu karena kondisinya kotor. Setelah melalui proses penyaringan, air digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari minum, memasak hingga mandi.

Sutini, salah seorang warga, mengatakan kondisi air yang diperoleh dari dasar sungai tidak bersih sehingga harus disaring sebelum digunakan. Namun, kondisi sumur yang mengering membuat warga tidak memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

“Sampai rumah nanti disaring karena kotor sudah sebulan ini sulit air,” kata Sutini.

Warga lainnya, Parlan, mengatakan sumur-sumur milik warga sudah tidak lagi bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air. Kondisi tersebut membuat warga beralih mencari sumber air lain, termasuk menuju belik atau sumber air yang berada di sekitar aliran sungai.

“Sulit air mas sumur pada kering larinya ya kesini ke belik untuk bisa dapat air,” ujar Parlan.

Selain menggali lubang di dasar sungai, sebagian warga juga harus mencari air hingga ke sendang yang berada di tengah hutan. Cara tersebut dilakukan karena hingga Jumat (31/7/2026), belum ada bantuan air bersih yang datang ke Desa Kiyonten untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak kekeringan.

Kondisi ini membuat aktivitas warga semakin berat. Air yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar harus diperoleh dengan cara yang tidak mudah, terlebih bagi warga yang harus menempuh jarak cukup jauh untuk mencari sumber air alternatif. Air yang diperoleh dari dasar sungai pun tidak bisa langsung digunakan karena harus melalui proses penyaringan terlebih dahulu.

Krisis air bersih juga berdampak pada kebutuhan dasar rumah tangga. Warga membutuhkan pasokan air tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk memasak dan mandi. Ketergantungan terhadap sumber air yang terbatas berpotensi meningkatkan beban warga apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Kondisi kekeringan di Desa Kiyonten disebut bukan kali pertama terjadi. Setiap musim kemarau tiba, sejumlah warga di wilayah tersebut kembali menghadapi persoalan serupa. Ketika sumur warga mulai mengering, mereka harus mengandalkan sumber air alternatif untuk bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah desa segera memberikan bantuan air bersih. Bantuan tersebut dinilai penting untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau, sekaligus mengurangi ketergantungan warga terhadap sumber air yang kualitasnya belum tentu layak digunakan.

Ke depan, warga berharap distribusi air bersih dapat segera dilakukan secara rutin selama musim kemarau. Selain penanganan darurat melalui pengiriman air, diperlukan pula langkah jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan yang berulang, seperti pemetaan sumber air, penyediaan sarana penampungan, serta pengembangan akses air bersih yang dapat digunakan masyarakat ketika sumur warga kembali mengering. [fiq/aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.