Lawatan Sejarah di Kediri Dikemas Lewat Fotografi dan Video, Generasi Muda Diajak Kenali Jejak Kolonial Pare

0

Ringkasan Berita

Disparbud Kabupaten Kediri menggelar Lawatan Sejarah dan Cagar Budaya Masuk Sekolah dengan konsep berbeda, yakni melalui lomba fotografi dan video reel.

Kegiatan dipusatkan di kawasan eks Karesidenan Pare yang memiliki banyak jejak sejarah kolonial, mulai dari industri gula, jaringan kereta api, hingga bangunan fasilitas umum.

Peserta diajak tidak sekadar mempelajari sejarah secara klasikal, tetapi turun langsung menyusuri dan mengabadikan peninggalan sejarah melalui kamera.

Disparbud menilai fotografi dan video reel lebih dekat dengan generasi muda yang sehari-hari menggunakan perangkat digital dan media sosial.

Sebanyak 101 peserta mengikuti lomba fotografi, dengan 30 peserta terbaik diundang dalam agenda awarding.

Ke depan, kegiatan serupa direncanakan menyasar kawasan sejarah lain di Kabupaten Kediri, termasuk eks Karesidenan Ngadiluwih dan eks Karesidenan Papar.

Kediri (beritajatim.com) – Sejarah tidak harus selalu dipelajari melalui buku maupun ruang kelas. Di Kabupaten Kediri, jejak masa lalu dikenalkan kepada generasi muda melalui kamera dan video.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri mengemas kegiatan Bulan Kemerdekaan melalui Lawatan Sejarah dan Cagar Budaya Masuk Sekolah dalam bentuk lomba fotografi dan video reel.

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan eks Karesidenan Pare tersebut mengajak peserta menyusuri berbagai peninggalan sejarah masa kolonial sekaligus mengabadikannya melalui karya visual. Pendekatan ini diharapkan membuat sejarah lokal lebih dekat dan menarik bagi generasi muda.

Kepala Bidang Sejarah, Cagar Budaya, dan Permuseuman Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priatno, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat berbeda dari lawatan sejarah sebelumnya yang lebih banyak dilakukan secara klasikal.

“Jadi kegiatan ini harapannya akan menambah kawasan sejarah bagi masyarakat khususnya di wilayah Pare dan sekitarnya. Jadi kita mencoba membuat format baru terhadap lawatan sejarah dan cagar budaya masa sekolah yang awalnya klasikal, kita coba mengajak para peserta untuk aktif aktif melakukan kegiatan dan kita mencoba melokalkan sejarah lokal,” jelasnya saat ditemui di sela-sela kegiatan pameran dan lomba fotografi, Selasa (11/8/2026).

Menurut Eko, Kabupaten Kediri masih memiliki banyak cerita sejarah lokal yang perlu diangkat dan dikenalkan kepada masyarakat. Sejarah tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan perkembangan kawasan serta kehidupan masyarakat hingga saat ini.

“Jadi banyak cerita-cerita sejarah lokal yang butuh kita tampilkan, kita tumbuhkan. Untuk apa? Sekali lagi untuk menumbuhkan semangat kecintaan terhadap Indonesia, khususnya Kediri dan lebih khusus lagi Pare dan sekitarnya,” ujarnya.

Pemilihan Pare sebagai lokasi kegiatan juga memiliki alasan historis. Kawasan tersebut menyimpan berbagai jejak perkembangan ekonomi dan infrastruktur sejak masa kolonial.

Eko menjelaskan, setelah diberlakukannya Undang-Undang Agraria 1870, sejumlah industri berkembang di wilayah Kediri. Pare menjadi salah satu kawasan yang turut mengalami perkembangan tersebut, terutama dengan tumbuhnya industri gula dan jaringan transportasi kereta api.

Sejumlah peninggalan masa kolonial masih dapat ditemukan di kawasan tersebut. Di antaranya eks Stasiun Kediri Stoomtram Maatschappij, jejak bekas pabrik gula di wilayah Badas, serta sejumlah bangunan fasilitas umum.

Di Tulungrejo, misalnya, masih terdapat bangunan rumah sakit yang berkaitan dengan Ziekenhuis dan Handle Vereeniging Amsterdam (HVA).

“Jadi banyak peristiwa-peristiwa yang memang pantas dan wajib kita lestarikan dan kita teruskan informasi kepada generasi muda kita,” jelas Eko.

Menurutnya, pelokalan sejarah menjadi salah satu cara untuk membuat masyarakat lebih mudah memahami perjalanan daerahnya. Cerita sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai pengetahuan masa lalu, tetapi juga dikaitkan dengan lingkungan yang mereka kenal sehari-hari.

Karena itu, fotografi dan video reel dipilih sebagai media penyampaian sejarah. Eko menilai pendekatan tersebut sesuai dengan kebiasaan generasi muda yang semakin dekat dengan perangkat digital dan media sosial.

“Jadi dunia digital adalah sebuah keniscayaan. Kita ajak teman-teman generasi muda memanfaatkan gadget-gadget yang mereka punya untuk berekspresi dengan latar belakang sejarah. Contoh dengan cara membuat reel, dengan fotografi melalui media-media eh yang sekarang sudah populer di media sosial,” terangnya.

Staf Bidang Sejarah, Cagar Budaya, dan Permuseuman Disparbud Kabupaten Kediri, Lala Amelia, mengatakan lomba fotografi terbuka bagi masyarakat umum maupun pelajar.

Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah kawasan eks Karesidenan Pare, meliputi Distrik Pare, Kecamatan Badas, dan Kecamatan Kepung.

“Jumlah keseluruhannya itu 101, tapi yang diundang di award ini ada 30 besar,” katanya.

Untuk menentukan karya terbaik, panitia menetapkan sejumlah kriteria penilaian. Di antaranya kesesuaian karya dengan tema kolonial, kekuatan narasi yang dibangun melalui foto, serta aspek visualisasi.

Peserta yang berhasil masuk 30 besar kemudian mengikuti agenda awarding. Selain pengumuman pemenang, kegiatan tersebut juga diisi dengan pembahasan mengenai sejarah Kota Pare dan materi teknik fotografi.

Lala mengatakan kegiatan serupa diharapkan dapat kembali digelar dengan cakupan kawasan yang lebih luas. Tidak hanya Pare, Disparbud berencana mengeksplorasi kawasan sejarah lain di Kabupaten Kediri, termasuk eks Karesidenan Ngadiluwih dan eks Karesidenan Papar.

“Pasti ke depannya akan penginnya akan diadakan lagi dan lebih besar dari yang ini. Terus nanti kita juga mau ke kecamatan lain-lain, enggak cuma di Pare saja. Nanti juga ngajak komunitas lain yang ada di kecamatan-kecamatan lain,” ujar Lala.

Melalui pendekatan kreatif tersebut, Disparbud Kabupaten Kediri berharap sejarah lokal tidak berhenti sebagai informasi yang tersimpan dalam buku atau bangunan peninggalan masa lalu. Jejak sejarah diharapkan dapat diolah menjadi konten visual yang menarik, edukatif, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan budaya daerah. [nm/aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.