UNESA Kenalkan Budaya Indonesia di Thailand Lewat Modul Culture Bridge

0

Ringkasan Berita:

  • Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jerman UNESA menggelar Pengabdian kepada Masyarakat di Kasetsart University, Bangkok, Thailand.
  • Kegiatan mengusung modul interaktif Culture Bridge untuk memperkuat kompetensi interkultural mahasiswa.
  • Peserta dikenalkan dengan bahasa, destinasi wisata, musik, dan tarian Indonesia, termasuk Tari Maumere.
  • Program ini menjadi bagian dari GIGCCI 2026 dan mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Bangkok (beritajatim.com) – Pemahaman budaya menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi lintas negara. Hal itu menjadi perhatian Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jerman, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kasetsart University, Bangkok, Thailand.

Kegiatan yang digelar pada Senin, 3 Agustus 2026, tersebut mengusung tema “Pelatihan Pembelajaran Budaya Jerman dan Indonesia melalui Modul Interaktif Culture Bridge terhadap Kompetensi Interkultural bagi Mahasiswa di Kasetsart University”. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Global Indonesia–Germany Culture and Communication Initiative (GIGCCI) 2026.

Kegiatan berlangsung di Kasetsart University, 50 Ngamwongwan Rd, Lat Yao, Chatuchak, Bangkok 10900, Thailand, dan diikuti 15 peserta yang terdiri atas dosen, staf, serta mahasiswa Kasetsart University. Kehadiran tim PkM UNESA disambut oleh Dr. Chamaipak Maiklad, Ph.D. dari Faculty of Humanities, Kasetsart University.

Tim PkM UNESA diketuai Dr. Dian Permatasari Kusuma Dayu, M.Pd., dengan anggota Drs. Ari Pujosusanto, M.Pd., Dr. Prima Vidya Asteria, S.Pd., M.Pd., Dwi Imroatu Julaikah, S.Pd., M.Pd., dan June Carmen Noya Van Delzen.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan menghadirkan tiga narasumber dengan materi yang saling melengkapi. Dr. Prima Vidya Asteria, S.Pd., M.Pd., menyampaikan pengenalan bahasa Indonesia dan penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari.

Sementara itu, Dr. Dian Permatasari Kusuma Dayu, M.Pd., memperkenalkan sejumlah kota dan destinasi wisata di Indonesia, khususnya yang berada di Pulau Jawa. Adapun Audrey Gabriella Titaley, S.Pd., M.Hum., memperkenalkan musik dan tarian Indonesia.

Sesi pengenalan budaya tersebut berlangsung secara interaktif. Para peserta bahkan diajak mengikuti Tari Maumere bersama-sama sebagai bagian dari pengalaman langsung mengenal seni dan budaya Indonesia.

Ketua Tim PkM UNESA, Dr. Dian Permatasari Kusuma Dayu, M.Pd., mengatakan pembelajaran bahasa asing seharusnya tidak dipisahkan dari pemahaman terhadap budaya yang melatarbelakanginya.

“Kami memandang bahwa pembelajaran bahasa asing perlu berjalan beriringan dengan pemahaman budaya. Penguasaan bahasa Jerman tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi secara linguistik, tetapi juga dengan kemampuan memahami nilai, kebiasaan, perspektif, dan karakteristik budaya yang melatarbelakangi penggunaan bahasa tersebut,” ujar Dian.

Menurut dia, pengenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa di Kasetsart University juga menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman sekaligus kesadaran terhadap keberagaman budaya.

Melalui modul interaktif Culture Bridge, peserta diajak mempertemukan perspektif budaya Jerman dan Indonesia. Pendekatan tersebut diharapkan membantu mahasiswa mengenali persamaan, perbedaan, serta nilai-nilai yang dapat menjadi jembatan dalam komunikasi lintas budaya.

“Modul Culture Bridge menjadi media untuk mempertemukan perspektif budaya Jerman dan Indonesia sehingga mahasiswa dapat mengenali persamaan, perbedaan, serta nilai-nilai yang dapat menjadi jembatan dalam komunikasi lintas budaya,” jelasnya.

Dian menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai budaya Jerman dan Indonesia. Lebih jauh, pembelajaran juga diharapkan membentuk kompetensi interkultural, termasuk keterbukaan terhadap perbedaan, kemampuan memahami perspektif budaya lain, dan sikap menghargai keberagaman.

Dengan pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berbasis pengalaman, bahasa dan budaya diharapkan dapat menjadi sarana membangun komunikasi yang lebih efektif sekaligus hubungan yang harmonis di lingkungan internasional.

Kegiatan PkM tersebut juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Program ini mendorong penguatan literasi bahasa dan budaya serta kompetensi komunikasi lintas budaya melalui pembelajaran yang inovatif, interaktif, inklusif, dan berorientasi pada pengalaman peserta.

Melalui kegiatan tersebut, UNESA berupaya memperluas ruang pembelajaran lintas budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dalam lingkungan akademik internasional. Penguatan kompetensi interkultural diharapkan dapat menjadi bekal mahasiswa untuk berkomunikasi secara lebih terbuka dan saling menghargai di tengah keberagaman masyarakat global. [fiq/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.